Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Seni

'Kudu' Melongok dari Balik Kardus

Arca Kudu di Candi Bima, Dieng, yang raib ditemukan kembali. Pencurinya masih misteri.

Kardus lusuh bekas dispenser itu tergeletak di balik belukar. Ter-bengkalai di alam bebas, sosoknya menarik perhatian. Dan benar saja. Sebongkah batu berbentuk kepala manusia menyembul dari balik dus yang diikat tali rafia seadanya itu. Para penjaga situs Dieng yang menemukannya senin pagi pekan lalu segera saja mengenalinya. Kepala arca itu bagian dari Arca Kudu, yang raib dicuri empat hari (31 Oktober) sebelumnya dari Candi Bima, Dieng, Jawa Tengah.

Arca itu ditemukan di sisi Telaga Warna atau satu kilometer dari Candi Bima. "Para penjaga menemukannya secara tidak sengaja di sana saat patroli," ujar Haryanto, Kepala Pengelola dan Pemeliharaan situs Dieng, kepada TEMPO.

Entah kenapa pencurinya meninggalkan begitu saja di sana. Haryanto sendiri mengaku sebelumnya sempat mendatangi paranormal untuk mencari keberadaan arca itu. Paranormal dari Desa Sapen, Dieng, itu mengatakan arca Kudu belum beranjak dari Dieng. Arca ditemukan, pencuri raib.

Sayangnya, kondisi arca saat ditemukan sudah sangat rusak. Jelas sekali bongkah kepala arca itu dicongkel paksa dari Candi Bima. Raut wajah arca carut-marut tak jelas lagi. Bagian belakang kepala bopak tak beraturan.

Mahkotanya tak utuh lagi. Demikian juga, bagian leher hingga dadanya hilang. Padahal sejatinya arca dari batu andesit itu punya dua bagian. Bagian atas berupa mahkota, sementara bagian bawah berupa wajah manusia hingga sebatas dada.

Pencongkelan itu sendiri terjadi hanya dalam tempo empat jam, sesaat setelah para penjaga situs melongok pada pukul 18.00, dan sesaat sebelum mereka kembali berpatroli pada pukul 10 malam ke Candi Bima. Para penjaga menemukan bekas tapak dan serpihan batu di dasar candi. "Begitu kami sorot ke atas dengan lampu senter, candi sudah bolong," ujar Suparno, salah satu petugas jaga yang menemukan arca itu tercuri, kepada TEMPO.

Candi Bima, terutama dinding selatan tempat arca itu tertatah, pun tak kalah rusaknya. Menyisakan rongga dinding hingga ke lapisan dalamnya. Belum lagi susunan batu candi yang turut ambrol.

Hal ini karena arca tersebut dicongkel dengan pahat batu dari bingkainya yang menyerupai jendela. Dalam mencongkelnya pun si pencuri harus memanjat. Dia lalu harus berpegangan dan bertelekan pada susunan batu lain. Ini bukan perkara mudah mengingat, selain dinding candi hampir tegak lurus, ketinggiannya dari tanah mencapai 6 meter. "Minimal dia punya keahlian memanjat tebing, dan lebih dari satu orang," ujar Haryanto.

Kasus pencurian Arca Kudu itu sendiri menggenapi empat pencurian sebelumnya sejak direnovasi pada tahun 1979. Dua tahun setelah renovasi tahun 1981, arca kudu pertama dicuri. "Kemudian tahun 1984, 1991, dan tahun 1999. Terakhir kemarin tanggal 31 Oktober," kata Haryanto, yang mulai bertugas di situs Dieng sejak 1974. Modusnya selalu sama. Panjat, congkel paksa.

Dari semua kasus pencurian itu, hanya satu yang ketahuan pencurinya, yaitu pada tahun 1991. Saat itu Arca Kudu sempat "piknik" hingga Singapura dan hinggap di tangan seorang kolektor. Untungnya, si kolektor sadar, barang yang diterimanya adalah barang curian dari situs purbakala. Melalui Kedutaan Besar RI di sana, ia mengembalikan Arca Kudu. Pencurinya diusut melalui jaringan penadahnya.

