Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Wawancara

Semua terjadi begitu saja. Sebuah kecelakaan maut terjadi Rabu malam, 8 Oktober 2003, di jalan raya Situbondo-Probolinggo, Jawa Timur. Bus pariwisata AO Transport yang membawa siswa SMK Yapemda I Sleman bertabrakan dengan truk trailer dan truk diesel di Desa Banyu Urip, Situbondo. Semua penumpang bus, 54 siswa dan guru, tewas terpanggang dalam bus yang terbakar.

Suasana duka datang menyelimuti. Keluarga korban histeris, ucapan belasungkawa datang dari pelosok negeri, di antaranya dari Presiden Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Amien Rais, dan sejumlah menteri. Itulah kecelakaan lalu lintas terbesar sejak tabrakan kereta api di Bintaro yang menewaskan lebih dari 100 orang.

Menurut polisi, tak ada yang salah dengan bus itu: surat-surat kendaraan lengkap; kondisi mesin pada hari nahas itu prima. Perbedaan tinggi jalan dan tinggi bahu jalan, kata polisi, juga ideal. Marka jalan yang menandakan larangan menyalip sepanjang jalur itu masih jelas terlihat. Selain itu, rambu-rambu lalu lintas 300 meter menjelang lokasi kejadian juga masih lengkap.

Sopir bus juga dalam keadaan sehat, tidak mabuk atau mengantuk. Arwan, 34 tahun, sopir bus maut itu, adalah satu-satunya orang yang selamat. "Saya meloncat," katanya.

Polisi lalu menetapkan Arwan bersama Chodjin, 45 tahun, dan Muhammad Syafi'i, 25 tahun (keduanya pengemudi dan kernet truk) sebagai tersangka dalam kecelakaan itu. Ketiganya kini ditahan di Polres Situbondo. "Dalam satu dua hari ini berkasnya akan rampung dan segera dilimpahkan ke kejaksaan," kata Ajun Komisaris Erik Apriyono, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Situbondo.

Arwan dituding bersalah dan diancam hukum penjara maksimal 15 tahun. Adapun Chodjin dan Syafi'i dijerat ancaman hukuman 5 tahun karena dianggap lalai sehingga menyebabkan kematian orang lain.

Polisi juga telah memeriksa lima orang saksi, yakni M. Bahri, pengemudi truk pengangkut mangga yang ikut tertabrak bus, Abdul Kadir Jaelani dan Musthofa. Dua yang terakhir adalah warga Bondowoso yang berada dalam kendaraan pribadi yang berada tepat di belakang truk mangga.

Lalu ada nama Usman, tukang ojek yang berada di lokasi dan mengaku melihat Chodjin dan Syafi'i duduk di pinggir jalan tak jauh dari bus yang terbakar. Saksi lain adalah Totok Baroto, koordinator kegiatan karyawisata maut tersebut.

Setelah sepekan berlalu, polisi menemukan titik terang tentang mengapa peristiwa tragis itu terjadi. Rupanya truk trailer yang bertabrakan dengan bus anak sekolah itu tidak dikemudikan oleh Chodjin, sang sopir asli, melainkan oleh kernet Syafi'i. Kepada polisi Syafi'i mengaku mengemudikan truk sekitar satu jam. Padahal Syafi'i hanya mengantongi SIM A, bukan izin mengemudikan truk trailer.

Polisi juga menemukan bahwa rem belakang truk tidak berfungsi. Kepada TEMPO, Chodjin dan Syafi'i mengakuinya. Tapi, "Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidur ketika Syafi'i mengemudikan mobil itu," kata Chodjin tergagap. "Saya memang tidak sempat mengerem karena situasi mendadak sekali. Saya membanting truk ke arah kanan dan menabrak bus itu," kata Syafi'i, bujangan asal Gresik. Menurut Chodjin, pergantian sopir itu dilakukan setelah istirahat 30 menit untuk makan dan mandi di warung nasi di daerah Nguling, Probolinggo.

Untuk mengetahui bagaimana persisnya kejadian malam itu, wartawan TEMPO Mahbub Djunaidy menemui Arwan di ruang Unit Kecelakaan Lalu Lintas Mapolres Situbondo, Rabu siang pekan lalu. Arwan berusaha tegar meski ia gugup dan air mukanya kusut masai. Ia mengenakan kaus oblong warna hitam bergaris merah, celana krem kusam, dan sandal jepit. Lima batang rokok filter dihabiskannya selama wawancara kurang dari satu jam tersebut. Berikut petikan wawancara dengan warga Desa Panggung Hardjo, Bantul, Yogyakarta itu.



Ceritakan apa yang terjadi sebelum tabrakan maut itu.

