Rantai Prestasi yang Terputus Prestasi bulu tangkis Indonesia kian merosot. Ada kesenjangan antara pemain tua dan muda. |
DI pagi yang sejuk, Christian Hadinata tampak segar. Mengenakan kaus oblong dan celana pendek biru tua, ia duduk santai di ruang kerjanya. Sudah sejak pukul 06.00, Jumat pekan lalu, lelaki 54 tahun itu berada di pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Cipayung, Jakarta Timur. Matanya terpaku pada pesawat televisi di depannya.
Menonton bulu tangkis? Ternyata tidak. Mantan pemain spesialis ganda itu sedang asyik menyaksikan rekaman pertandingan sepak bola antara Monaco (Prancis) dan Deportivo La Coruna (Spanyol) di ajang Liga Champions Eropa. Christian sempat menonton siaran langsung pertandingan yang dimenangi Monaco dengan skor 8-3 itu. Karena pertandingan tersebut ditayangkan pada dini hari, "Kalau menonton sampai pagi, nanti enggak bisa melatih," katanya.
Koh Chris—demikian direktur pemusatan latihan nasional (pelatnas) PBSI itu biasa disapa—memang demen sepak bola. Ketika masih menjadi atlet olahraga tepuk bulu, ia kerap bermain sepak bola bersama kawan-kawannya di sela-sela latihan. Usianya yang sudah merangkak tua membuat Koh Chris mengurangi kegiatan semacam itu. Ia mengaku sudah tidak kuat lagi.
Bagi Christian, menonton bola merupakan hiburan yang mengasyikkan. Setidaknya ia bisa melupakan sejenak prestasi bulu tangkis Indonesia yang tengah suram. Hingga Taiwan Terbuka yang berakhir 9 November silam, tidak banyak gelar yang diraih. Dari 11 turnamen grand prix 2003, pemain Indonesia baru meraih tiga gelar. Gelar pertama direbut pasangan ganda putra Candra Wijaya dan Sigit Budiarto di All England, Februari silam. Taufik Hidayat menyumbangkan gelar kedua dalam Indonesia Terbuka di Batam, September lalu. Gelar ketiga dipersembahkan pasangan Flandy Limpele-Eng Hian dalam Denmark Terbuka, Oktober silam. Selebihnya, tiada lagi prestasi yang bisa dicatat.
Menghadapi kenyataan seperti itu, sang pelatih tidak bisa berlama-lama merenungi nasib. Seusai menonton kehancuran tim Deportivo, sekitar pukul 07.30 ia buru-buru turun ke lapangan. Pagi itu ia menggojlok pemain ganda muda. Rendra Wijaya, 19 tahun, mendapat giliran pertama. Mereka bermain separuh lapangan. Satu set hanya lima poin. Rendra pontang-panting meladeni permainan cepat sang guru. Penempatan bola Christian akurat. Sang murid menyerah empat set tanpa balas. "Koh Chris masih bagus. Aku sering kalah sama dia," ujar Rendra dengan napas ngos-ngosan.
Pasangan Rendra, Yonathan "Yoke" Suryatama, mendapat giliran berikutnya. Pemain berusia 18 tahun itu setali tiga uang, keok di tangan sang pelatih.
Rendra dan Yoke adalah sedikit pemain muda yang sedang disiapkan PBSI untuk menggantikan pemain senior. Mereka digembleng pagi-sore selama tujuh jam. Christian mengakui, sedang terjadi peralihan generasi di pelatnas bulu tangkis. Malangnya, pemain muda seperti Rendra dan Yoke belum siap menjadi pelapis seniornya karena jam terbang yang kurang. Padahal, pada saat yang sama, prestasi seniornya sedang memble.
Kendati begitu, para pemain muda tidak mungkin digenjot kelewat keras karena bisa cedera. Yang bisa dilakukan hanya mempertahankan kondisi. Inilah kenyataan yang dihadapi PBSI. "Regenerasi memang agak terputus," kata Christian sambil membasuh peluh di wajahnya.
Kesenjangan prestasi itu disebabkan oleh kurangnya kesempatan pemain muda bertanding di turnamen grand prix. Alasannya, dana tak mencukupi. Selama ini, PBSI lebih mengutamakan para pemain terbaik untuk memenuhi target juara. Akibatnya, para pemain muda belum siap bersaing di tingkat elite.
Di sisi lain, Cina selalu menyisipkan pemain muda di setiap turnamen. Mereka mendapat untung besar karena pemain mudanya punya kesempatan bertanding dengan para pemain terbaik dunia. Pemain muda mereka di sektor tunggal putra seperti Bao Chun Lai dan Lin Dan sudah menyejajarkan diri bahkan mengalahkan seniornya seperti Xia Xuanze dan Chen Hong. Itulah yang membuat pemain Cina merajai berbagai turnamen. "Sementara pemain muda kita belum apa-apa," ujar Christian prihatin.
