Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXII/24 - 30 November 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Dia yang Tak Mau Mengelabui Nasabah

Seorang eksekutif di pasar modal putus asa dan memutuskan bunuh diri. Masih dalam setelan jas dan dasi, ia meloncat dari ketinggian gedung. Alangkah kagetnya, ketika di tengah aksi "terjun bebas" itu, ada yang berteriak dari jendela, "Good news! The market just rebounded!" Teriakan ini melaporkan bahwa pasar telah pulih kembali.

Drama di angkasa itu tentu bukan kejadian sebenarnya karena ia tak lebih dari guntingan karikatur yang ditempelkan Presiden Direktur PT MeesPierson Finas Investment Management, Izakia Mahdi, di ruang kerjanya. Tak pelak lagi, karikatur itu mencerminkan kerasnya gejolak di pasar modal. Pesannya sederhana: jangan buru-buru bunuh diri bila terbentur jalan buntu.

Prinsip percaya diri itulah yang ditonjolkan Izakia, pengusaha blasteran Belanda-Indonesia, pemimpin perusahaan pengelola reksadana terbesar di Indonesia. "Risiko investasi memang lebih besar karena pasarnya belum dewasa," kata ibu seorang putri bernama Rianna ini.

Lantas, apa yang membuatnya betah di sini? Salah satunya, tentu jumlah uang yang dikelolanya sebesar Rp 21,146 triliun—95 persen di antaranya terdiri dari reksadana. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) sendiri melansir bahwa MeesPierson menguasai pangsa reksadana 22,13 persen—dua kali lipat dari rivalnya, Panin Sekuritas.

Di gelanggang reksadana, Izakia bukanlah muka baru. Sebelum ditugasi di Indonesia, ia telah lebih dulu mengelola reksadana emerging market di ABN-AMRO Asian Tigers Fund, Belanda, selama 12 tahun. Di sana ia menangani dana US$ 1 triliun yang diinvestasikan dalam saham-saham Asia—kecuali Jepang.

Pengalamannya yang segudang membawanya bertugas di Indonesia sebagai Kepala Unit Pasar Modal ABN-AMRO Bank (1995). Setahun berikutnya, ia dipindahkan ke MeesPierson (masih milik ABN-AMRO) sebagai presiden direktur. Pada 1997, perusahaan yang ia pimpin beralih ke Fortis Grup, salah satu bank terkemuka di dunia.

Ketika krisis menerpa Indonesia, Izakia akan ditarik kembali ke Belanda. Namun, ia bersikeras untuk bertahan di sini. "Krisis atau tidak krisis, uang itu selalu harus dikelola. Jadi, kita harus bisa cari kesempatan dalam kesempitan," begitu alasannya. Ia pun mengusulkan peluncuran produk reksadana. Katanya, produk itu merupakan terobosan di era krisis moneter. Melalui reksadana, seseorang dapat berinvestasi dengan tingkat return yang tinggi, tapi dana bisa ditarik kapan saja. Dan reksadana juga bebas pajak. Mendengar ini, kantor pusat tergugah. "Oke, kamu dapat satu tahun untuk membuktikannya," demikian keputusan bos Fortis.

Karena tak memiliki jaringan distribusi, Izakia sempat ingin bekerja sama dengan bank-bank lokal. Tapi, kondisi perbankan yang masih payah membuatnya beralih ke bank asing, yaitu AMEX. "Padahal mereka hanya punya satu kantor cabang di Jakarta," tuturnya mengenang.

Reksadana itu akhirnya diluncurkan. Di luar dugaan, produk itu laku keras dan menguasai pasar. MeesPierson bahkan berhasil menghimpun dana hingga Rp 1 triliun lebih. "Waktu itu pasar reksadana sekitar 3 triliun. Kalau ada satu yang bisa mencapai satu triliun, itu kan gila-gilaan!" ujar Izakia sambil tergelak.

Setelah itu, segalanya tampak mulus. Namun, batu sandungan justru harus dihadapinya pada penghujung tahun ini. Kepanikan investor akibat turunnya harga obligasi yang berimbas pada rendahnya nilai aktiva bersih (NAB) mengakibatkan penarikan dana besar-besaran (redemption)—sekitar Rp 2 triliun. Harga obligasi pun anjlok.

Menghadapi gelombang ini, Izakia berusaha menenangkan kliennya. Dijelaskannya bahwa harga obligasi turun sebagai akibat tekanan jual, sedangkan aspek fundamental—seperti suku bunga dan peringkat utang negara—tak terganggu. Toh, ia tak berhasil merebut kepercayaan kliennya.

"Ya, mereka tidak mengerti. Kita bilang secara fundamental tidak apa-apa, langsung dijawab, 'Ibu bisa jamin enggak ini enggak akan turun?' Ya, enggak bisa, dong. Emang saya Tuhan? Tapi, kalau kita semua tenang, ini semua (anjloknya harga obligasi) tak akan terjadi," tuturnya.

MeesPierson juga dituding tak becus karena menggunakan metode marked to market, yang membuat NAB-nya turun, sementara NAB perusahaan lain menanjak. Akhirnya, Izakia terpaksa merelakan sebagian nasabahnya pergi. "Apakah untuk mencegah berkurangnya nasabah, kita harus mengelabui?" ia mempertanyakan.

Bagaimanapun, kantor pusat mendukung keputusannya untuk menggunakan metode marked to market, tak lain karena metode itu sesuai dengan standar internasional. Karena itu pula, permintaannya meminjam dana US$ 100 juta untuk berjaga-jaga diluluskan Fortis. Namun, dana itu tak sempat dipakai karena semua uang nasabah sudah bisa dibayar.

Setelah badai redemption, Izakia tetap optimistis produk reksadana bisa lebih berkembang, seiring dengan kian dewasanya para investor. "Mungkin ini sedikit blessing in disguise, saya kena batunya. Tapi saya kuat, karena satu hal, saya tidak mengelabui nasabah," tuturnya, penuh percaya diri.

Dara Meutia Uning


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data