Rombongan berangkat dari Hotel Queen II di Jalan Teuku Umar, Denpasar, sekitar pukul delapan pagi. Bus yang saya kemudikan berada di urutan paling belakang. Ketika berangkat dari Sleman, Minggu 5 Oktober 2003, bus saya berada di urutan nomor dua. Tetapi, begitu tiba di sekitar Bangil, Pasuruan, entah kenapa kaca jendela di samping kanan pecah. Akhirnya, setelah sempat berhenti, rombongan sepakat menempatkan bus saya di posisi terakhir, meskipun nomor urut rombongan yang tertempel di kaca depan bus tetap nomor 2. Posisi seperti itu tetap dijalankan hingga perjalanan pulang. Andai saja urutannya tetap, mungkin bus saya tak akan celaka.


Kenapa rombongan memilih lewat Pantura dan tidak jalur selatan yang lebih pendek?

Memang sudah jadi kebiasaan AO Transport, kalau penumpang domestik lewat jalur pantura, tetapi kalau membawa turis asing hampir selalu lewat jalur selatan.


Apakah Anda lelah pada hari kecelakaan itu? Apakah rombongan sempat singgah untuk istirahat?

Kami singgah di Restoran Pasir Putih Indah, di kawasan Pantai Pasir Putih, Situbondo, sekitar pukul 18.30 WIB. Kami makan bersama. Saya makan nasi telur dadar dan sayur kacang panjang. Saya minum air jeruk. Jadi bukan minuman beralkohol. Saya memang suka kopi ginseng atau minuman ringan. Tapi tes polisi tidak menemukan saya mengkonsumsi alkohol.


Sempat mengecek kondisi bus?

Ya. Kondisinya bagus semua: roda dan mesin berjalan baik.


Surat kendaraan Anda lengkap?

Lengkap. Semuanya. SIM, STNK, dan surat perjalanan. KIR masih berlaku sampai tanggal 12 November 2003.


Bus Anda buatan tahun berapa?

Mobil itu Mercedes Benz yang dibeli perusahaan tahun 1998 dan mulai dipakai AO Transport tahun 1999. Tahun pembuatannya saya lupa.


Sudah berapa lama Anda mengendarai bus itu dari Yogya hingga kecelakaan terjadi?

Kami berangkat Minggu pagi. Berada di Bali dua hari satu malam, lalu Rabu siang kembali.


Pernah terjadi kerusakan pada kendaraan sebelum terjadi kecelakaan itu?

Tidak. Ya, cuma kaca samping saya, yang pecah di Bangil waktu berangkat. Itu saja. Onderdil lainnya kondisi bagus.


Semua onderdil orisinal?

Perusahaan AO Transport selalu membeli semua onderdil asli dari PT Kali Mas di Yogyakarta.


Anda mengidap penyakit selama ini?

Tidak. Saya sehat-sehat saja. Saya tidak punya penyakit berat.


Kapan Anda mulai belajar mengemudi mobil?

Saya belajar nyetir sejak kelas III SMP di Citeureup, Bogor. Saya diajari tetangga dan teman. Pertama-tama belajar pakai mobil pick up pengangkut sampah. Kemudian mengendarai mobil milik keluarga. Saya dapat SIM A tahun 1989 dari Polda Metro Jaya. SIM B1 dan B1 umum saya dapat ketika menjadi sopir di biro perjalanan Puri Tour di Jakarta. Di perusahaan AO Transport saya juga lulus tes kesehatan dan psikologi.


Bagaimana kecelakaan itu terjadi?

Pukul tujuh malam lebih sedikit, rombongan berangkat dari restoran menuju Sleman. Suasana di dalam bus ramai, anak-anak bercanda. Mereka menonton video musik Sheila on 7 dari televisi di bus. Tiga puluh menit kemudian saya ingin menyalip truk.


Anda tahu bahwa di jalan itu tak boleh menyalip karena ada marka lurus?

Ya. Saya tahu.


Lantas kenapa menyalip juga?

Saya tahu itu tidak boleh. Berbahaya. Tetapi sungguh saya tidak terburu-buru. Saya juga tidak mengira dan tidak melihat ada kendaraan di depan. Karena ada ruang kosong dan sepi, ya saya menyalip saja.


Berapa kecepatan kendaraan Anda waktu itu?

Biasa saja, persneling tiga. (Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Heru Susanto, yang mengutip kesaksian sopir truk mangga, mengatakan, kecepatan truk mangga sekitar 20 kilometer per jam dan hanya berjarak sekitar dua meter di belakang bus nahas itu. "Jadi kecepatan bus hanya sekitar 30 kilometer per jam," kata Heru).


Bagaimana persisnya tabrakan itu?

Begitu saya menyalip truk diesel, posisi saya berada di marka jalan. Tiba-tiba dari jalan menanjak di depan saya muncul trailer itu, yang kemudian tampak membanting setir ke arah kiri. Saya berusaha membanting ke kanan untuk menghindari tabrakan. Tapi terlambat. Bagian kanan depan trailer beradu dengan bagian kiri tengah bus. Lalu saya lihat muncul percikan api di sebelah kiri depan bus.


