Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 37/XXXII/10 - 16 November 2003
   
Luar Negeri

Permen Berbalas Mortir

Ada taksi yang berhenti di satu sudut jalan, tak jauh dari seorang laki-laki yang kelihatan sedang menanti. Semua tampak normal. Laki-laki itu segera mendekat ke jendela pengemudi. Tak lama mereka berbicara. Seolah tak ada kecocokan harga, taksi pergi dan laki-laki itu pun menghilang.

Beberapa jam kemudian terdengar ledakan mortir dan rentetan tembakan, yang sasarannya markas militer Amerika Serikat atau iring-iringan pasukan AS di Tikrit, kota kelahiran bekas presiden Saddam Hussein.

Itulah cara gerilyawan Irak menghantam pasukan AS di Tikrit, kota paling sengit melakukan perlawanan terhadap pasukan pendudukan AS dan koalisinya. Pengemudi taksi tersebut membawa perintah, lengkap dengan lokasi dan waktu serangan. "Kami memiliki cara khusus mengirim perintah, dengan kata kunci yang hanya diketahui beberapa pengemudi," ujar Umar Saleh, 22 tahun. Umar—bukan nama sebenarnya—adalah anggota kelompok bawah tanah "Pasukan Muhammad" yang terbentuk Mei lalu, saat AS menumbangkan Saddam Hussein.

Kelompok Umar hanya satu dari enam kelompok yang ada. Masing-masing memiliki sekitar 100 anggota. Sebagian besar dari 100 anggota kelompok Umar adalah bekas milisi Fedayeen, kelompok milisi yang sudah teken kontrak hidup-mati membela Saddam Hussein. Setelah pasukan AS menyapu kawasan utara Irak dari Baghdad dan menduduki Tikrit April lalu, Saleh dan temannya anggota milisi Fedayeen terlunta-lunta. Mereka sudah bergabung dengan Fedayeen sejak remaja. Ia tanpa pekerjaan, dan kemarahannya menggelegak ketika AS menduduki Tikrit.

Kelompok Umar lebih banyak menyerang markas tentara AS. Penghubung Umar memerintahkan dua serangan selama dua pekan belakangan ini. Perintah pertama, Ahad kemarin, ketika Umar dan tiga lainnya diperintahkan bertemu setelah tengah malam untuk menyerang pangkalan militer AS di luar Kota Tikrit dengan granat tangan dan mortir. "Kami bisa mendengar serdadu menjerit," kata Umar.

Serangan kedua, Rabu pekan lalu. Umar dan sembilan temannya berkumpul di pangkalan lainnya dan mengirim mortir ke kompleks pangkalan AS dari jarak kejauhan.

Kemarahan tak terbendung. Pasukan AS, Kamis tengah malam 30 Oktober, mengepung Desa Uja, desa kelahiran Saddam Hussein yang terletak di tenggara Tikrit. Mereka mengurung desa dengan membentangkan kawat di sekeliling desa dan mendirikan pos pemeriksaan. Setiap penduduk harus menunjukkan kartu identitas yang dikeluarkan militer AS.

"Ini upaya melindungi mayoritas penduduk yang ingin hidup," kilah Letnan Kolonel Steve Russel, komandan batalion infanteri yang memimpin operasi di kampung halaman Saddam Hussein. Sejatinya, pasukan AS itu mengobrak-abrik Desa Uja karena desa ini diduga menjadi pusat perlawanan, pembiayaan, dan rencana serangan terhadap pasukan AS. Sejauh ini pasukan Russel belum memperoleh bukti, dan penduduk bungkam.

Gagal mengakali penduduk dewasa, pasukan AS mencoba membujuk anak-anak supaya menjadi mata-mata dengan iming-iming permen. Anak-anak itu menerima permen, tapi mereka tetap membenci pasukan Amerika. "Saya ingin menembak pesawat Amerika," ujar Abdullah Wahab, 11 tahun.

RFX (AP, San Francisco Chronicle)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data