Berlomba Menyingkap Atlantis Sekelompok ilmuwan bersiap menempuh ekspedisi mencari kota hilang Atlantis. Padahal, letak lokasinya saja masih diperdebatkan. |
NUN lebih dari 11 ribu tahun lalu, ada sebuah pulau di tengah Samudra Atlantik. Penghuninya masyarakat berperadaban dan berteknologi maju. Negara pulau ini menjadi pusat peradaban, perdagangan, dan aktivitas bisnis. Pengaruhnya menyebar hingga Eropa dan Afrika. Peradaban ini bernama Atlantis.
Filsuf Yunani kuno kesohor, Plato, menulis nukilan tersebut dalam Dialog Timaeus dan Critias pada 360 Sebelum Masehi. Dalam dialog itu, lebih jauh ia menguraikan perihal sebuah masyarakat yang sejahtera. Sebuah kota ajaib yang dikelilingi tembok penahan air. Sebuah kuil untuk memuja Poseidon, dewa laut dalam mitologi Yunani, berdiri kukuh berlapiskan emas dan perak. Juga kanal-kanal penghubung dengan dunia luar. Di sini aneka macam tanaman obat bisa tumbuh, begitupun buah-buahan dan kacang-kacangan.
Apa yang digambarkan Plato pada 2.500 tahun lalu itu telah memicu perdebatan panjang di kalangan ilmuwan dan penjelajah selama berabad-abad. Kisah tentang Atlantis menginspirasi Jules Verne untuk menghasilkan tulisan-tulisan petualangan yang hebat. Diktator Jerman Adolf Hitler pernah berancang-ancang mencari pulau itu. Walt Disney membuat Atlantis laku dijual lewat film-film fiksinya. Toh, tetap saja misteri Atlantis belum terpecahkan.
Kali ini giliran Profesor Jacques Collina-Girard, bersama dua pentolan ekspedisi Titanic, Paul-Henri Nargeolet dan George Tulloch, yang mengibarkan misi memburu Atlantis. Dinamai Ekspedisi Deep Med One, misi itu menggalang dana US$ 250 ribu-500 ribu (Rp 2,1 miliar-4,2 miliar). Rencananya, tim ekspedisi mulai bergerak bulan depan menuju wilayah yang oleh Collina-Girard disebut sebagai lokasi Atlantis.
Pulau Utopia itu, berdasarkan perhitungan Collina-Girard, ada di sekitar Selat Gibraltar, Spanyol. Yang akan disasar tak lain dari lokasi seluas 20 mil di selatan Tarifa, dan 12 mil barat laut Tangier, Aljazair. Untuk pekerjaan ini, Collina-Girard berbekal kapal selam yang bisa mencapai kedalaman 1.000 meter. Tak muluk-muluk, tim ini "hanya" akan mencari sisa-sisa kuil Poseidon, runtuhan bangunan, dan sisa-sisa artefak prasejarah.
"Kami berharap bisa menemukan artefak, tapi sungguh kami tak bisa membuat perkiraan yang lebih terperinci, soalnya wilayah yang akan kami selami—dari perspektif penyelaman—benar-benar belum pernah dijelajah," ujar Nargeolet. Ia menambahkan bahwa target utama misi kali ini adalah mengumpulkan sebanyak mungkin apa yang bisa diambil untuk ekskavasi pada ekspedisi lanjutan yang diperkirakan akan dilakukan musim panas (Juni) tahun depan.
Pemilihan Selat Gibraltar bukan tanpa persoalan. Selama ribuan tahun diskusi perihal lokasi Atlantis tak pernah kering. Beberapa menyebut Atlantis berada di daerah Laut Tengah sekarang. Yang lain bilang, Atlantis ada di Azores. Teori lain lagi menyebutnya berada di suatu wilayah di Laut Celtic, Inggris. Bahkan ada yang menyebut Atlantis di Laut Cina Selatan. Yang mana yang benar, barangkali cuma Plato yang tahu. Tapi Plato tidak pelit. Ia berteka-teki dan menyebut Atlantis terhampar di seberang pilar-pilar Herkules.
Collina-Girard menelusuri berbagai literatur untuk memecahkan makna pilar-pilar Herkules. Salah satu yang dijadikan acuannya adalah literatur tentang migrasi manusia dari Eropa ke Afrika Utara yang terjadi pada pertengahan zaman es terakhir. Ini kira-kira 19 ribu tahun yang lalu. Collina-Girad ingin tahu apakah manusia zaman batu ketika itu pernah melewati sesuatu yang dekat dengan istilah pilar-pilar Herkules.
Upaya itu tak mudah karena permukaan air laut ketika itu 140 meter lebih rendah dari sekarang. Dari sini disimpulkan bahwa yang dimaksud pilar-pilar tak lain dari sebuah selat. Setelah peta ditarik, diketahui bahwa Selat Gibraltar sekarang merupakan pintu gerbang migrasi manusia batu ketika itu.
Collina-Girard lantas berkesimpulan bahwa Atlantis berada di depan Selat Gibraltar. Menurut penelitian Collina-Girad, di depan Selat Gibraltar memang pernah ada sebuah pulau di zaman es, dulu. Pulau ini sekarang sudah terkubur, tepi-tepinya disebut penduduk setempat sebagai bantaran Spartel atau Majuan.
