Daftar Tunggu Kiai Langitan Sejumlah kiai masyhur kian ramai disowani para kandidat presiden. Mumpung banyak yang sewot dengan Gus Dur dan PKB. |
LANGKAH Amien Rais terlihat gontai saat keluar dari rumah Kiai Abdullah Faqih. Kedua tokoh penting ini bertemu sekitar 45 menit dalam suasana gayeng, di Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, Selasa malam pekan lalu. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu ditemani bekas Menteri Keuangan Bambang Sudibyo, bekas Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin, Wakil Ketua MPR A.M. Fatwa, dan Bupati Tuban Masfuk. Sedangkan Kiai Faqih didampingi putranya, Gus Mujab.
Ini jelas pertemuan penting antara dua figur penting. Amien Rais, selain bos PAN, juga Ketua MPR. Ia kini sibuk melakukan road show ke mana-mana, termasuk bersilaturahmi ke pelbagai pesantren yang umumnya menjadi basis Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. Mantan Ketua Muhammadiyah itu pernah memimpin poros tengah yang sukses mengusung Abdurrahman Wahid menjadi presiden dalam Sidang Umum 1999 lalu—meski akhirnya ia pula yang ikut menjatuhkannya dua tahun kemudian. Amien kini bulat didukung partainya untuk maju sebagai calon presiden mendatang.
Kiai Faqih? Jangan tanya. Tokoh karismatik yang memimpin pesantren tua ini tak cuma masyhur di kalangan kaum nahdliyin. Selain disegani para kiai, ia dihormati Gus Dur. Namanya berkibar ketika kiai bersuara lirih ini dianggap masuk dalam deretan kiai khos, kiai utama, yang sangat berpengaruh bagi NU. Amien pernah menemuinya menjelang Sidang Umum MPR 1999. Saat itu Amien meminta Kiai Faqih merestui Gus Dur untuk jadi calon presiden yang memborong suara dari partai-partai Islam. Abdurrahman pun, di luar dugaan, sukses melenggang ke Istana.
Tapi itu kisah lama. Kini Amien tak lagi punya agenda tentang Gus Dur.
Kepada para wartawan yang menunggu hasil pertemuan tertutup itu, Amien mengatakan, ada dua hal yang disampaikannya kepada Kiai Faqih. Selain bersilaturahmi, ia ingin mendapat wejangan kiai sepuh yang sangat dihormati kaum santri ini. Tak ada pernyataan resmi dari Kiai Faqih, yang memang segan bicara dengan pers. Ia cuma berpesan tentang pentingnya kepemimpinan yang berakhlak, pemberantasan korupsi, dan beramar makruf nahi mungkar.
Restu untuk Amien? Tak ada yang berani memastikan. "Kalau saya bicara (tentang restu) itu, berarti saya menurunkan kualitas pertemuan yang baik ini," ujarnya. Pertemuan kedua bagi Kiai Faqih-Amien ini setidaknya memupuskan dugaan yang berkembang selama ini. Karena dianggap ikut berperan melengserkan Gus Dur, banyak kiai pesantren yang marah pada pakar Timur Tengah lulusan Universitas Chicago, Amerika Serikat itu. Amien susah diterima masuk pesantren. Sampai akhirnya ia masuk kawasan tapal kuda, kantong-kantong NU di pantai utara Jawa Timur—kawasan yang sangat fanatik pada Gus Dur dan PKB.
Diterimanya Amien masuk pesantren sudah punya bobot "politik" tersendiri. Ini isyarat penting. Jarang-jarang kiai Langitan yang dianggap motor bagi segelintir elite kiai NU itu memberikan wejangan. Apalagi, kabarnya, beberapa kandidat presiden lainnya juga sudah antre ingin sowan. Mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Jenderal (Purn.) Wiranto, yang kini dicalonkan Partai Golkar, dan cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, belum juga diluluskan permintaannya untuk sekadar bertemu.
Sederet calon orang penting di Republik itu memang punya jadwal rapat untuk menemui kiai pesantren. Apalagi berkunjung ke kiai sepuh yang bergelar kiai khos sekaliber Kiai Faqih. Selain Amien, para calon presiden Golkar seperti Akbar Tandjung, Wiranto, dan Surya Paloh juga sibuk memahami kiai—ada yang sampai diajari cara mencium tangan kiai. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan S.B. Yudhoyono dan Wakil Presiden Hamzah Haz juga sering mampir ke pesantren di pelosok desa di sela-sela kunjungan ke daerah.
