Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Laporan Utama

Asap Perlawanan dari Lirboyo

Rumah K.H. Idris Marzuki di kompleks Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, sepertinya punya telinga. Ada 54 kiai mengadakan pertemuan rahasia pada Selasa, 9 September lalu, dan isi pertemuan tertutup itu kini beredar dalam bentuk transkripsi. Padahal isi pertemuan para mutakhorrijin (alumni) Lirboyo itu cukup gawat.

Kiai yang ikut pertemuan bertajuk "Pertemuan Silaturahim Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri" ini antara lain K.H. Cholil Bisri (Rembang—Wakil Ketua MPR), K.H. Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri), K.H. Mas Subadar (Pasuruan), K.H. Noer Muhammad Iskandar Sq. (Batu Ceper, Jakarta), K.H. Chamim (Ploso, Kediri), K.H. Mutawakkil Alallah (Probolinggo), K.H. Wahab Hasbullah (Jombang), K.H. Ubaidillah Abdullah Faqih (putra K.H. Abdullah Faqih dari Langitan, Tuban), dan K.H. Anwar Iskandar (Ketua Dewan Syuro PKB Jawa Timur).

Dari transkrip yang kini beredar dalam bentuk cetakan bersampul hijau itu, tampak jelas bahwa kalangan kiai ini merasa gerah atas sepak terjang Ketua Dewan Syuro PKB, K.H. Abdurrahman Wahid. Mereka merasa disepelekan oleh pengurus PKB, yang rata-rata tidak berasal dari lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama. Apalagi pertemuan itu berlangsung tak lama setelah Gus Dur memecat Saifullah Yusuf dari kursi Sekretaris Jenderal PKB.

Pertemuan itu dimoderatori K.H. Anwar Iskandar. Setelah tuan rumah, Kiai Idris Marzuki, menyambut, mulailah para kiai beradu kencang mengkritik Partai Kebangkitan Bangsa dan Gus Dur. Pernyataan keras pertama muncul dari Kiai Cholil Bisri tentang Gus Dur yang otoriter dan keras kepala. Menurut dia, sejak awal, dirinya telah mengetahui bahwa Gus Dur tak akan pernah berubah. Namun ia selalu berupaya menahan diri dan baru tiga kali menentang Gus Dur.

Kiai Cholil mengaku risau karena para kiai sepuh pun tak mampu mengatur Gus Dur. Menurut dia, Gus Dur pernah mengungkapkan hanya akan manut kepada empat kiai, yakni Kiai Abdullah Faqih dai Langitan, Kiai Subadar dari Pasuruan, Kiai Abdurrahman Khudlori dari Tegalrejo, Magelang, dan Kiai Muhaiminan Gunardho dari Parakan, Temanggung. Nyatanya, keempat kiai ini pun tidak digubris Gus Dur.

Karena itu, pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Rembang, Jawa Tengah, ini mengajak para peserta pertemuan menekan Gus Dur dan meminta Musyawarah Nasional Luar Biasa PKB menggantinya sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Ia mengajak para kiai lain untuk bersama-sama meminta Gus Dur menjadi kiai bangsa, sedangkan Ketua Dewan Syuro PKB dijabat Kiai Idris Marzuki. Ia bahkan menawarkan agar Partai Kejayaan Demokrasi (PKD) milik Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil dijadikan partai milik para kiai kalau Gus Dur tetap bandel.

Setelah itu, giliran Kiai Mas Subadar membahas hukum fikih tentang kepemimpinan negara. Menurut dia, syarat seorang kepala negara adalah mampu melihat. Tentu saja ini mengarah ke pribadi Gus Dur. Sebab, hingga saat itu, Gus Dur tetap percaya diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden dari PKB dalam pemilu mendatang, padahal Gus Dur tak bisa melihat. "Pancene bashor niku minal muttafaq 'alaih, dados syarate imamah (melihat itu termasuk hal yang disepakati ulama sebagai syarat kepala negara)," ujarnya.

Kiai Subadar tampil dengan usul agar para kiai membuat partai sekoci saja daripada tidak diperhatikan aspirasinya di PKB. "Partai sekoci niku mangkih sing dadi loncatane poro kiai (partai sekoci ini nantinya yang akan menjadi loncatan para kiai)," ujarnya. Ia mengusulkan agar rencana ini dibahas saat para pemimpin NU menggelar rapat di rumah Rais Aam NU, K.H. Sahal Mahfudz. Usul ini disambut Kiai Fuad Anwar.

Kekecewaan kepada PKB juga diutarakan Kiai Zainuddin. Ia mengaku kaget adanya anggota Dewan Syuro PKB yang bukan dari NU. Karena itu, ketika Ketua Umum PKB Alwi Shihab sempat datang ke Lirboyo sebelum pertemuan tertutup itu, ia menyatakan kepada Alwi bahwa dirinya telah menjatuhkan talak kepada PKB. "Kami sudah menyatakan mufarroqoh (berpisah)," ujarnya. Jika PKB masih bisa dibenahi, dia berjanji akan rujuk lagi, tapi jika tidak, ia meminta NU menyelesaikannya.

Kiai Noer Iskandar bersuara tak kalah kerasnya. Ia menuding orang-orang di sekitar Gus Dur sebagai benalu. Bekas pendukung berat Gus Dur dari Pesantren Assidiqiyah ini pun berkomentar pedas tentang Gus Dur. Ia mengaku khawatir keinginan Gus Dur untuk mencalonkan diri sebagai presiden itu karena dorongan keinginan Gus Dur untuk menjadi presiden besar sekali.

Sekitar dua tahun lalu, dari Lirboyo pula para kiai bahu-membahu mendukung Gus Dur sebelum dilengserkan sebagai presiden. Ketika itu, 20 Juli 2001, dari rumah K.H. Idris Marzuki ini juga, Presiden Abdurrahman mengancam akan menyatakan negara dalam keadaan bahaya. Itu diucapkan di hadapan ribuan alumni Lirboyo. Bagaikan air bah, takbir "Allah Akbar" bergema di seantero Lirboyo, diselingi isak tangis dan lelehan air mata para santri dan ulama. Para alumni pesantren itu pun menyatakan mendukung sepenuhnya sikap Presiden Abdurrahman.

Kini dari Lirboyo pulalah asap perlawanan kepada Gus Dur dimulai.

Hanibal W.Y. Wijayanta, Sunudyantoro (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data