|
SEBELAS aktivis organisasi bawah tanah Jamaah Islamiyah (JI) kabur dari Filipina ke Indonesia. Inilah pengakuan baru Taufik Rifki, bendahara JI tangkapan aparat keamanan Filipina. Demikian Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Polisi Erwin Mappaseng, setelah bertemu Komisi II DPR di Senayan, Selasa pekan lalu.
Menurut Rifki, mereka yang "mudik" itu adalah Anwar Hudaya, Ibnu Toha, Ibrahim, Ibnu Sunu, Usman, Abu Farhan, Mustofa, Zubair, Zulkifli, Mustaqin, dan Andi Aiz. Menurut Rifki, yang mengaku sebagai angkatan pertama Kamp Hudaibiyah—tempat Mustofa, tersangka pemilik laboratorium bom di Semarang, menjadi instrukturnya—ada 28 lainnya yang masih bergerilya di hutan Filipina. Lulu dan kawan-kawan, empat anak buah Mustopa yang ditangkap di Perumahan Taman Sri Rejeki, Semarang, semuanya alumni Moro.
Kepada perwira Direktorat Anti-Teror Mabes Polri yang sejak awal November berada di Manila, Rifki menyebut dirinya bendahara Wakalah Hudaibiyah, Mindanao, Filipina Selatan. Dalam struktur JI, Wakalah ini di bawah Mantiqi III yang diketuai Zulkifli, yang telah pula menyusup ke Indonesia.
Diduga, Zulkifli adalah nama lain dari M. Nazir Abbas, kakak ipar Ali Gufron alias Muchlas, salah satu tersangka utama bom Bali. Menurut Rifki, "murid kesayangan almarhum Fatur Rohman al-Ghozi", setiap bulan ia menerima transfer uang 3.000 peso dari Cotabato, Filipina Selatan.
Desy dan Icha Caleg PDIP
WAJAH DPR periode 2004-2009 sepertinya bakal kian cantik. Setelah artis sinetron Nurul Arifin menjadi calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar, kini tiga artis jelita dipastikan menjadi caleg di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ketiganya—Desy Ratnasari, Sophia Latjuba, Marissa Haque—tak cuma dikenal cantik, tapi juga punya inteligensi lumayan. Menurut Wakil Sekjen PDIP Pramono Anung, partainya menginginkan anggota legislatif terdiri dari 40 persen berkeahlian ekonomi. Sedangkan 40 persen lainnya dibagi rata untuk politik dan seni.
Mengapa bergabung dengan PDIP? "Terus terang karena Ibu Megawati itu perempuan dan antipoligami," kata Marissa, yang biasa dipanggil Icha, kepada Sudrajat dari TEMPO. Ketika bertemu dengannya di New York, September lalu, istri penyanyi Ikang Fauzi itu sempat mempertanyakan komitmen Megawati pada pembangunan kesenian.
Suami Presiden, Taufiq Kiemas, pun turut melamarnya masuk PDIP tiga pekan lalu. "Saya jadi calon untuk daerah Bandung bersama Desy Ratnasari," katanya girang. PDIP juga merekrut penyanyi Franky Sahilatua dan aktor Deddy Sutomo. "Kelimanya dipastikan sebagai calon jadi," kata Pramono.
DPR Pangkas Anggaran KPU
KELANCARAN Pemilu 2004 terancam. Sebab, usulan anggaran yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebesar Rp 3,9 triliun dipangkas Rp 900 miliar. Hal itu terungkap dalam Rancangan APBN 2004 yang disetujui menjadi undang-undang, Senin pekan kemarin. "Kalau dipotong 200-300 miliar sih tak masalah. Tapi kalau sampai 900 miliar, bagaimana ini?" ujar Ketua KPU, Nazaruddin Syamsuddin.
Dia mengakui, besarnya anggaran yang diajukan KPU terkait dengan rencana penambahan honor para anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Penambahan cuma Rp 10 ribu per orang. Dengan posisi sebagai ujung tombak pemilu, potensi kekecewaan akibat kesenjangan beban kerja dengan honor yang diterima cukup besar. Dia amat berharap, daerah dapat membantu anggaran operasional KPU di daerahnya masing-masing.
Bohorok Murni Bencana Alam
PEMERINTAH mengumumkan banjir bandang dan tanah longsor di Bohorok, Langkat, Sumatera Utara, murni bencana alam. Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim, kepada Komisi VII DPR di Senayan, Selasa pekan lalu.
Kepada anggota Dewan, Nabiel membeberkan temuan agak mengejutkan. Berdasarkan foto citra satelit dan foto udara yang direkam dari helikopter yang terbang melintasi areal hutan Bohorok, yang masih bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser, tidak ditemukan tanda-tanda kegiatan illegal logging (penebangan liar). Padahal masyarakat Medan, terutama aktivis lingkungan hidup, berteriak bahwa tragedi Bohorok karena aksi pembalak liar.
Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Loenggena Ginting, banjir bandang di Bohorok itu akibat degradasi lingkungan. "Degradasi lingkungan adalah rusaknya lingkungan hidup akibat konversi hutan, penebangan liar, dan proyek Ladia Galaska yang sedang berjalan di daerah tersebut," katanya dalam jumpa pers di Jakarta begitu tragedi terjadi.
Pernyataan resmi pemerintah ini seperti menutup dugaan bahwa mafia kayu ikut andil di belakang tragedi itu. Ini murni bencana alam akibat kecuraman tebing yang terus-menerus diguyur hujan. Proyek jalan Ladia Galaska, yang akan melintasi Pegunungan Leuser, pun jauh dari lokasi kejadian. Kini, pencarian lanjutan Tim Satlak Penanggulangan mulai terganggu bau busuk menyengat yang diduga berasal dari para korban yang masih tertimbun.
Hambali Ikut Mengebom di Medan
HAMBALI alias Riduan Isamuddin, 39 tahun, salah satu pentolan organisasi Jamaah Islamiyah, terbukti terlibat pengeboman sejumlah gereja di Medan, Sumatera Utara, pada malam Natal 24 Desember 2000. Ia ditangkap aparat kepolisian Thailand dan agen intelijen Amerika, CIA, di Ayutthaya, Thailand Utara, awal Agustus lalu. Keterlibatan Hambali terungkap dalam rekonstruksi oleh Polda Sumatera Utara, yang mengikutkan eksekutor bom Indra Warman alias Toni Togar.
Lewat pertemuan di Hotel Ibunda, Medan, lelaki asal Cianjur, Jawa Barat, itu memerintahkan Toni—yang terlibat perampokan nasabah Bank Lippo, Medan—meledakkan sejumlah gereja. Pertemuan berlanjut di Kompleks Johor Indah Blok II, Medan, pada Agustus 2000. Ikut dalam pertemuan perakitan bom itu Abdul Azis alias Imam Samudra, Yafid Sufaat, bekas perwira tentara Kerajaan Malaysia, dan Hambali.
Dua bom siap ledak kemudian diserahkan kepada anggota komplotan Toni, Ramli alias Tono di Gang Pia, Jalan Eka Bhakti. Dibawa Ramli alias Gogon, bom lalu diledakkan di depan rumah Pendeta J. Sitorus, Jalan Bahagia Bypass, meski tidak memakan korban. Toni bersama Yafid lalu bersepeda motor untuk meletakkan bom di mobil pendeta itu. Tapi pengemudinya, Jameson Banjar Nahor, mengetahuinya dan lalu segera membuangnya ke sungai.
Pengakuan ini menambah daftar panjang aksi Hambali.
Boyce Kunjungi Al-Hikmah
DUTA Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph L. Boyce, mengunjungi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Muzadi, di kediaman dan Pondok Pesantren Al-Hikmah, Malang, Jawa Timur, Senin pekan lalu. Didampingi Konsul Jenderal AS di Surabaya, Phillips Anweiler, Boyce menjanjikan bantuan bagi pendidikan, khususnya untuk pengembangan pesantren di Indonesia.
Sebelum dengan Boyce, Hasyim telah bertemu Presiden George W. Bush di Bali, akhir Oktober lalu. Saat itu, ia didampingi beberapa tokoh agama, seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif. Sebelumnya, Bush menemui Presiden Megawati Soekarnoputri dan berjanji memberi bantuan US$ 157 juta bagi pengembangan pendidikan di Indonesia.
Dalam kunjungannya, Boyce sempat berdialog dengan para santri. Lelaki berjambang putih itu dibanjiri pertanyaan seputar kebijakan luar negeri AS dalam masalah Palestina dan Irak. Juga soal kampanye antiterorisme yang dituding memerangi umat Islam.
Boyce menanggapinya dengan berkilah bahwa telah terjadi kekeliruan persepsi. Hampir semua negara yang mayoritas penghuninya muslim, terutama di Indonesia, menyamakan kampanye global melawan teror dengan perang melawan Islam. Ini membuat Bush terheran-heran.
Mengapa? "Karena beliau tidak pernah berpikir sama sekali tentang kampanye melawan terorisme sebagai perang melawan Islam. Anggapan itu keliru. Presiden Bush amat memahami bahwa banyak teroris yang berkeliaran di muka bumi berasal dari berbagai bangsa dan banyak dari mereka mengatasnamakan agama. Mereka hanya sekumpulan pengecut, dan mereka sama sekali tidak mewakili satu dari agama-agama besar di dunia," ujar Boyce.
Pemerintahnya, kata Boyce, mengetahui banyaknya pesantren dan madrasah di Indonesia. Menurut data statistik Departemen Agama, di seluruh negeri ini terdapat sekitar 13 ribu pesantren dan 36 ribu madrasah. Dari dialog dengan sejumlah tokoh Islam dan kunjungan ke daerah-daerah, ia kian yakin mayoritas pesantren dan madrasah tidaklah mengajarkan pesan radikal dan ekstrem.
S
|