Tengok saja acara Akbar. Ia telah berkunjung ke Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat, untuk bersilaturahmi dengan Kiai Abdullah Abbas. Dua bulan lalu Yudhoyono berkunjung ke pesantren Kiai A.K.N. Marzuki di Pati, Jawa Tengah, kemudian sowan ke Pesantren Suryalaya asuhan Kiai A. Shohibulwafa Tajul Arifin, di Tasikmalaya, Jawa Barat. Surya Paloh pun rela meski berpanas-panas mengikuti acara Istigotsah NU di Lapangan Markas Kodam Brawijaya, Surabaya, yang diikuti ratusan ribu warga nahdliyin seluruh Jawa Timur dan para kiai sepuh NU.
Kiai nyentrik juga jadi sasaran kunjungan. Saat TEMPO menjumpainya di pesantrennya, Kiai Moeslim Rifai Imampuro, 79 tahun, pengasuh Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, malah tengah menerima telepon dari Nurcholish Madjid. "Mrenemu kapan, syukur-syukur karo Amien Rais (Kapan kamu ke sini? Syukur-syukur dengan Amien Rais)," ujarnya kepada Cak Nur. Cendekiawan muslim itu berencana ngalap barakah, mencari berkah, kiai gagu yang disapa Mbah Lim itu, akhir Ramadan nanti.
Gairah silaturahmi ini bisa dimaklumi. Soalnya, musim pemilu sudah hampir tiba. Partai politik mulai bersiap menyambut pesta demokrasi pada tahun 2004 nanti. Sudah jamak pula jika para politikus mulai rajin menebar pesona sambil sowan ke ulama sekaligus meminta restu dan mengantongi dukungan. Tak pelak lagi, kultur politik Indonesia ini telah menempatkan kiai khos menjadi faktor penting untuk memuluskan calon presiden. Dalam kultur organisasi Islam yang jumlah pengikutnya terbesar di Indonesia ini, pengaruh ulama masih kuat. Tausiah kiai wajib didengar (lihat Kiai Waskita dari Tanah Jawa).
Ironisnya, partai bikinan kiai malah dirundung kemelut. Anak kandung politik NU, PKB, belum bulat menyokong kandidat. Partainya para kiai ini malah sibuk dengan urusan rumah tangga. Agustus lalu mereka menggelar pertemuan di Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. Di pesantren yang diasuh Wakil Ketua MPR Kiai Cholil Bisri ini mereka sibuk membahas keputusan Ketua Dewan Syuro Abdurrahman Wahid, yang berencana mereposisi jabatan Sekjen Saifullah Yusuf. Para kiai yang hadir juga menyatakan kecewa atas keputusan politik elite partai.
Beberapa keputusan petinggi PKB belakangan dinilai banyak merugikan massa NU. Konflik kepentingan para kiai versus PKB dalam pengisian kepala daerah di Jawa Timur menjadi pemicu ketidakpuasan mereka. Sejak awal para kiai ingin menyandingkan Imam Utomo dengan Saifullah. Tapi Abdurrahman Wahid cuek saja. Ia ternyata punya jago lain, Abdul Kahfi, bekas Wakil Gubernur DKI, yang justru ditolak kiai. Akhirnya Imam terpilih kembali menjadi gubernur kedua kali. PKB cuma bisa gigit jari dan kiai pun kecewa. "Seharusnya PKB dikembalikan ke pesantren," kata Kiai Noer Iskandar Sq., pemimpin Pesantren Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta.
Alumni Lirboyo ikut panas. Sebulan kemudian, September lalu, 54 kiai lulusan pesantren itu menggelar silaturahmi tertutup di pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Idris Marzuqi di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Meski yang hadir para kiai yang biasa mengajarkan kitab tasawuf, tafsir, fikih, dan nahwu-sharaf di pondoknya, kali ini mereka bukan menggelar kajian agama. Agenda mereka lagi-lagi soal politik. "Agama juga harus punya peranan dalam ekonomi dan politik," kata Kiai Mas Subadar dari Pasuruan.
Pertemuan terus berlanjut. Mereka bertemu lagi di Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Batu Ceper, Tangerang, Banten, akhir bulan lalu. Dalam acara bertajuk "Pertemuan Seribu Kiai" itu hadir antara lain Kiai Idris Marzuki (Kediri), Kiai Mas Subadar (Pasuruan), Kiai Muchit Muzadi (Jember), Kiai R. Muhaiminan Gunardo (Magelang), Gus Fawaid As'ad (Situbondo), juga Mbah Lim Klaten. Wakil Ketua Dewan Syuro PKB Cholil Bisri (Rembang) dan Ketua PBNU Ahmad Bagja juga tampak. Gus Dur sengaja tak diundang. "Supaya diskusinya lebih leluasa," kata Kiai Noer Iskandar.
