Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Gaya Hidup

Dogmar, Leica, dan Saksi Zaman

Klub penggemar kamera antik satu-satunya di Indonesia ada di Semarang. Sebuah kelompok yang cinta mati pada tustel manual yang sudah uzur.

Kamera adalah saksi zaman. Dia membekukan jutaan peristiwa. Djoni Santoso, seorang kolektor kamera tua asal Semarang, menghargai kesaksian itu dengan sepenuh jiwa: sekitar 150 kamera ia pajang di ruang tamu rumahnya di Jalan Karang Wulan Sari, Semarang, Jawa Tengah. Semuanya tertata rapi di etalase dan almari. Tak satu pun kamera yang kembar dengan yang lain. Seluruhnya tergolong manual dan antik, keluaran tahun 1900-1980. "Yang dipajang di sini baru sebagian. Masih ada 100-an kamera lagi yang saya simpan di kolong tempat tidur," katanya

Pekan lalu, Djoni mengajak TEMPO menjelajah ruang tamu seluas 12 meter persegi itu. Pada Februari, ruang tamu itu diresmikan sebagai "Pustaka Kamera Klasik". Ratusan pencinta fotografi hadir pada saat itu. Ini memang museum unik yang pertama dan satu-satunya di Indonesia ini. "Saya enggak meniru siapa pun. Ini impian yang sudah saya pendam sejak lama," kata Djoni. Matanya berbinar bangga. Tampak betul bahwa cinta lelaki 47 tahun ini jatuh di kamera.

Dan cinta itu terpantul pada koleksinya, yang meliputi hampir semua merek kamera buatan pabrik di Eropa, Amerika, ataupun Asia. Ada Zeiss Ikon, Agfa, Voigtlander Vitorets, Finetta, Cosina, Seagull, Halina, Vinon, Dogmar, Thornton Pickard, Nikon, Fuji, Minolta, dan kamera legendaris Leica. Di antara aneka koleksi itu, hadirlah Minox ECX warna perak dengan format film 8x11 mm, diafragma 5,6, berlensa 16 mm. Dengan bobot hanya setengah ons, kamera seukuran saku kemeja ini pernah nampang dalam salah satu film James Bond di tahun 1980-an.

Tampilan fisik kamera di museum ini memang banyak yang telah kusam. Tapi, Djoni menjamin semua pajangannya dapat berfungsi sempurna. Dia lantas menunjuk foto Gereja Bleduk, ukuran 10R, yang tampak berkarakter kuat dengan detail relief yang tajam. Bangunan ini tersohor sebagai landmark kawasan kota lama Semarang. Djoni memotretnya dengan Rollecord, kamera buatan Jerman tahun 1957—salah satu kesayangan Djoni.

Selain Rollecord, ada lagi dua koleksi kebanggaan Djoni. Yakni dua kamera kayu keluaran awal tahun 1900—saat dunia fotografi baru di awal perkembangan. Keduanya adalah merek Thornton Pickard (buatan Inggris) dan Dogmar (buatan Jerman). Bodi kedua kamera kayu ini masih mulus, rangkaian mekaniknya juga masih berfungsi seperti sediakala. Hanya, keduanya membutuhkan film berukuran 20x30 cm yang sudah tidak diproduksi pabrik zaman sekarang. "Dogmar ini koleksi saya yang terbaru," tutur Djoni sambil membelai bodi si kamera kayu. Djoni membelinya dari seorang ibu yang ditinggal suaminya dengan harga Rp 3 juta.

Kecintaannya pada kamera tua, Djoni mengisahkan, bermula pada 30 tahun silam. Kala itu, 1972, Djoni muda bekerja sebagai kernet atau asisten Koo Lian Bik, ahli reparasi kamera ternama di Semarang. Empat tahun dia belajar pada Koo, yang dikenal teliti dan lihai menyembuhkan penyakit kamera manual.

Tahun 1982, Djoni memberanikan diri membuka usaha servis kamera. Sebagai dokter kamera, dia paham segala jenis penyakit kamera, baik penyakit khas bawaan merek maupun penyakit karena kebiasaan si pemilik. Hingga kini, paling tidak 50 ribu kamera sakit sudah dia sembuhkan. "Saya enggak bisa tidur jika ada kamera rusak yang belum bisa saya betulin," kata bapak dua anak ini.

Tak jarang Djoni menerapkan teknik kanibal: menggunakan onderdil kamera untuk mereparasi kamera lain yang sudah lanjut usia. Djoni juga punya langganan perajin logam yang lihai merancang aneka suku cadang kamera yang tak ada lagi di pasaran. Sekrup, per, gir penggerak roda mekanik, misalnya, bisa dibuat sama persis dengan versi asli, demi memperpanjang umur kamera yang uzur.

