Memupus Dendam Masa Silam Kisah sejati yang menyentuh. Karya pertama penyutradaraan Denzel Washington ini tidak mengecewakan. |
Antwone Fisher
Pemain: Derek Luke, Joy Bryant, Denzel Washington
Produksi: Fox Searchlight Pictures, 2002
Sutradara: Denzel Washington
Penulis skenario: Antwone Fisher
Sebetulnya Antwone Fisher (Derek Luke) kelasi yang baik. Namun, amarahnya gampang sekali tersulut. Olok-olok kecil saja sudah bisa membuatnya meledak. Perangai ini membuat pelaut muda kulit hitam itu dikirim ke psikiater perwira bernama Dr. Jerome Davenport (Denzel Washington). Alih-alih bekerja sama, Fisher malah memilih membisu berminggu-minggu. Meskipun enggan, akhirnya Fisher membuka mulut setelah tahu tak ada jalan untuk menyudahi sesi yang menyiksanya ini selain bicara.
Percakapan berjalan tersendat. Namun, lambat-laun arahnya bergulir menuju ke satu titik: asal-muasal amarah yang menjelujur dalam diri Fisher. Pelacakan ke sumber masalah dan bagaimana si pemuda pemberang mengatasi kesulitannya dengan bimbingan terapis inilah yang menjadi bangunan utama film Antwone Fisher, debut penyutradaraan aktor pemenang dua Academy Award, Denzel Washington.
Sepintas, plot film Antwone Fisher mirip Good Will Hunting, yang naskahnya ditulis dua bintang muda berbakat Hollywood, Matt Damon dan Ben Affleck (keduanya memperoleh Oscar untuk penulisan skenario film ini). Terilhami? Tampaknya tidak tepat demikian, karena Antwone diangkat dari kisah nyata Antwone Fisher, yang dalam film ini bertindak selaku penulis skenario.
Kisah di balik pembuatan film juga luar biasa. Fisher adalah penjaga keamanan di studio Sony, Hollywood, ketika naskahnya menarik perhatian para produser. Denzel Washington, antara lain, begitu terkesan sehingga memilihnya untuk dijadikan karya pertamanya. Derek Luke, pendatang baru, dipilih setelah menyisihkan belasan aktor lain yang lebih berpengalaman. Ternyata Luke adalah kawan Fisher dalam kehidupan sebenarnya. Namun, Luke tak mau menyebutkan hal ini selama pembuatan film karena tak mau merusak peluangnya.
Tentu saja, sebagaimana "kisah nyata" ala Hollywood lainnya, ada dramatisasi dan pengembangan karakter di sana-sini dalam Antwone yang beredar di Indonesia dalam bentuk VCD/DVD ini. Misalnya, plot paralel yang berkisah tentang kehambaran rumah tangga Davenport. Bagian ini terasa dipaksakan dan sangat mengganggu.
Tanpa perlu dipaparkan secara rinci di sini, kepahitan Fisher digambarkan berlapis-lapis dalam film. Yang paling membuatnya sengsara, ia merasa sebatang kara karena tak mengenal orang tua kandungnya. Titik balik dalam hidupnya dimulai ketika ia menjalani terapi dan bertemu wanita prajurit Cheryl Smolley (Joy Bryant). Agar Fisher bisa berdamai dengan dirinya sendiri, Davenport menyarankan pemuda itu mencari anggota keluarganya. Awalnya, Fisher menolak. Namun, akhirnya, setelah ditemani kekasih barunya, ia bersedia.
Dalam film Antwone Fisher, adegan pertemuan Fisher dengan bibi, paman, dan ibu kandungnya sangat kuat dan mampu menyeret emosi. Peran ibu Fisher dimainkan aktris Viola Davis, yang sebelum film ini keluar tahun lalu muncul sebagai tokoh pembantu rumah tangga dalam Far from Heaven dan psikiater stasiun angkasa luar dalam Solaris. Sulit dipercaya bahwa ia adalah pemain yang sama. Dalam Antwone, ia hampir-hampir tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, gerak tubuhnya kala gemetar, dan bulir air matanya yang jatuh, meninggalkan kesan yang kuat.
Akting Washington sendiri, seperti biasa, menawan. Tapi porsi pujian yang lebih besar tampaknya harus dialamatkan pada perannya di balik kamera. Washington terlihat sangat pintar menangani para aktornya, terutama Luke, yang bermain bagus dalam film ini. Sedikit kelemahan barangkali ada pada penanganan para pemain anak-anak. Namun, mengarahkan anak-anak memang bukan persoalan mudah.
Akhir film ini memang terasa antiklimaks dan terlalu "bergula". Namun, rasa haru yang telah terhela membuat hal ini bisa dimaklumi. Rasa haru ini muncul bukan karena paparan kesedihan, melainkan karena laku kebaikan yang ditunjukkan tokoh utamanya. Kepahitan masa silam telah menyemaikan dendam di hatinya. Tapi ia memilih untuk memupusnya.
Yusi Avianto Pareanom
|