Bom Saat Pelesir Ramadan Bom bunuh diri meledak di Riyadh, tapi korbannya justru warga Arab muslim. |
Susah membayangkan guncangan sebesar itu di Riyadh di tengah Bulan Suci. Tapi inilah yang terjadi di ibu kota Arab Saudi, Ahad 9 November. Akibatnya, 20 hingga 30 orang tewas, lebih dari 120 orang luka-luka, termasuk 36 anak-anak. Korban kebanyakan ekspatriat Arab warga negara Libanon. Bom yang diduga dibawa dengan mobil polisi meledak setelah terjadi tembak-menembak dua orang pelaku dengan pasukan keamanan di pintu gerbang kompleks perumahan Al-Muhaya.
Sebagian besar penghuni sedang berada di luar rumah untuk cuci mata di pusat pertokoan. "Saya mendengar satu ledakan yang sangat keras dan seluruh rumah kami terguncang," kata Ibtihaal Hassan. Semua penghuni keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Sekitar 10 rumah ambruk, dan kaca berserakan di mana-mana.
Berita pengeboman ini cepat beredar dan penduduk bergegas pulang dari pusat perbelanjaan ke rumah untuk menyaksikan berita televisi. Pasar di Dammam dan Alkhobar, yang biasanya masih ramai hingga pukul dua pagi saat Ramadan, segera lengang hingga tengah malam. Pemilik toko pun bergegas menutup tokonya.
Kompleks perumahan yang terdiri dari 200 unit rumah ini dulunya memang dihuni karyawan perusahaan industri pesawat terbang AS, Boeing Corp, yang dikenal dengan sebutan Perumahan B2. Tapi, kini perumahan itu dihuni oleh pekerja ekspatriat Arab.
Duta Besar Arab Saudi di Inggris, Pangeran Turki al-Faisal, menyatakan penyerangan dengan target semacam perumahan adalah satu tanda jelas kelompok yang putus asa yang ingin menunjukkan mereka bisa melakukannya. Sudah enam bulan pemerintah Saudi melacak kelompok-kelompok militan. Sedangkan Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Nayef, menyatakan sikap pemerintah. "Kami akan menangkap pelakunya, tak peduli butuh berapa lama," kata Nayef.
Mei silam di Riyadh meledak bom bunuh diri juga di kompleks perumahan. Akibatnya, 35 orang tewas, termasuk tiga orang AS, dan Al-Qaidah dituduh sebagai pelaku pengeboman. Sasaran tuduhan ledakan bom kali ini pun tak berubah, Al-Qaidah.
Rekaman video Usamah bin Ladin bulan silam memperingatkan serangan terhadap kepentingan AS dan kedutaan sekutu Washington di Riyadh pada Sabtu. Tapi sasaran pengeboman Ahad itu justru penduduk Arab dan muslim. Sarah Hussain, salah seorang penghuni, mengatakan telah mendengar penutupan kantor Kedutaan AS dan ancaman kemungkinan serangan bom, tapi dia mengaku tak menganggap serius, sebagaimana ancaman bom pada masa lalu. Arab Saudi, kata Sarah, dulunya pernah menjadi tempat paling aman, tapi belakangan ini semuanya berubah. "Tak seorang pun yang aman di mana pun. Tidak juga di rumah kita," katanya.
Ahmad al-Tayeb, seorang warga di Jeddah, juga marah dan bingung. "Saya terguncang dan saya tak bisa percaya bahwa ada orang yang berkeinginan membunuh dan menteror orang tak berdosa pada saat bulan suci ini," tuturnya. Al-Tayeb mengaku, selama tiga jam dia merasa dalam mimpi buruk yang tak mungkin terjadi. "Sasaran mereka anak-anak yang sedang tidur dengan damai di rumah mereka. Apa yang teroris itu inginkan dari anak-anak itu?" katanya.
Kebanyakan warga Saudi dan ekspatriat sangat marah, dan menyebutnya sebagai tindakan berdosa dan tak manusiawi. Abdullah al-Amri, imam Masjid Alkhobar, menyatakan adalah berdosa membunuh dan melukai orang tak berdosa, dan dosa besar membunuh dan melukai orang pada saat bulan suci Ramadan. "Perbuatan itu kontradiktif dengan pelajaran dasar Islam," ujar Al-Amri.
Tapi beberapa orang heran bahwa teroris berhasil mengeksekusi serangan mereka ketika orang Amerika memiliki informasi bahwa sebentar lagi terjadi serangan teroris. Bahkan mulai beredar rumor di kalangan penduduk Saudi yang menyangkal tuduhan bahwa aksi pengeboman dilakukan oleh organisasi Islam semacam Al-Qaidah. Rumor itu menyatakan justru ini merupakan ulah badan intelijen AS, CIA, untuk mengguncang stabilitas Arab Saudi. Maklum, penguasa Saudi dianggap masih mempertahankan tradisi pengajaran keagamaan yang menghasilkan gerakan Islam radikal.
Ledakan bom bunuh diri ini membuat kelompok reformis di Arab Saudi mendapat angin. Mushary al-Zaidi, wartawan dan ahli gerakan radikal Islam, menyatakan tak ada hubungan antara gerakan reformasi yang dimotori kelompok pembangkang Saudi dan aksi teroris. "Individu yang menghendaki korban jiwa (teroris) punya agenda tersendiri. Yang jelas, reformasi bukan agenda mereka," kata Al-Zaidi. Dugaan ini didukung oleh pejabat di Kedutaan Arab Saudi di Inggris. "Teroris ini tak menghendaki reformasi. Pada dasarnya mereka tak ingin rakyat Saudi menjadi bagian dari peradaban dunia," kata Jamal Khashoggi, penasihat media Duta Besar Saudi di Inggris.
Raihul Fadjri (Arab News, Reuters, The Independent)
|