Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Seni Rupa

Seperti Kata Pepatah Latin

Juri mengumumkan pemenang Indofood Awards 2003. Pameran diadakan di Galeri Nasional, Jakarta.

Kanvas itu bagai rajutan serat. Baris-baris motif ukelan Bali dengan rapi berepetisi rapat bak tenunan. Lalu, ada sebatang kayu berujung bundar berusaha menonjol keluar. Karya abstrak I Wayan Suklu (Sujana dari Klungkung), Menembus Labirin, Menggelinding Mengempas Dinding, di Galeri Nasional itu mengingatkan pada karya Suklu berjudul Pertemuan di Philip Morris Indonesia Art Award (PMIAA) 2003, September lalu.

Keduanya senapas, bahan campuran dari rotan, cat akrilik, aluminium, hanya beda motif dan warna. Dewan juri Indofood Art Awards memujinya sebagai "sebuah imajinasi kehidupan Indonesia yang terjebak dalam labirin dan kemudian terbebas tahun 1998…." Akan halnya dewan juri PMIAA menilai " karya ini benar-benar sebuah pengucapan mantra dan pencapaian ekstase imani".

Indofood Art Awards 2003 membuktikan bahwa pepatah Latin de gustibus non est disputandum (masalah selera tidak dapat diperdebatkan) masih berlaku. Dua karya serupa bisa mendapat tafsir jauh berbeda. Menarik, harus dicermati, setelah Indonesia memiliki banyak kompetisi seni rupa (kompetisi Trienal Grafis Indonesia, serta CP Open Bienalle dan Bienalle Yogya untuk non-lomba). Tiap-tiap dewan juri dan kurator memiliki cita rasa sendiri.

Indofood Art Awards (IAA) adalah kompetisi yang mencanangkan tempat kulminasi bagi para perupa yang setia pada bingkai lukis konvensional." Kami mencari karya-karya di atas kanvas yang betul-betul matang, perfek, beres dari proses eksperimen," kata kritikus Agus Dermawan T., penggagas IAA. Ini yang membedakan dengan PMIAA. yang memberi ruang pada karya berpotensi eksperimen. Istilah Agus, sementara PMIAA "menjunjung proses yang sedang berlangsung", IAA "menangkap hasil akhir dari proses itu".

Dari 2.800 karya, dewan juri Srihadi Soedarsono, Oei Hong Djien, Taufiq Ismail, Agus Dermawan T., dan Dwi Marianto memilih 11 lukisan terbaik. Memunculkan karya mengesankan, seperti karya Ronald Manulang, Ritual Before Election Day. Tapi, menarik memperbandingkan nominasi antar-kompetisi. Ada 13 finalis IAA yang juga finalis PMIAA, tapi berbeda nasib. Karya Suklu, yang meraih predikat terbaik di IAA, hanya masuk kategori sepuluh besar di PMIAA.

Karya Paul Hendro Nugroho berjudul Semua Hanya Anugerah-Nya di PMIAA. Sedangkan Demo Crazy of Banana Republic dari pelukis yang sama hanya menjadi finalis di IAA. Ratapan Ibu Pertiwi karya Agung Hanafi Purboaji di IAA menjadi pemenang utama kategori simbolis, sementara karyanya Kereta Tak Berkuda di PMIAA menjadi finalis. Karya Yayat Surya, akrilik di atas kanvas berjudul Aura Perubahan, menang dalam kategori abstrak di IAA. Sedangkan karya Yayat yang lain, Globalienation of Change, di PMIAA hanya menjadi finalis.

Ini menunjukkan bahwa produk seniman—walau dibuat di tahun yang sama—relatif secara estetis. Di satu kompetisi, karya itu dianggap bagus. Di kompetisi yang lain kurang, tergantung perspektif. "Karya Hendro yang di PMIAA lebih bagus daripada yang di Indofood," kata Agus Dermawan. Apalagi dewan juri IAA bersikap tegas. Lima Tahun Reformasi Indonesia yang canggih disingkirkan karena tak memenuhi tema, sementara selera juri atas reformasi cenderung metafora, bukan berbau kritik politik tajam.

Karya Melodia, seorang tukang becak mendengkur di becaknya dengan latar lembar rupiah, berjudul Mimpi-Mimpi yang Tertunda, meraih predikat terbaik. Yang menjadikannya juara menurut juri adalah deskripsi tematiknya tepat. IAA tahun lalu tanpa pengkategorian. Ketika diiklankan di koran, lomba tahun ini dibagi dua: representasional dan non-representasional. Namun, mempertimbangkan pelbagai masukan, ia dibagi menjadi abstrak, simbolis, representasional. Tahun depan, malah bisa kategorinya ditambah.

Kompetisi seni lukis bukan lomba silat. Tak ada jawara sejati. Semakin banyak kompetisi, semakin banyak kategori, semakin saling melengkapi. Sebagian juri, Srihadi Soedarsono, M. Dwi Marianto, Fuad Hassan, Agung Rai (dua yang terakhir juri di IAA pertama), pernah juga menjadi juri PMIAA. Namun, berbeda forum, mereka bekerja dengan konsep penilaian yang berbeda, hingga hasilnya juga berbeda (meski tafsir subyektif tak mungkin hilang, seperti perbedaan tafsir karya Suklu di atas). Yang dibutuhkan adalah seleksi yang ketat, tanpa ampun, sesuai dengan visi tiap-tiap kompetisi. IAA tampaknya melebarkan sayap. Tahun depan, kompetisi ditambah dengan lomba seni patung. Semoga seru, karena ini baru pertama kali.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data