Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Nasional

Siasat Baru Menjepit GAM

Serdadu Gerakan Aceh Merdeka bergerak dalam unit kecil. Cara baru TNI mengurung gerakan ini.

BLANG Rheuma tak lagi semeriah dulu. Di seantero desa yang terletak di Aceh Utara itu cuma terlihat beberapa petani sedang menggarap sawah, sibuk menanam padi, setelah hujan mulai turun sebulan ini. Jika hari mulai gelap, desa berubah sunyi-senyap. Warga memilih mengunci rapat pintu rumah.

Padahal dulu, sebelum Jakarta menggelar operasi darurat militer, desa itu terlihat meriah. Ratusan serdadu Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hilir-mudik menyusun kekuatan. Beberapa pekan sebelum perang membara, gerakan yang ngotot ingin memisahkan Aceh dari Indonesia itu menggelar pertemuan akbar di desa ini. Ribuan serdadu GAM berderet-deret dalam busana militer dengan bedil di pundak.

Kini, setelah enam bulan Jakarta memburu anggota gerakan ini, "Tak pernah ada lagi anggota GAM yang tampak di sini," kata Nur Faridah—bukan nama sebenarnya—seorang warga desa itu, kepada TEMPO. Di sejumlah tempat lain, bekas markas GAM kini sepi-senyap. Sudah kiamatkah gerakan itu?

Juru bicara operasi darurat militer di Aceh, Letnan Kolonel Ahmad Yani Basuki, menuturkan bahwa para musuh itu kini memilih menyingkir ke gunung-gunung dan belantara hutan. "Mereka sangat menguasai medan kritis, seperti gua, lembah, dan gunung terjal," tutur Yani. Nun jauh dari Stockholm, Swedia, Malik Mahmud, Menteri Negara GAM, juga hakulyakin pasukannya belum menyerah. "Tidak ada kata kalah dalam kamus kami," ujarnya dalam wawancara lewat telepon dengan TEMPO, dua pekan lalu.

Malik menuturkan, keadaan memaksa serdadunya memasang jurus gerilya. Bergerak dalam satuan-satuan kecil, memukul musuh jika lengah, lalu hilang ke belantara hutan jika musuh sulit dibendung. Soal jalur perintah pun hingga kini masih jalan terus. Malik mengklaim, pihaknya saban hari masih bisa memberi perintah langsung kepada serdadu di lapangan. "Mereka akan maju berperang jika ada perintah," tuturnya, penuh percaya diri.

Setelah enam bulan masa darurat militer di Aceh, ratusan tentara GAM memang tewas ditembak, ratusan lainnya jadi tawanan. Tapi beberapa petingginya hingga kini sulit dibekuk. Muzakir Manaf, Panglima GAM, hingga kini tak jelas rimbanya. Sejumlah kalangan menduga, Muzakir kini membangun basis di gunung-gunung. Gunung yang mana? Susah pula memastikannya.

Sofyan Daud, juru bicara GAM, malah lolos ke luar negeri—diduga kini berdiam di Malasyia. Ishak Daud, Panglima GAM wilayah Aceh Timur, tak kunjung membebaskan Ersa Siregar dan Ferry Santoro, wartawan stasiun televisi RCTI. Darwis Jeneib, Panglima Militer GAM wilayah Bireuen, hingga kini belum bisa ditangkap. Darwis-lah yang beberapa bulan lalu menciptakan horor di Bukit Sudan. Tujuh tentara Indonesia menemui ajal di bukit itu.

Para serdadu GAM yang tersisa itu, kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, "Bersembunyi dan tersebar menjadi kelompok-kelompok kecil." Ketika terdesak, dengan gampang mereka membaur dengan masyarakat. Itu sebabnya, kata Endriartono, Jakarta akan memasang siasat baru selama enam bulan darurat militer tahap kedua ini. Pasukan TNI akan mengoperasikan kekuatannya dalam unit-unit kecil pada tingkat regu. Dengan begitu, banyak wilayah yang bisa diterabas. Siasat ini ditopang oleh peningkatan operasi intelijen untuk melacak kekuatan musuh.

Cara ini memang sangat mengandalkan kemampuan teknis personel pasukan. Karena itu, kata Endriartono, pihaknya akan meningkatkan kemampuan prajurit melalui latihan-latihan teknis. Sejumlah peralatan tempur ikut pula disempurnakan. Cilangkap juga telah mengganti sejumlah pasukan lapangannya. Pergantian itu meliputi Panglima Komando Operasi hingga satuan tempur. Mayor Jenderal Bambang Darmono, Panglima Operasi Darurat Militer, diganti oleh Brigadir Jenderal George Toisutta, yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Kodam Jaya.

Wenseslaus Manggut, Yuswardi (Banda Aceh)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Victoria Beckham Bantah Bisnisnya Gagal - 08 Sep 2008 | 10:17 WIB
Resep Jitu Inggris Mengalahkan Kroasia - 08 Sep 2008 | 10:13 WIB
Telkom Kalimantan Targetkan Sejuta Pelanggan - 08 Sep 2008 | 10:11 WIB
Formalin dan Rhodamin Ditemukan di Balikpapan - 08 Sep 2008 | 10:09 WIB
Oprah Winfrey Tolak Wawancara Palin - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Motor Tabrak Mobil, Satu Cedera - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Komisi Pemilihan Palembang Pleno - 08 Sep 2008 | 09:48 WIB
Motivasi Inggris Melawan Kroasia Bukan Balas Dendam - 08 Sep 2008 | 09:45 WIB
Eva Mendes Ogah Jadi Ibu - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
Indeks Asia Naik Setelah Pengambilalihan Freddie dan Fannie - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data