Atlantis itulah yang diperkirakan Collina-Girard sebagai batu loncatan manusia purba untuk menyeberang dari Eropa ke Afrika Utara sampai 11 ribu tahun lalu. Tahun yang, menurut Collina-Girard, sama persis dengan cerita Plato perihal Atlantis dalam Dialog Timaeus dan Critias.
Namun teori itu sudah mendapat bantahan. Misalnya dari Robert Sarmast, ilmuwan Amerika Serikat yang tinggal di Los Angeles. Menurut Sarmast, Atlantis berlokasi di sekitar Siprus. "Wilayah ini merupakan jantung dunia lama," katanya.
Sarmast mendasarkan keyakinannya atas data geologi bahwa massa tanah gunung-gunung di Siprus—yang paling tenar adalah Gunung Olympus—merupakan lantai dari lautan. Dengan menggunakan pencitraan kedalaman laut, Sarmast membuat simulasi permukaan bawah laut berdasarkan 50 petunjuk yang terdapat dalam Dialog.
Model peta tiga dimensi kemudian dibuat, dan dengan menurunkan permukaan air laut hingga 1.600 meter, menurut Sarmast, muncullah Atlantis. Terbentang dari timur laut Siprus hingga Suriah di Laut Tengah. Inilah yang disebut Sarmast sebagai peta Plato. "Dialog Timaeus dan Critias benar-benar merupakan peta harta karun," ujarnya.
Siapa yang benar, atau justru dua-duanya keliru, masih harus dibuktikan. Yang jelas, ada ilmuwan lain yang melihat upaya Collina-Girard dan Sarmast sebagai kesia-siaan belaka. Persoalannya bukan pada perdebatan di mana lokasi Atlantis dan menerjemahkan "peta Plato" yang ada dalam Dialog, tapi justru pada kebenaran isinya. Soalnya, kisah Atlantis dan terbenamnya pulau itu akibat kutukan Tuhan bisa ditemukan dalam mitologi kuno lainnya. Sebut saja kisah dari Babilonia, Asiria, Persia, Mesir, hingga Amerika Selatan. Menurut Sophocles Hadjisavvas, Direktur Departemen Purbakala Siprus, Atlantis tak lebih dari mitos.
Sarmast sendiri bergeming dalam keyakinannya. "Heinrich Schliemann menemukan Kota Troya dengan mengikuti petunjuk dalam Iliad-nya Homer," ujarnya, merujuk penjelajah Jerman yang menemukan kota kuno Troya pada 1873. "Sebelum itu, arkeologi mengatakan bahwa Troya cuma mitos. Ternyata tidak. Begitu pula dengan Atlantis," Sarmast beralasan. Maka, Sarmast pun menggalang dana, menantang Collina-Girard mencari Atlantis pada arah berbeda.
Agus Hidayat (berbagai sumber)
Di Mana Letak Atlantis?
Laut Celtic, Inggris
Teori ini dibuat oleh ilmuwan Rusia dari Institut Meta-Sejarah Moskow. Para ilmuwannya berhasil mengidentifikasi daratan seluas 100 mil persegi di sebelah barat daya Inggris. Yang dijadikan acuan tak lain dari naskah Yunani kuno. Mereka percaya Atlantis berlokasi di sebuah bantaran tunggal kecil di dasar Atlantik. Persisnya di ujung cekungan Celtic. Deskripsi lokasi ini cocok dengan mitologi Cornish tentang dataran Lyonesse yang dikenal juga sebagai Kota Lions. Mitologi ini menyebut Lions terletak antara Cornwall di Inggris dan Kepulauan Sisilia.
Kepulauan Azores
Salah satu tempat yang kerap disebut adalah gugusan kepulauan ini. Terletak 1.500 kilometer sebelah barat pantai Portugal, kepulauan ini memang milik Portugal. Diyakini, pulau-pulau ini merupakan puncak dari kota yang hilang, Atlantis.
Di Tengah Lautan Atlantik
Seandainya Plato berkata jujur dalam Dialog Timaeus dan Critias, Atlantis berada di suatu tempat di tengah-tengah Lautan Atlantik.
Pulau Thera
Pulau ini terkait dengan teori bahwa Atlantis merupakan eksagregasi dari sejarah hancurnya Thera dan Kerajaan Minoa. Pulau Thera dikenal pula dengan Santorini, terletak di sebelah utara Pulau Kretawilayah yang dikelilingi laut antara Asia dan Eropa. Suatu ketika, pada 1500 SM, pulau ini hancur akibat letusan gunung berapi. Bencana in sekaligus mengakhiri kehancuran peradaban Minoa.
Pulau di seberang Selat Gibraltar, Spanyol
>Ini terkait dengan pernyataan Plato bahwa Atlantis ada di seberang pilar-pilar Herkules. Ini kalau benar bahwa yang dimaksud pilar Herkules itu adalah Selat Gibraltar.
Antara Siprus dan Suriah Temuan Sarmast yang merujuk pada 50 petunjuk dalam Dialog yang disebutnya sebagai Peta Harta Karun Plato.
Jika Anda percaya bahwa Atlantis hanya alegori yang dibuat Plato, pulau ini tentu saja ada dalam salah satu bagian otak Plato yang paling dalam.
Agus Hidayat
|