Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

Politikus Fenomenal yang Terlupakan

Tokoh "kubu Cipete" itu kini terbaring sepi. Kerap dimanfaatkan para pengikutnya.

SUASANA lengang menyelimuti rumah tua di Jalan Fatmawati 45, Cipete, Jakarta Selatan itu. Tiada bekas kemegahan, meski ukuran rumah dan pekarangannya teramat luas. "Pak Kiai tak bisa diwawancarai lagi," kata seorang pembantu di rumah itu, Senin pekan lalu. "Pak Kiai" yang dimaksud, yakni sang pemilik rumah, adalah tokoh karismatik dan fenomenal Nahdlatul Ulama (NU) dari masa lampau, K.H. Idham Chalid.

Selama lima tahun terakhir politikus kelahiran Setui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1922, itu praktis tergolek di pembaringan. Sunyi, sendiri, bergelut dengan stroke dan penyakit ginjal. Padahal, lebih dari dua dasawarsa silam, di sinilah tempat berkumpul sejumlah politikus muda NU. Betapa tidak, pada masa jayanya Idham amat disegani kaum muda NU. Reputasi pria berperawakan kecil dan berwajah tenang itu betul-betul fenomenal.

Dialah yang memimpin NU dari 1956 hingga 1984, meski berasal dari "seberang" dan bukan pemilik pesantren besar seperti K.H. Wahid Hasyim, tokoh yang digantikannya. Bekal pendidikannya pun didapat dari Pondok Pesantren Gontor, pondok yang sebetulnya dianggap kurang berbau NU. Idham cenderung merekrut anak-anak NU yang punya bakat politik untuk duduk di posisi struktural. Sebutlah, misalnya, Yusuf Hasyim, Chalid Mawardi, atau Mahbub Djunaidi.

"Hampir dua per tiga pengurus wilayah dan cabang NU dan PPP itu kader NU pengagum beliau," kata Chalid Mawardi kepada TEMPO. Meski pengaruh dan wibawanya amat besar, Zein Badjeber menilai kiprah ulama yang fasih berbahasa Arab, Belanda, dan Jepang itu di dunia politik amat santun. Dengan sikapnya itu pula, kata Badjeber, Idham kerap dimanfaatkan para pengikutnya.

Ketika partai-partai Islam berfusi, pada 1973, dia ditunjuk sebagai ketua. Cuma, belakangan ia digeser ke jabatan simbol: Presiden PPP. Sejak itu bintangnya meredup, dikalahkan tokoh baru yang lebih licin, Jailani "John" Naro. Musibah muncul ketika Naro, yang berasal dari unsur Muslimin Indonesia, menempatkan 29 nama calon anggota DPR dari PPP unsur NU pada urutan buntut pada Pemilu 1982. Idham akhirnya menjadi sasaran kemarahan para kiai sepuh NU.

Rais Am Ali Ma'shum, bersama K.H. As'ad Syamsul Arifin, Machrus Ali, dan Mudjib Ridwan, mendatangi Idham. Dari hasil pertemuan, dia menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PBNU karena alasan kesehatan. "Tapi itu karena beliau di-fait-accompli para kiai sepuh," kata Badjeber. "Saya masih menyimpan suratnya," ia menambahkan. Ternyata, para kader NU yang kadung berpolitik tak rela panutan, sekaligus tameng, mereka dilengserkan dengan cara demikian. Mereka bermanuver. Hasilnya, 17 pengurus wilayah balik menekan Idham supaya bertahan.

Gejolak inilah, menurut Badjeber, yang kemudian melahirkan istilah "kubu Cipete" dan "kubu Situbondo". Kelompok pertama adalah politikus di bawah asuhan Idham, dan sering kongko di Kompleks Pesantren Darul Maarif. Kelompok ini menginginkan penarikan diri NU dari kancah politik dilakukan secara bertahap. Sebaliknya, para kiai pimpinan Kiai As'ad dari Situbondo bersikeras ingin kembali ke Khitah 1926 seketika itu juga. Pada Muktamar NU di Situbondo, akhir 1984, Idham dilengserkan secara konstitusional.

Bagaimana warisan pengaruhnya? Dari lingkungan putra-putrinya, Idham lebih mengarahkan mereka ke bidang pendidikan dan bisnis. Sementara itu, dari ribuan santrinya di Darul Maarif, hanya Zainuddin M.Z. yang mencorong bakat orasi dan politiknya. "Dia fotokopinya Pak Idham muda kalau sedang berorasi," kata Chalid Mawardi, yang pernah menjadi Duta Besar RI di Syuriah dan Libanon. Dia juga mengkategorikan Hamzah Haz, Zarkasih Nur, dan K.H. Syukron Makmun sebagai kader tersisa kubu Cipete.

Zainuddin sendiri mengaku banyak diwarnai oleh Idham. Tapi dia menampik jika dikatakan kini masih mengusung misi Cipete. Baginya, konflik masa lalu itu telah tamat. "Yang berkonflik sekarang itu NU dengan PKB, tepatnya Pak Hasyim (Muzadi) dengan Gus Dur," kata "kiai sejuta ummat" itu.

Sudrajat, Jobpie Sugiharto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data