Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Nasional

Ketika Musim Calo Tiba

Lebaran adalah musim panen para calo. PT KAI kewalahan. Pertalian calo dengan "orang dalam" nyaris abadi.

Tangkap calo dan dapatkan hadiah langsung Rp 220 ribu dan tiket KA mudik." Itulah isi spanduk yang dipasang mencolok di depan gedung pemesanan tiket PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Jalan Juanda, Jakarta. Heroik dan agak provokatif, walau di negeri ini belum tentu mempan.

Mau bukti? Lihatlah Purnomo, pegawai swasta yang sedang puyeng berat, yang berdiri tak jauh dari spanduk hebat itu. Tiket kereta api eksekutif jurusan Semarang ludes total. Padahal istri dan tiga anaknya sudah menantinya di ibu kota Jawa Tengah itu untuk merayakan Lebaran. Jalan pintas pun diambil cepat: beli tiket lewat calo, walau harganya "miring" ke atas alias gila-gilaan. Lo, kok tidak tangkap saja calo itu dan dapat tiket gratis? Agaknya hanya orang gila beneran yang melakukannya di zaman begini. Dalam bahasa Purnomo, "Daripada tidak bisa mudik, lebih baik beli lewat calo." Ia dijumpai TEMPO di Pusat Layanan Reservasi Stasiun Kereta Api Juanda, Selasa lalu.

Pur jelas tak peduli spanduk, tak ambil pusing walau mesti merogoh kantong lebih dalam. Tiket berbanderol Rp 220 ribu ditebusnya 330 ribu perak dari tangan calo. Uang tunjangan hari raya pun sebagian melayang. Tak apa. Yang penting mudik, mudik, dan mudik.

Ini pun Pur masih untung—orang Indonesia selalu bilang "untung" dalam kondisi sesulit apa pun. "Untung" anak dan istrinya sudah lebih dulu dikirimnya ke Semarang. Kalau tidak, koceknya bisa robek lebih parah, dan betapa girang sang calo jika ia tak pulang sendirian pada 18 November nanti.

Tiket eksekutif sudah sulit didapatkan Selasa silam. Yang tersisa tinggal beberapa seat saja, itu pun untuk berangkat 18 November. Ini terjadi setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuka loket tiket sebulan sebelum Idul Fitri, yang jatuh pada 25-26 November. Begitu dua hari loket dibuka, akhir bulan lalu tiket jurusan Surabaya dan Semarang untuk berangkat tiga hari sebelum Lebaran sudah ludes.

Tiket menipis, yang membeludak justru calo di Juanda. Setahun sekali mereka pasti bergerilya mencari uang Lebaran. Dan itu mereka lakukan tanpa atau dengan spanduk yang hebat tersebut. "(Calo) tak pernah ditangkap, paling diceramahi petugas agar berhenti sementara," kata Dandi, 37 tahun, seorang calo, memberi alasan.

Ceramah itu biasanya ampuh untuk beberapa menit saja. Sesudah itu, tetap saja pelataran Juanda jadi "markas" puluhan calo. Mereka bebas lalu-lalang sampai ke parkiran mobil dan sepeda motor. Setiap orang yang datang, hap, langsung dipepet dan ditawari. "Korban" biasanya menyerah setelah ditakut-takuti harga tiket makin tinggi mendekati Lebaran. "Harga satu tiket Rp 350 ribu masih murah. Jika mendekati Lebaran, bisa Rp 400 ribu lebih," ujar Dandi.

Calo lainnya, Rendi, punya cerita lain. Pria asal Solo, Jawa Tengah, ini mengaku makin sulit mengais rezeki dari tiket saat Lebaran. Padahal ia sudah nyalo sejak tiga setengah tahun lalu. Saingan terberat tak lain adalah para calo senior yang menguasai Juanda dan Stasiun Gambir. "Mereka senior dan bisa menembus ke dalam (loket)," kata calo yunior ini.

Jenjang "karier" senior-yunior ini mungkin berkaitan dengan kehebatan "menembus" petugas kereta api. Mereka yang senior biasanya sudah hafal perilaku petugas PT KAI. Untuk mendapatkan satu tiket kelas eksekutif, perlu uang pelicin buat petugas sampai Rp 100 ribu. Hasilnya, sonder antre, masing-masing bisa mendapat tiket lebih dari kuota 4 seat per pembeli.

Menurut Rendi, calo yunior paling banter menimbun tiket dengan cara titip para pembeli yang antre. Ia mengaku memberi uang jasa Rp 60 ribu per 4 tiket. Sejauh ini tak ada razia calo oleh petugas, walau mereka sempat ngumpet beberapa minggu lantaran PT KAI gencar berkampanye anti-calo.

Lain padang, lain belalang. Nasib apes dialami calo tiket kapal laut di Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka menjerit karena sepi penumpang, padahal tahun lalu rebutan tiket mulai awal bulan puasa. "Penumpang memilih beli tiket dari agen perjalanan," ujar Dedy, calo di Tanjung Priok. Rezeki yang seret juga disebabkan adu murah harga tiket pesawat terbang untuk ke luar Jawa.

Tapi, mungkinkah calo diberantas? Kepala Humas Departemen Perhubungan, Swihandoyo, punya resep: para penumpang harus stop kerja sama dengan calo. Tapi Swi tak menjelaskan bagaimana menolong penumpang seperti Purnomo itu. Menurut Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, J.A. Barata, penyebab utama kesulitan memberantas calo adalah tak ada aturan yang melarangnya. "Sama saja calo dengan perusahaan agen perjalanan," ujarnya kepada TEMPO, Selasa silam.

Adapun Direktur Operasi PT KAI Daerah Operasi I, Juda Sitepu, memastikan akan memecat petugas yang bekerja sama dengan calo. Tahun lalu, perusahaannya memecat dua karyawan "nakal". Diakui, pihaknya serba salah menghadapi calo. "Pembelian tiket sebulan sebelumnya buat melayani penumpang. Tapi itu justru ajang bagi calo menuai untung. Calo bisa membeli tiket jauh hari," ujarnya.

Berbagai upaya sudah ditempuh untuk mengganjal calo. Misalnya, kuota 4 seat per pembeli dengan menuliskannya pada selembar tiket. Pemesanan dengan melampirkan salinan KTP semula dianggap mujarab melawan calo. Tapi calo tetap membandel. "Ada pejabat kami yang pernah dikeroyok para calo sampai babak-belur," ujarnya.

Urusan perut rupanya sanggup mendorong orang nekat melakukan apa saja, termasuk mengirim bogem untuk sang pejabat.

Jobpie Sugiharto, Ecep S. Yasa dan Ramidi/TNR


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data