Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

"Kiai Waskita itu Mitos"

MENJELANG Pemilihan Umum 2004, pertemuan seribu kiai di Batu Ceper bulan lalu seolah fenomena bangkitnya kiai-kiai berpolitik. Meski labelnyasilaturahmi, berkembang kabar para kiai itu merasa tak lagi sejalan dengan KetuaDewan Syuro PKB, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bagaimana Gus Durmenyikapi "aksi politik" itu? TEMPO menemui Presiden RI keempat itu dikantornya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Mendekati pemilu, banyak kiai berancang-ancang ke panggung politik.Pandangan Anda?

Politik kiai itu politik kepentingan umum. Jadi, enggak usah ikut rebutanjabatan. Kalau dicalonkan ya boleh, asal untuk kepentingan umat. Menurutsaya, pengertian politik itu yang harus ditata kembali. Orang bilang politik ituharus pragmatis dan sebagainya. Itu berarti enggakngerti. Politik itu apa? Politea, kepentingan masyarakat kota. Artinyamasyarakat bangsa seperti kita, bukan kepentingan pribadi.


Kiai kan penjaga moral umat, karena itu muncul istilah kiai waskita.Kiai waskita berpolitik juga?

Ah, enggak ada itu kiai waskita. Kiai itu cuma ada dua: kiai yangmengabdi pada kepentingan umum, dan kiai yang ngurusikepentingan pribadi saja. Saya memang tunduk dan hormat padabeberapa kiai seperti Kiai Abdullah Faqih, Kiai Abdurrahman Khudori, KiaiMuhaimiman Gunardho, Kiai Muchit Muzadi, dan Kiai Khotib Umar. Mereka itusosok kiai yang selalu menjunjung tinggi kepentingan umum, tidak pernahcari jabatan dan uang untuk diri sendiri.


Tapi, dari nama yang Anda sebut, ada yang ikut pertemuan di Batu Ceper?

Lha, yang ikut itu kan niatnyamacem-macem. Ada yang datang karena takenak sama Kiai Noer Muhammad Iskandar S.Q. (penggagasacara?Red.). Kiai Noer juga niatnya mau menyenangkanorang, tapi jadi enggak karu-karuan begitu.


Siapa mendanai pertemuan itu?

Enggak usah saya sebut.


Sebagai politikus, Anda sangat rajinsowan ke kiai sepuh dan berziarah ke makam-makam. Ada alasansupranatural?

Ah, enggak tahu saya. Enggak pernahditunjukin, juga enggak pernah tanya. Karena sering ziarah kubur, lantasdikira cari petunjuk ke kuburan. Gombal apa? Saya ini ketemu dengan kiai yangwajar-wajar saja, rasional, jelas ayatnya. Saya ziarah itu hanya untukmenenteramkan hati.


Apa, sih, sebetulnya yang Anda lakukan kalau ziarah ke makam?

Lho, ya ndungo (berdoa), tahlilan, terus amin-amin, ha-ha-ha?.


Boleh bagi pengalaman berkomunikasi dengan para aulia yang sudah wafat?

Enggak punya. Siapa yang aulia saja saya enggak tahu. Enggak ada yangtahu wali kecuali wali. Yang jelas, saya bukan wali. Saya itu guyonnya wali arsip,ha-ha-ha. Kan banyak orang datang ke rumah saya di Ciganjur. Saya tanya kemereka, "Sampean dari mana?" Mereka menjawab, "Baru keliling WaliSongo, lalu ke sini." O? berarti saya walikesepuluhnya, wali arsip, ha-ha-ha?.


Kalau ilmu kanuragan seperti dimiliki Gus Maksum Lirboyo, misalnya?

Kalau itu saya tahu latihannya, dan bukan mistis. Tapi ada cerita lucu.Ada seorang kawan yang percaya sekali ilmu kanuragan. Suatu waktu mintadigembleng. Terus oleh kiainya dia dimasukkan ke kamar dan diminta makan limabutir telur tanpa dikunyah. Begitu keluar kamar, teman-teman bertanya,"Gimana, sudah sakti?" Eh, jawabnyaenteng, "Sakti apaan? Wareg (kenyang),"ha-ha-ha?.


Jadi, kiai waskita itu fakta atau cuma mithos?

Banyak mitosnya. Jadi enggak karu-karuan. Saya itu dimitoskan bisaberjalan di atas air. Bingung saya. Kalau betul begitu, kan penghasilan sayasudah besar, ha-ha-ha.


Kabarnya Anda mengkoleksi keris azimat?

Itu semua titipan orang, bukan punya saya. Nah, waktu saya jadi presiden,adik saya Gus Im datang ke Jalan Irian. Tanpa banyak omong, semua keris itudimasukin karung dan dibuang ke laut. Ya, saya diam saja. Cuma bingung,lho, itu kan titipane wong akeh (titipan orangbanyak). Saya itu enggak tahu yang supranatural begitu. Saya kan dari kecildididik ala orang Barat. Jadi, sangat rasional.


Sewaktu menjabat presiden, konon banyak keputusan yang diambil daribisikan supranatural juga?

Lha, wong nyatanya tetap dilengserkan, ha-ha-ha?.


Seberapa serius Anda mencalonkan diri menjadi presiden?


Ya, serius kalau yang menyuruh kiai. Saya sih enggak berminat, tapi empat kiai yang saya sebut tadi bilang maju. Makanya, saya pernah pidato di daerah, saya nanti kampanyenya tinggal teriak, "Hidup Inul!" Maksudnya, kalau Inul senangnya ngebor, lha "INUL" saya ini lain: Insya Allah NU lagi, ha-ha-ha?.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data