Buat menghapus ketertinggalan, PBSI sudah mengambil langkah untuk lebih memberdayakan pemain muda. Rabu pekan silam, PBSI memulangkan 38 pemain yang terkena degradasi. Kini tinggal 63 pemain yang berada di Cipayung. Pengurangan pemain itu bisa menghemat dana operasional sekitar 40 persen setiap bulan. Dana itu akan dimanfaatkan untuk mengirim pemain-pemain muda ke turnamen grand prix. Program promosi dan degradasi ini akan digelar secara berkala sehingga pelatnas Cipayung hanya dihuni oleh pemain terbaik.
Lihat saja, pagi itu suasana Cipayung juga tak seramai biasanya. Selain ditinggalkan pemain yang terkena degradasi, itu karena para pemain utama sedang meraih peruntungan di Taiwan Terbuka. Christian masih tampak segar meski sudah 30 menit mengocok Rendra dan Yoke. Ia melepas kaus yang sudah kuyup oleh keringat, menggantinya dengan yang kering.
Setelah beristirahat beberapa menit, Christian kembali melenggang ke tengah lapangan. Ia mengajak Rendra dan Yoke bermain satu lapangan, dua lawan satu. Kali ini kekuatan baru berimbang. Bermain dua set, mereka saling mengalahkan. "Kalau mau juara Olimpiade seperti pasangan Ricky-Rexy, latihannya harus keras," ujar Christian menasihati muridnya. Yang ia maksud adalah pasangan Ricky Subagja dan Rexy Mainaky, juara Olimpiade 1996 di Atlanta.
Sektor ganda putra saat ini sedang menjadi sorotan PBSI karena di nomor inilah Indonesia berpeluang mempertahankan tradisi emas dalam Olimpiade 2004 di Athena, Yunani. Pada Olimpiade 2000 lalu di Sydney, pasangan Candra Wijaya-Tony Gunawan juga menyumbangkan medali emas. Tapi tradisi ini tak akan mudah dilanjutkan. Soalnya, hingga saat ini baru satu pasangan yang masuk 16 besar dunia, yaitu Flandy-Eng, yang berada di peringkat kelima. Pemain yang masuk 16 besar dunia hingga April 2004 otomatis lolos ke Olimpiade.
Sejauh ini, prestasi dua pasangan yang baru dibentuk, Candra Wijaya-Halim Haryanto dan Sigit Budiarto-Tri Kusharyanto, masih merangkak dari bawah. Candra-Halim berada di peringkat ke-49, sedangkan Sigit-Tri di peringkat ke-58. Meski begitu, Christian tetap yakin Indonesia masih bisa meloloskan dua pasangan ke Athena.
Yang jadi soal, agar bisa meraih emas, peringkat mereka harus bagus. Kalau mereka hanya di peringkat ke-14-16, peluang untuk menjadi juara tetap berat. Sebab, mereka sudah akan bertemu dengan pasangan top dunia di babak awal. Menurut Christian, undian menjadi faktor penting untuk sampai ke partai puncak, bahkan juara.
Harapan juga digantungkan di tunggal putra. Juara Asia 2003 Sony Dwi Kuncoro dan juara Indonesia Terbuka 2003 Taufik Hidayat untuk sementara aman di 16 besar. Sony di peringkat ke-8 sedangkan Taufik ke-14. Hanya, belakangan Taufik tampil tak konsisten. Menurut Christian, Taufik masih disibukkan oleh hal-hal di luar bulu tangkis. Perseteruannya dengan pelatih Joko Suprianto membuatnya meninggalkan Cipayung. Kini ia ditangani pelatih nonpelatnas, Kurniahu. "Dia harus berpikir untuk mencetak masterpiece. Kalau hanya juara di tingkat grand prix, akan cepat dilupakan orang," kata Christian seusai melatih Rendra dan Yoke.
Christian lalu melangkah ke sisi lain gedung yang hampir seluas lapangan sepak bola itu. Pemain yang enam kali membawa Indonesia menjadi juara Piala Thomas itu serius memperhatikan para pemain tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran yang sedang berlatih. Sesekali ia memberikan pujian kepada pemain yang melakukan pukulan bagus.
Dari ketiga nomor itu, ada setitik harapan di ganda campuran. Di sana ada dua pasangan yang bercokol di 16 besar, yaitu Nova Widianto-Vita Marissa di peringkat ke-8 dan Anggun Nugroho-Eny Widiowati di peringkat ke-16. Untuk meraih emas Olimpiade, agaknya, sangat berat karena mereka harus bersaing dengan pasangan terbaik dunia, Kim Dong Moon-Ra Kyung Min dari Korea Selatan. Di nomor tunggal putri dan ganda putri, tak ada satu pun pemain Indonesia yang masuk 16 besar.
Cemaskah Christian melihat kenyataan itu? "Ini warning buat kita. Tapi saya berharap sektor ganda putra tetap berperan," tuturnya sembari melangkah kembali ke kantornya di lantai dua. Dia masih tampak segar setelah sekitar dua setengah jam melatih.
Sapto Yunus
|