Anand dan Tari Gasing Rumi Padepokan Anand Krishna dan kelompok Cilay menggelar pertunjukan tari sufi. Ada sejumlah kelemahan di pentas, tapi itulah ikhtiar untuk menunjukkan ajaran Rumi relevan sepanjang zaman. |
DUA malam berturut-turut, 6-7 November, Dewan Kesenian Jakarta TIM rnenyuguhkan acara yang terhitung jarang. Dua grup yang berbeda, Cilay Dance Theater dan Anand Ashram, bergantian menampilkan tari sufi pada malam pertama dan kedua. Bahan garapan sama, tari para pengikut Tariqat Maulawiya di Turki yang dicipta oleh sufi dan penyair Persia kesohor, Jalaluddin Rumi (1207- 1273). Tapi motif dan penafsiran berbeda. Gerak tari sufi ini berputar-putar seperti gasing, dan orang Eropa menyebutnya The Whirling Dervish. Ia menggambarkan gerakan ekstase planet-planet di angkasa raya mengedari sumbunya, matahari. Planet-planet lambang jiwa manusia yang banyak, dan matahari adalah lambang hakikat wujud yang satu.
Cilay Dance Theatre tampil dengan garapan baru: gabungan tari gasing Rumi dengan unsur-unsur balet, kathakali lndia, dan pencak silat Nusantara. Para santri padepokan meditasi Anand Ashram, pimpinan Anand Krishna, tampil beda. Tidak berpamrih menyuguhkan karya seni seperti Cilay, tapi sekadar berbagi rasa damai dengan menonton melalui sebuah tarian yang selama ini dijadikan sarana meditasi di padepokan.
Setidak-tidaknya ada dua paket yang ingin dibagi rasa dengan penonton. Pertama, Rumi mengajarkan bahwa perdamaian di dunia ini dapat tercipta melalui jalan Cinta ('Isyq). Cinta sejati menembus dinding perbedaan ras, bangsa, etnis, dan agama formal. Ini tentu relevan untuk disampaikan kepada penduduk negeri yang selama beberapa tahun terakhir dilanda banyak konflik etnis dan agama. Maka, Anand Krishna menamakan paket pertunjukannya sebagai 'Isyqi Ibadat, cinta sebagai ibadah. Bendera besar merah-putih pun dipasang sebagai layar pada paket pertama pertunjukan. Kedua, tari Rumi dapat dijadikan sarana meditasi dan kontemplasi yang ampuh. Dan padepokan ini telah mempraktekkannya selama tiga tahun terakhir.
Tetapi, untuk melihat acara utama, penonton harus menunggu lama. Sajian pendahulu sebagai bumbu acara bermula dengan selawat, tontonan tari India, dan bacaan ayat suci. Namun, narasi yang dibaca terasa agak verbal. Penonton baru terhenyak setelah acara inti bermula. Alunan musik suling Rumi yang riuh rendah berpadu dengan gendang khas Turki, betul-betul memberi suasana khusyuk. Orang yang pernah membaca buku Rumi, Matsnawi-i Ma'nawi, pasti akan teringat baris-baris awal mukadimah buku itu: "Dengar lagu seruling bambu, menyampaikan kisah pilu perpisahan/ Tuturnya, 'Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu/ Ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh/ Kuingin dada cabik dan koyak disebabkan rindu dan keterpisahan/...Riuhnya suara ruling ialah kobaran api.../ Inilah api Cinta yang bersemayam dalam suling bambu.. "' Lagi ujar Rumi, "Nada suling dan puput yang menawan telinga/ Dari putaran cakrawala biru asalnya...0, Musik adalah hidangan sejati para pencinta/ Kalbu tergetar dan jiwa terbang bersamanya ke angkasa raya..."
Begitulah, tanpa terasa penonton memperoleh sajian yang memikat, walaupun bukannya tanpa cacat. Anand Krishna mernang tidak perlu tunduk pada pakem koreografi yang asli dan juga dapat memberi tafsir dan konteks tersendiri terhadap ajaran Rumi. Ia tidak perlu menyuruh penari-penarinya memakai jubah besar para pengikut Tariqat Maulawiya, yang bila dipakai menari akan berubah seolah-olah menjadi sayap-sayap para malaikat yang memenuhi angkasa raya. Santri-santri Anand Ashram, kebanyakan wanita, cukup memakai baju muslim Melayu yang berwarna-warni. Dengan begitu, kesan keceriaan dan kekhusyukan yang ingin dibagi menjadi berbeda. Tetapi, yang luput dari sentuhan Anand Ashram ialah pentingnya puisi-puisi Rumi yang indah dan menukik dalam, dengan pesan kerohanian dari tariannya tersimpul jelas. Jika puisi-puisi Rumi itu ikut dibacakan, tidak perlulah Anand Krishna mengucapkan aba-aba dari balik layar bak pelatih senam irama —sesuatu yang cukup mengganggu. Zikir yang dilantunkan juga kelewat sederhana dan artifisial, belum dihayati maknanya secara cukup mendalam.
Namun, upaya Anand Krishna patut dipuji, begitu pula ikhtiarnya untuk menunjukkan bahwa ajaran Rumi relevan sepanjang zaman. Selain itu, melalui pertunjukan ini, sang Yogi telah berhasil menunjukkan dirinya sebagai representasi dari banyak orang India (mungkin juga Jawa), yang mempunyai kecenderungan sinkretik kuat. Unsur-unsur ajaran berbagai agama dan kerohanian yang selaras ingin dirangkum jadi satu, dijadikan landasan untuk menciptakan sebuah bentuk spiritualitas baru.
Abdul Hadi W.M.
|