Siapa yang paling dulu terbakar?

Api membakar tubuh kernet Budi Rahardjo (kernet itu akhirnya tewas setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit—Red.). Saat itu juga pintu depan kanan di sebelah saya terbuka. Saya meloncat keluar. Kemudian Budi yang terbakar juga meloncat keluar dan berlari ke belakang bus sambil berguling di jalan aspal.


Apa yang Anda lakukan setelah di luar bus?

Saya berteriak-teriak meminta anak-anak keluar lewat pintu kanan depan, pintu tempat saya meloncat keluar. Tetapi mereka semua malah lari ke belakang.


Saat itu api sudah masuk ke dalam bus?

Saya lihat api sudah menjalar ke belakang. Mereka berteriak-teriak. Saya juga ikut panik. Saya berlari ke bagian belakang bus minta tolong dua orang pengendara motor dan pengemudi truk diesel. Tetapi mereka tidak menanggapi. Lalu saya berlari menuju pintu kiri belakang bus. Tetapi pintu itu terkunci rapat. Saya lihat hanya tangan-tangan mereka yang menempel di kaca. Saya berusaha memukul kaca pintu dan jendela belakang dengan batu sebanyak tiga kali. Tetapi terlambat. Meskipun kaca pecah, murid-murid itu sudah tidak bergerak. Api sudah membakar seluruh bus. Api membesar karena bagian belakang bus juga menumpuk tas, barang, kursi busa, dan oleh-oleh.


Kenapa pintu belakang terkunci?

Rupanya kait besi pintu salah diputar. Kait besi itu sebesar telunjuk ini (Arwan memainkan telunjuknya yang berputar seperti sebuah engsel). Kalau diputar ke atas, ia akan membuka. Kalau mendatar netral normal, tetapi kalau diputar ke bawah akan mengunci dari dalam. Itu pintu manual, bukan hidrolik seperti yang dipakai bus-bus model baru. Waktu itu saya sudah putus asa. Tidak bisa membuka pintu belakang. Asap dan api sudah memenuhi ruangan bus. Tidak lama kemudian dari dalam bus sudah tidak terdengar suara apa-apa lagi.


Anda tidak berusaha menarik satu atau dua orang untuk keluar dari pintu depan?

Saya nggak menyangka api menjalar secepat itu. Entah mengapa semua penumpang lari ke belakang. Pemandu wisata saja, yang duduknya di antara saya dan kernet, juga ikut lari kebelakang.


Kenapa api bisa menjalar secepat itu?

Tidak tahu. Saya bingung. Mungkin karena kernet bus mengibas-ngibaskan api di baju dan celananya yang terbakar sebelum turun meloncat. (Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Adjar Triadi, kebakaran diduga karena tangki solar truk trailer tertusuk oleh besi siku beton yang digunakan untuk menahan tangki bahan bakar truk itu. Tusukan itu juga mengenai aki sehingga menimbulkan percikan api. Cepatnya api menjalar karena sopir truk trailer mengganti solar dengan BBM oplosan yang dicampur minyak tanah. Padahal, jika menggunakan solar murni, api tak akan dengan mudah menjalar).


Lalu apa yang Anda lakukan?

Saya akhirnya pergi melapor ke Polsek terdekat. Saya diantar dua orang pengendara motor.


Bagaimana perasaan Anda sekarang?

Saya pasrah. Ini musibah. Saya menyesal tidak bisa menolong semua penumpang. Saya rela menerima semuanya. (Arwan tertunduk menatap lantai dengan asap rokok mengepul dari mulutnya).


Keluarga sudah tahu Anda ditahan di sini?

Ya. Bapak mertua dan adik laki-laki saya datang menjenguk dua hari setelah kejadian.


Kabarnya, Anda sempat tak mau makan jatah yang diberikan polisi?

Perasaan saya nggak enak. Tapi sekarang sudah bisa makan dan menyesuaikan diri.




Nama:

  • Arwan bin Suhemi

    Tempat/tanggal lahir:

  • Cilacap, Jawa Tengah, 9 September 1969

    Pendidikan:

  • Lulus Madrasah Aliyah Citeureup, Bogor

    Pekerjaan:

  • Sopir Puri Tour, Jakarta, 1989-Februari 2003
  • Sopir bus AO Transport, Yogyakarta, Maret 2003

    Istri:

  • Aries Hidayat

    Anak:

  • Dhimas Arwansyah Putra (3,5 tahun)


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    28/XXXVII/01 - 7 September 2008

     

    Berita lainnya

    Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
    Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
    Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
    Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
    Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
    Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
    Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
    Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
    Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
    Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data