Lupakan Biaya, Ayo Berselancar |
Enoch Jahjamihardja asyik menatap monitor komputernya. Sesekali tangan kanannya bergeser, lalu, klik, jari telunjuknya memencet mouse. Di layar monitor terpampang sebuah situs berita luar negeri. Tak lama berselang, Enoch sudah tenggelam dalam dunia maya yang tanpa batas.
Tak peduli siang atau malam, kakek berusia 68 tahun itu sering menghabiskan waktunya untuk berselancar (surfing). Maklum, sebagai pensiunan, aktivitasnya tak sepadat dulu. Maka menjelajahi situs-situs Internet menjadi klangenan tersendiri buat Enoch. Tapi, kalau berselancar sesering itu, apa tidak takut tagihan teleponnya melangit? "Enggak, tuh, bahkan sebaliknya. Saking murahnya biaya Internet, yang memakainya berebut, dari anak sampai cucu saya," ujar Enoch tertawa.
Situasi seperti itu, menurut Enoch, tidak terjadi sebelum ia bergabung dengan RTRWnet pada 2001. Setinggi apa pun frekuensi selancarnya, biaya yang harus dikeluarkannya selalu tetap. Soalnya, RTRWnet tidak menggunakan dial-up jaringan telepon untuk masuk ke dunia maya, tapi memakai gelombang radio.
Adalah Michael S. Sunggiardi, pemimpin teknik PT Bonet Utama Bogor—perusahaan penyelenggara jasa Internet (Internet services provider atau ISP)—yang memperkenalkan teknologi itu di perumahan tempat Enoch tinggal. Awalnya, pada akhir 1999, Michael membuat sambungan Internet dari kantor ke rumahnya. Beberapa tetangganya kemudian tertarik bergabung. Michael mendapat ide untuk membuat RTRWnet, yakni memasang sistem local area network (LAN) dari rumahnya ke rumah para tetangga. Pada mulanya, sistem dial-up-lah yang dipakai buat mengakses Internet.
Ide RTRWnet kemudian terus berkembang. Setelah melalui serangkaian uji coba, Michael dan timnya memperkenalkan teknologi jaringan nirkabel (wireless LAN). Pertimbangannya, selain lebih fleksibel, biayanya jauh lebih murah. Proyek percontohan pun digelar dan pelan-pelan penggunaan teknologi nirkabel diaplikasikan di Perumahan Baranangsiang Indah, Bogor.
Begini caranya. Bonet sebagai ISP memancarkan gelombang radio berfrekuensi 2,4 gigahertz. Gelombang radio inilah yang menggantikan fungsi jaringan telepon untuk mengangkut data. Gelombang ini selanjutnya ditangkap peralatan wireless receiver yang juga berfungsi sebagai wireless transmitter. Wireless receiver/transmitter ini bersama sebuah server berada di rumah Michael. Dari rumah Michael, para tetangga mendapat akses Internet lewat kabel yang terhubung ke tiap rumah. Kini sudah ada 23 rumah yang terhubung dalam RTRWnet.
Hasilnya? Selain transmisi datanya cepat, Enoch mengaku bisa berhemat banyak. Sebagai ilustrasi, tiap pelanggan Bonet yang mengambil paket 30 jam pemakaian tiap bulan harus mengeluarkan biaya Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Biaya ini, selain untuk berlangganan, untuk membayar pulsa telepon. Tapi sekarang, ketika kabel telepon tak lagi dipakai, Enoch cukup merogoh kocek Rp 175 ribu.
Tak cuma Enoch yang senang. Taufik, 30 tahun, pemilik sebuah warung Internet (warnet), malah kecipratan rezeki. Karena tarifnya yang murah, Taufik bisa mengenakan harga sewa yang murah buat pelanggannya. Akibatnya, warnet Taufik selalu dibanjiri pelanggan. "Hingga harus rela antre berjam-jam," ujar Taufik. Pelanggan memilih warnetnya karena, selain ongkosnya murah, "Aksesnya lebih cepat," ujar seorang pelanggan.
Taufik mengakui, untuk mendapatkan fasilitas Internet 24 jam tiap hari dengan biaya bulanan tetap itu, biaya awalnya agak mahal, Rp 1,5 juta. Toh, Djoko Susanto, seorang pengguna di Perumahan Bukit Cimanggu Villa, Bogor, menganggap harga segitu wajar-wajar saja. Sebab, duit ini dipakai untuk membeli modem yang dipasang di tempat receiver/transmitter, menambah ethernet card yang dipasang di tiap komputer, serta untuk instalasi kabel ke tiap komputer. "Enggak apa-apa kok biarpun harus bayar segitu," ujar Enoch pula.
Agus Hidayat, Deffan Purnama (Bogor)
|