Sudah sampai pada tahap putus asa untuk menghemat bahan bakar kendaraan Anda? Temuan baru ini mungkin solusinya. Menurut para insinyur di Jerman, membungkus mesin dengan plastik bisa membantu memangkas biaya untuk membeli bahan bakar.
Temuan sebuah riset terbaru itu dilaporkan oleh majalah The Engineer edisi terbaru. Disebutkan, para peneliti mendapati bahwa "mengurung" panas di dalam mesin bisa memperbaiki kinerja. Dengan mengurangi panas yang terbuang, bungkus plastik secara teori bisa memangkas konsumsi bahan bakar sampai 5 persen pada musim panas dan 10 persen pada musim dingin.
Sistem itu sudah diuji coba di Cologne University of Applied Sciences. Mobil yang digunakan adalah Volkswagen Golf berkapasitas silinder 1,4 liter. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Norbert Deuben membungkus mesin mobil dengan busa polyurethane setebal 30 mm. Mesin dioperasikan pada suhu 100 derajat Celsius, sebelum kemudian dimatikan.
Meski suhu gas buang cepat turun dari hampir 500 derajat Celsius ke tingkat yang sama dengan suhu ruangan, blok mesin perlu waktu lebih lama untuk menjadi dingin. Setelah kira-kira 15 jam, suhunya hanya turun menjadi sekitar 50 derajat Celsius. Tanpa bungkus, kemungkinan untuk sampai ke suhu itu perlu dua jam.
Tonggak Baru Penelitian Genetika
Bagaimana rupa kode genetika, ilmuwan sudah tahu. Tapi, apa yang sebenarnya dilakukan oleh setiap gen baru tersingkap dengan diterbitkannya peta protein pertama dari suatu organisme yang kompleksseekor lalat buah. Peta itu, yang ditayangkan online di situs jurnal Science sejak Kamis pekan lalu, oleh Joel Bader dari Johns Hopkins University di Baltimore disebut sebagai tonggak dalam penelitian genetika.
Tim peneliti di sejumlah universitas dan di perusahaan bioteknologi CuraGen mengatakan, mereka bahkan sudah menggunakan temuan mutakhir itu untuk mengembangkan obat kanker generasi baru, juga obat sakit jantung dan diabetes.
Menurut Bader, peta baru itu menunjukkan protein mana yang "berbicara" dengan protein yang lain dan bekerja sama di dalam sel. "Tak cukup hanya dengan mengetahui bagian mana yang membentuk sebuah sel manusia. Anda mesti tahu bagian mana yang bekerja sama. Ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit-penyakit genetis, dan akan menambah pengetahuan kita tentang biologi dasar, pemahaman kita tentang bagaimana sel bekerja," ujarnya.
Lalat buah (Drosophila melanogaster) adalah favorit para peneliti untuk melakukan berbagai percobaan. Bedanya dengan manusia memang besar dan jelas. Tapi, pada tingkat genetika, besar pula kesamaannya.
John Chant dari CuraGen dan para koleganya di Johns Hopkins, Wayne State University School of Medicine, dan Yale University School of Medicine memusatkan perhatian pada bagaimana interaksi ribuan protein di dalam tubuh lalat buah terjadi. Protein antara lain berfungsi membangun molekul dan sel. Pemahaman terhadap hal ini bisa membantu menemukan obat-obatan baru bagi berbagai penyakit yang bersifat genetis.
Peta yang mereka hasilkan meliputi 7.000-an protein dengan 20 ribu lebih interaksi. Kebanyakan protein, kata para peneliti, mirip dengan yang dihasilkan oleh manusia. Misalnya, apa yang disebut BCL6, yang membuka peluang bagi pengembangan obat-obatan tertentu. CuraGen menyatakan telah memanfaatkannya dalam proyek pengembangan obat baru.
Menangkap Penjahat dengan Nanoteknologi
Dengan tambahan bantuan teknologi yang lebih maju, di masa depan sidik jari bakal semakin andal untuk menangkap penjahat. Bantuan itu, menurut para ilmuwan, adalah nanoteknologiteknologi yang berkutat pada materi-materi yang tak terlihat mata.
Selama ini polisi mendapatkan sidik jari di tempat kejahatan terjadi dengan menggunakan bubuk khusus. Ini bisa dilakukan karena minyak pada jari-jari tangan mempunyai daya lekat alami. Tapi, para peneliti di University of Sunderland kini sedang mengembangkan debu yang partikel-partikelnya berukuran setidaknya 1/80.000 diameter sehelai rambut (nanometer). Debu istimewa yang masih dalam tahap awal itu aktif mencari minyak, dalam jumlah seberapa pun.
Menurut hasil penelitian yang dilaporkan majalah New Scientist, dengan debu itu gambaran yang lebih rinci tentang sidik jari yang mengarah ke tersangka suatu kejahatan bakal bisa diperoleh.
Selain ditandai dengan warna yang berpendar dalam gelap, partikel-partikel debu itu dilapisi molekul hydrophobic yang anti-air tapi berkemampuan menarik minyak. Menurut peneliti utama Fred Rowell, debu itu sanggup mengambil bahkan sidik jari yang tertinggal samar-samar. Hasilnya, gambar sidik jari yang diperoleh, katanya, juga akan jauh lebih tajam dan rinci.