Setelah setahun pengusutan, baru ketahuan bahwa pencurinya Mahmudin, seorang guru sekolah dasar di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. Segera saja dia diciduk, dan saat itu ia ditahan hingga enam bulan lamanya.

Adakah kemungkinan ia mengulangi lagi perbuatannya kini? Masih gelap. Setelah kasus itu, Mahmudin menghilang ditelan bumi. Profesi sebagai guru SD ditinggalkannya. Demikian pula rumahnya. TEMPO, yang sempat me-ngunjungi tempat tinggalnya di Desa Sembungan, mendapati rumah itu kosong. "Pak Mahmudin hanya datang beberapa kali setahun," ujar Wirah, 60 tahun, tetangga Mahmudin. Keduanya jarang bertemu.

Sementara itu, pada pencurian tahun 1999, pencurinya—yang tidak ketemu—selain merusak dinding Candi Bima dan arcanya, juga merusak gapuranya. Dan hingga kini ia tidak ketahuan rimbanya. Apa boleh buat. Hingga kini, dari 24 Arca Kudu yang ada, tersisa tujuh saja. Sisanya hancur oleh waktu, alam, dan tangan jahil manusia. Alam juga menghancurkan bagian puncak candi, yang kini tinggal reruntuhan.

Padahal Arca Kudu di Candi Bima sendiri termasuk paling langka. Boleh dikatakan, sosoknya semata wayang di Indonesia. Buku Ancient Indonesian Art menyebut Candi Bima dipengaruhi gaya arsitektur candi dari India Selatan. Terutama tampilan arca-arca Kudu pada setiap sisi dinding candi. Arca Kudu di Candi Bima berjumlah mencapai 24 buah. Di antaranya ada yang berbentuk kaki kuda, vas, dan keba-nyakan berwujud kepala manusia.

Di Candi Bima, berbagai arca berbentuk manusia bermahkota sebatas dada itu menyembul dari dinding, lewat bingkai, menyerupai jendela-jendela candi. Mereka diibaratkan penghuni candi yang melongok dari bingkai jendela ke arah luar. Arca kudu ini hanya terdapat pada Candi Bima.

Keunikan lain, di antara berbagai candi di situs Dieng, Candi Bima merupakan yang tertinggi sekaligus terbesar. Tingginya mencapai 13 meter, dengan lebar masing-masing sisinya sekitar 4 meter. Dibanding tujuh candi lainnya yang ada di Dieng, Candi Bima mempunyai bentuk yang khas. Sosok bangun-an candi ini, menurut buku Ancient Indonesian Art, dipengaruhi campuran dua gaya arsitektur utara dan selatan India.

Kini, dari tujuh candi yang ada di situs Dieng, Candi Bima yang mengalami kerusakan paling berat. "Tapi kami bisa apa? Tenaga kami saja sedikit," ujar Haryanto kepada TEMPO. Di situs yang terletak di dataran tinggi dan berbukit-bukit seluas 101 hektare itu, mereka hanya mempekerjakan 19 pegawai: 9 petugas jaga dan 10 petugas pemelihara. Petugas jaga ini juga tidak bisa berpencar dalam bekerja. Setiap harinya mereka selalu bertiga berkeliling situs. "Mereka takut, karena kalau malam tempat ini sangat gelap," ujar Haryanto.

Hal inilah yang menurut Haryanto membuat pengawasan tiap candi kurang maksimal. Apalagi para penjaga tidak dibekali kendaraan, minimal sepeda onthel, untuk berkeliling dari satu candi ke candi lain yang jaraknya berjauhan. "Bahkan radio komunikasi kami satu-satunya kini rusak," ujar Haryanto. Ditambah lagi, kini situs Dieng sudah berbaur dengan permukiman penduduk. Hal ini bisa jadi yang menyebabkan kasus-kasus pencurian selalu berulang.

Dan kini Arca Kudu yang ditemukan itu terbengkalai begitu saja di Kantor Pengelolaan dan Pemeliharaan Situs Dieng. Menurut Haryanto, kepala arca itu tidak bisa lagi dipasang di Candi Bima. Itu berarti dia tak bisa lagi melongok dari balik "jendela" candi. Cukup dari balik boks kardus pencuri.

Endah W.S., Syaiful Amien (Dieng)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data