Tahun 1981, Djoni memutuskan tak sekadar jadi dokter kamera. Ia mulai serius mengkoleksi kamera kuno yang baginya lebih mengagumkan ketimbang kamera modern. Teknologi pembuatan kamera kuno selalu lebih rumit, andal, dan tidak instan seperti halnya kamera zaman sekarang. Ada juga alasan emosional yang mendorong Djoni berburu kamera antik. "Bangga, dong," katanya, "Jika punya kamera yang unik dan langka."

Djoni pun mengumpulkan sen demi sen uangnya demi berburu kamera. Wilayah perburuannya meliputi toko-toko barang bekas yang ada di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Tahun 1988, sebuah Nikon F1 orisinal buatan tahun 1965 dibeli Djoni dari seorang pedagang di Pasar Baru, Jakarta, dengan harga Rp 5 juta. "Bagi saya, harga itu mahal banget. Seluruh tabungan saya terkuras," tuturnya mengenang. Maklum, penghasilan Djoni hanya dari reparasi kamera, yang bertarif rata-rata cuma Rp 25 ribu per buah. Beruntung, Sumaryati, istri Djoni, mendukung hobi sang suami dan tak mempermasalahkan duit yang selalu tersedot untuk kamera.

Perlahan-lahan, koleksi Djoni terus membukit. Sebagian besar berupa kamera rusak yang dibuatnya berfungsi kembali. Belasan kamera lain dia dapatkan dari sumbangan sesama pencinta fotografi. Kamera Agfa Clock buatan tahun 1950, misalnya, adalah pemberian Ger Hop, seorang fotografer dari Belanda yang kagum pada kemampuan dan dedikasi Djoni.

April 2003, Djoni mendirikan Tustel Photo Antique Club (TPAC). Anda ingin bergabung? Ada syaratnya, yakni pencinta fotografi yang paling tidak punya satu kamera manual buatan 1970 atau sebelumnya. Sejauh ini sudah ada 20 orang anggota klub yang berkumpul minimal sebulan sekali. Agendanya, ngobrol-ngobrol seputar kamera atau berburu foto bersama. "Ini klub yang pertama di Indonesia," kata Benny Masli, 56 tahun, kolektor kamera antik sekaligus anggota TPAC.

Benny punya koleksi sekitar 50 kamera antik. Dan inilah alasannya mengapa ia terpikat pada kekunoan alat potret. "Kuno itu bersejarah, langka, unik, dan asyik," kata Benny, "Bangga rasanya punya kamera yang jarang dimiliki orang lain," dia meneruskan. Seperti Djoni, Benny rajin menjelajah pasar loak dan toko barang bekas di berbagai kota demi menambah koleksinya. "Kita harus telaten dan jeli mencari, karena tidak ada toko khusus kamera kuno," tutur Benny.

Apa sesungguhnya daya tarik kamera manual? Daniek G. Sukarya, seorang fotografer yang tinggal di Jakarta, sepakat bahwa kamera manual punya daya tarik tersendiri. Gambar yang dihasilkan kamera manual, apalagi yang sudah kuno, mencerminkan keahlian dan upaya seorang fotografer. Ini berbeda dengan kamera digital siap pakai. Keahlian bukan di tangan fotografer, melainkan ada di dalam kamera digital. Walhasil, "Tak ada drama dan ketegangan di sana," katanya.

Daniek mengaku, secara khusus dia jatuh cinta pada Leica karena banyak foto legendaris kelas wahid—termasuk karya fotografer Henry Cartier Bresson—yang dipotret dengan kamera ini. Suara jepretan yang lembut khas, bodi mantap, dan kualitas optik serta mekanik Leica amat terjaga. Komplet sudah aura keagungan Leica bagi Daniek yang sering memotret bentang alam (landscape) ini.

Karena itu, dia tak segan berburu Leica ke berbagai toko bekas. Atau lewat "jalur barter" antar-sesama fotografer di dalam ataupun luar negeri. Hasilnya, sudah belasan Leica berbagai versi terkumpul di lemari khusus yang berpendingin udara miliknya. Ada Leica M3, Leica F buatan tahun 1950, Leica 6 dengan 4 bodi dan 6 lensa, juga Leica MP yang merupakan edisi terbatas dengan harga US$ 3.000-4.000. Melalui sebuah lelang, Daniek bahkan menggaet Leica CL dengan dua lensa, milik almarhum Menteri Luar Negeri Adam Malik. Sayang, Leica bersejarah ini dalam kondisi rusak parah dan tak bisa diperbaiki.

Entahlah, Daniek tak ingat persis berapa uang telah dibelanjakan demi koleksinya. Bagi dia, yang terpenting seluruh kameranya mewakili semangat dan cintanya akan dunia fotografi. Itu sebabnya dia menolak jika dirinya sekadar disebut kolektor. Katanya: "Kamera saya bukan sekadar pajangan."

Mardiyah Chamim, Yura Syahrul (TNR), Sohirin (TNR-Semarang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data