Agenda kali ini jauh lebih seru. Awalnya mereka membahas isu terorisme, pemberantasan korupsi, dan ancaman disintegrasi bangsa. Tapi agenda itu sekadar tempelan. Semakin lama suasana semakin panas. Apalagi ketika sebagian peserta melontarkan kekecewaan terhadap Partai dan mempertanyakan keabsahan pencalonan Gus Dur sebagai presiden dari PKB. "Gus Dur secara fisik tidak memenuhi syarat," kata Kiai Mawardi Soleh dari Situbondo. Para kiai pun ingin dilibatkan menyusun daftar calon anggota legislatif.
Gelagat ini sangat mengejutkan. Sikap para kiai itu bertolak belakang dibandingkan dengan saat Abdurrahman Wahid berkuasa. Ketika itu, para kiai itu pula yang gegap-gempita menghadang pelengseran kiai Jombang—yang kerap disebut "azimat NU" itu. Ada apa dengan para kiai yang kini berbalik ramai-ramai menendang Abdurrahman? "Kami sudah terlampau sering dikecewakan, dan Gus Dur sering mendapat masukan salah dari orang-orang di sekelilingnya," kata seorang kiai. Sebaliknya, Gus Dur hanya berkomentar santai. "Pertemuan ulama apa? Wong, itu kiai-kiaian. Mereka bukan kiai, tapi disuruh mengaku kiai," ujarnya.
Sejumlah kiai waskita yang berpengaruh tak hadir di serangkaian pertemuan itu. Kiai Faqih Langitan, Kiai Abbas Buntet, dan Habib Luthfi Pekalongan tak muncul. Abdurrahman yakin, mereka masih tetap mendukung kepemimpinan dan pencalonannya sebagai presiden. "Kalau disuruh para kiai jadi capres, ya saya jalankan sebagai capres," ujarnya. Sebaliknya, Kiai Idris Marzuki dari Lirboyo tegas menyatakan tak berani mendukung Abdurrahman Wahid untuk calon presiden mendatang. Kelompok Lirboyo agaknya cenderung menjagokan Ketua Umum PBNU Kiai Hasyim Muzadi. Transkrip sikap keras mereka terhadap Gus Dur beredar dan bikin heboh (lihat Asap Perlawanan dari Lirboyo).
Partai lain juga berkepentingan meraih dukungan dari jam'iyah ulama itu. Apalagi kelak pemilihan presiden akan dilakukan secara langsung. "Siapa pun yang menjadi presiden, haruslah merangkul NU," ujar Kiai Cholil Bisri, Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB. Maka tak mengherankan jika muncul rumor bahwa baik Partai Golkar maupun PDI Perjuangan kini tengah mencoba meminang Kiai Hasyim Muzadi untuk berduet dan menjadi calon wakil presiden dari salah satu partai itu. "Nggak benar itu, saya belum pernah bertemu dan diajak bicara dengan mereka," kata Kiai Hasyim.
Dengar saja klaim Partai Banteng. Awal pekan ini, Wakil Sekjen PDIP Pramono Anung menyebut bahwa ada 25 kiai NU akan bergabung dalam Rapat Koordinasi Nasional, pertengahan November ini. Namun Pramono enggan menyebut nama mereka. "Tidak etis, dong, kalau saya menyebut nama," ujarnya.
Tak aneh jika Amien Rais dan partai-partai Islam terus bergerilya, mencoba merayu jam'iyah berlambang bumi dan sembilan bintang itu untuk tidak tergoda rayuan seterunya. Bagi PAN dan partai Islam, PKB jadi bandul penting. Jangan sampai partai kiai ini masuk kandang Banteng atau bernaung di bawah Beringin. "Jangan khawatir. Politik itu kan seperti tempe. Pagi kedelai, sorenya tempe," ujar Kiai Cholil Bisri. Empat puluh juta suara dari warga nahdliyin memang sedap untuk diperebutkan.
Hanibal W.Y. Wijayanta, Sudrajat, Zed Abidien (Surabaya), Sunudyantoro (Lamongan), Bibin Bintariadi (Pasuruan), Imron Rosyid (Klaten)
|