Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/XXXI/17 - 23 November 2003
   
Buku

Fundamentalisme Yes, Sekularisme Yes

Menurut Peter L. Berger, fundamentalisme dan sekularisme bukanlah dua titik yang tak bisa disatukan.

Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia (The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics)
Penulis : Peter L. Berger (sekaligus editor), George Weigel, David Martin, dkk.
Penerbit : Arruz,Yogyakarta, Februari 2003, 216 halaman
Penerjemah : Hasibul Khoir

Fundamentalisme adalah terminologi yang seksi. Terma ini umumnya dipahami sebagai gerakan agama yang keras, menantang modernitas, dan menjadi masalah bagi tatanan dunia. Di sisi yang lain, ada sekularisasi, sebuah gerakan yang memisahkan agama dari kehidupan dunia. Fundamentalisme dan sekularisasi menjadi dua entitas ideologis yang bertolak belakang dan selalu bermusuhan.

Peter L. Berger, editor buku ini, menggugat sekularisasi sambil mencari titik temu antara sekularisasi dan fundamentalisme. Menurut dia, mengabaikan agama dalam analisis terhadap masalah kontemporer sangat berbahaya. Ia tak menolak pendapat yang menafikan peran agama dalam kehidupan modern, tapi katanya, "Sebaiknya kita secara jernih menerima mana sisi positif kemodernan seraya tidak mengabaikan peran agama."

Sang sosiolog menawarkan dua strategi untuk menengahi perseteruan fundamentalisme dan sekularisasi. Yang pertama adalah revolusi agama (religious revolution), yaitu perubahan masyarakat secara keseluruhan dengan menghadirkan model agama yang modern. Perubahan ini diprakarsai kaum agamawan. Yang kedua adalah subkultur agama (religion subcultures), yakni sebuah upaya mencegah pengaruh yang secara negatif masuk ke agama.

Berger dan kawan-kawan lalu memaparkan enam gagasan pemahaman agama moderat yang telah terjadi dalam sejarah. Pertama, gerakan pembaruan yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II dari Katolik Roma. Paus memposisikan dirinya sebagai penyeru kebenaran bagi publik tapi tidak mau bersikap sektarian. Dengan cita-cita kebebasan, moralitas, dan kemanusiaan, Paus mengharapkan agar umat Katolik mampu bersikap adaptif dengan kemodernan.

Kedua, kebangkitan Evangelis pada Kristen Protestan. Evangelisme ingin menjadi kelompok penekan yang mempengaruhi kepentingan-kepentingan institusional agama dengan "prinsip-prinsip moral" yang luas. Evangelisme bukan gerakan fundamentalisme karena tak ingin melakukan hegemonisasi ideologis dan tak berambisi menerapkan hukum agama ke wilayah publik.

Ketiga, Judaisme, terutama yang terjadi di kalangan muda Yahudi. Tak seperti kalangan tua yang kolot, kalangan muda Yahudi lebih damai dan lebih suka mendialogkan ajaran agamanya secara kontekstual. Menurut Sacks—salah seorang penulis—kemunculan mereka telah membantah gambaran tentang kaum Yahudi yang tidak toleran dan pendukung Israel bahkan menjadikan Yahudi kaum yang halus dan bermoral.

Keempat, agama dan gereja di dataran Eropa. Grace Davie menilai agama sangat berperan di Eropa melalui monoteisme Judeo-Christian, rasionalisme Yunani, dan organisasi Roma.

Kelima, kebangkitan agama di Cina. Nilai-nilai pencerahan yang muncul sejak Gerakan 4 Mei (May Fourth Movement) menyebabkan nilai-nilai agama terpinggirkan di era kontemporer Cina. Di tengah suasana krisis ini, Kristen masuk, Buddhisme makin kuat, dan Islam berkembang. Dalam pluralitas agama ini, kesadaran keberagamaan makin terbuka di Cina.

Keenam, peneguhan identitas Islam tapi bukan melalui penegakan syariat secara keras oleh negara. Khusus mengenai Islam, An-Naim, salah seorang penulis buku ini, setuju dengan upaya mendekatkan sekularisme dan Islam.

Munculnya kelompok "moderat" yang melihat modernitas sebagai "tantangan" (challenge) dan memandang bahwa peran agama sebaiknya muncul pada dataran substansial dan moral akan mampu mendamaikan ekstremitas fundamentalisme dan sekularisme.

Buku ini merekam pemikiran beberapa tokoh dari agama masing-masing yang bisa kita kelompokkan ke dalam kubu moderat. Berger mengatakan bahwa "dunia saat ini mengalami penguatan religiusitas dan bukan dunia yang sekuler seperti yang diprediksikan para analis." Berangkat dari kenyataan faktual seperti diungkap Berger, tugas kita adalah bagaimana mendialogkan tradisi dan modernitas agar menjadi berimbang dan signifikan.

Happy Susanto

(Peneliti di The International Institute of Islamic Thought Indonesia)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data