Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Teknologi Informasi

Mencari Amal Lebih Besar di Luar

Bagi sebagian orang, ia "profesor Internet". Bagi sebagian yang lain, ia tukang protes. Yang pasti, ia tipe orang yang gigih bekerja.

SEBUAH artikel di The Globe and Mail, surat kabar Kanada, akhir September 2003, mengungkapkan kebanggaan atas prestasi menjadikan empat juta orang muda Indonesia melek Internet. Disebutkan, pencapaian itu berkat lembaga riset Pusat Penelitian Pembangunan Internasional (IDRC) dan seorang insinyur Indonesia hasil didikan Kanada, Doktor Onno W. Purbo.

Ketika itu Onno baru saja mendapat Sabbatical Award dari lembaga yang didirikan oleh parlemen Kanada itu. Penghargaan ini tidak datang percuma. Onno, kelahiran Bandung 17 Agustus 1962, dinilai telah mendidik dan memperkenalkan dunia teknologi informasi kepada masyarakat di segala lapisan, termasuk anak sekolah dan mahasiswa.

Nama Onno tak terpisahkan dari sejarah Internet di Indonesia. Tak mengherankan bila bapak lima anak yang beristri Nurlina ini dijuluki "profesor Internet". Bersama klub penggemar radio amatir, Onno yang mahasiswa tingkat master di McMaster University, Kanada, pada 1987 mengutak-atik protokol Internet TCP/IP agar dapat mengirimkan data melalui radio paket. Hanya dengan komputer kelas PC/XT dan pesawat handy-talky dua meter, Onno dapat bertukar e-mail dengan teman-temannya di Indonesia. Itulah cikal jaringan Internet di Indonesia.

Setelah meraih Ph.D. bidang perangkat silikon dan sirkuit terintegrasi di Waterloo University, Kanada, pada 1993, Onno pulang ke almamaternya Institut Teknologi Bandung, jadi pegawai negeri sipil.

Onno pula yang mendirikan Computer Network Research Group pada 1994. Kurang dari lima tahun ia berhasil menghubungkan 25 lembaga pendidikan tinggi ke dalam jaringan Internet pendidikan. Juga menerbitkan 20 buku panduan konsep jaringan dan Internet berbahasa sederhana untuk pembaca umum dan harganya murah, Rp 15 ribu-20 ribu.

Sebagai kepala perpustakaan ITB, Onno mendirikan Knowledge Management Research Group. Dengan dana US$ 60 ribu bantuan IDRC, ia membangun Digital Library and Library Network—jaringan ini mengaitkan 20 perpustakaan di seluruh Indonesia.

Kritis dan blak-blakan sudah cirinya. Mungkin itu sebabnya ia berhenti dari ITB. "Di luar amalnya lebih besar," Onno mengungkap alasannya.

Sikap itu muncul ketika pemerintah melarang VoIP—teknologi yang memungkinkan percakapan telepon tidak memakai saluran telepon melainkan jaringan Internet. Pemerintah memang mencabut larangan itu, tapi lalu memberikan hak penyelenggarannya kepada lima perusahaan.

Protes Onno menjadi-jadi. Bersama koleganya ia mendeklarasikan VoIP Merdeka yang menjadi sarana komunikasi "telepon gratis" bagi yang ingin maju, mau belajar, mau berkarya, dan tidak pantang menyerah.

Begitu pula saat pemerintah memajaki pengguna jaringan nirkabel frekuensi 2,4 gigahertz, Onno kontan menentang. Menurut dia, kebijakan itu ketinggalan kereta. "Tren dunia mengarah ke pembebasan pemanfaatan frekuensi itu," katanya. Sekjen PBB Kofi Annan bahkan menganjurkan pemerintah negara berkembang memakai jaringan nirkabel untuk menyediakan akses Internet penduduknya.

Tak sekadar bicara tentang konsep, Onno membuktikan dengan membangun RTRWnet. Konsep ini laku keras lantaran dapat menekan biaya investasi awal dan operasional, karena dibangun gotong-royong oleh rakyat tanpa infrastruktur dan dana pemerintah, apalagi utang luar negeri. RTRWnet tak hanya dipakai warga perumahan, warnet, dan sekolah, tapi juga pemerintah daerah seperti di Kalimantan dan Sumatera yang jauh dari jangkauan Telkom.

Ternyata model pembangunan infrastruktur alternatif itu menarik bagi negara berkembang di Afrika, Asia, dan kepulauan di Pasifik. Setidaknya Mozambik, Uganda, Laos, Kamboja, dan Kepulauan Solomon meminta Onno memberikan workshop.

Bagi Onno, perjuangan masih panjang. "Strateginya kini disasarkan kepada anak-anak sekolah menengah, pesantren, dan perguruan tinggi. Dalam 9 hingga 12 tahun ke depan merekalah pemimpin di lingkungannya yang menjadi pengambil keputusan," ujarnya.

Selain itu, Onno yakin, harga produk teknologi informasi makin terjangkau. "Bukan mustahil, untuk sewa satelit Intelsat dan stasiun bumi ukuran kotak kecil harganya Rp 4 juta. Sehingga, sekolah terpencil sekalipun dapat mengakses Internet," Onno optimistis.

Sayangnya, dengan visi seperti itu, Onno tak dirangkul pemerintah. Malah Kanada yang lebih merasa memiliki Onno. Di World Summit on Information Society di Jenewa, Swiss, Desember nanti, Onno termasuk delegasi departemen perindustrian Kanada. Ia menjadi satu dari empat tokoh negara berkembang yang berbicara di forum itu.

Dody Hidayat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data