Sebatang Pohon, Seorang Manusia Karya seorang pematung Indonesia terpilih menjadi bagian permanen di Changchun World Sculpture Park, Cina. |
Di sebuah taman, berdiri sebuah patung setinggi tiga meter yang terbuat dari perunggu dan marmer. Wujudnya menyerupai pohon, "isinya" mendekati manusia, minimal bagian dari manusia. Di pucuk tertinggi, nongol sebuah bulatan putih yang diberi tekstur otak manusia. Dari batangnya yang kukuh, tumbuh delapan cabang: delapan mata manusia?masing-masing menunjukkan arah mata angin. Sedangkan di bagian bawah, akar bertumpang-tindih, menancap kuat di tanah.
Dicky Tjandra, mahasiswa S-2 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, si pematung, punya pandangan sendiri tentang manusia. Seperti halnya pohon, manusia tumbuh. Dan hasilnya, mata itu tidak cuma terpaku ke satu arah, seraya mampu mengatasi dorongan-dorongan yang egosentris. Mata yang sanggup memandang ke arah delapan penjuru angin, sosok yang mampu menghargai nilai-nilai orang lain.
Dicky tidak langsung berbicara tentang pencerahan. Tapi, dari tema yang diusungnya, kita dapat menangkap warna heroik Plato, sebagaimana Allegory of the Cave: manusia yang melawan keterbatasan pandangannya. Manusia yang mencoba keluar dari gua buat menyaksikan dunia di luar sana. Otak mewakili sisi rasional, sedangkan mata mewakili subyektivitas diri, golongan, kelompok. Dicky memang memperlakukan mata-mata?yang dilukiskannya bak helai-helai daun itu?secara spesial.
Dicky membentuk ujung pohon itu menjadi semacam mangkuk yang permukaannya dibuat seperti kelopak bunga, yang tujuannya mengikat otak tersebut. "Saat saya buat itu saya membayangkan sebuah cincin berlian yang batunya diikat dengan sesuatu. Demikian pula otak. Otak kita sangat bernilai sehingga harus diikat," Dicky menjelaskan. Namun, sejauh-jauh mata memandang, manusia juga harus ingat akar. Pohon itu tumbuh, kata Dicky, karena ada akarnya. Manusia-pohon, mata-akar, pasangan-pasangan yang terangkai oleh untaian jalan pikiran yang dialektik.
Pohon Kehidupan atau Life Tree karya Dicky Tjandra itu memang cukup istimewa. Sudah dua bulan patung itu tegak di Changchun World Sculpture Park, Changchun, Cina Utara. Terpilih dalam seleksi China Changchun International Sculpture berarti berhasil berdiri di antara 26 pematung terpilih?dari 364 pematung. Di sanalah ia bergabung dengan karya-karya pematung dari 109 negara, wakil dari budaya Maya, Eskimo, Maori, Indo-Eropa, Afrika, Latin, dan oriental. Di taman itu terdapat 315 patung buah karya 270 orang pematung.
Dalam kompetisi itu, dalam proposalnya Dicky mengajukan tiga tema: "Menanti Kelahiran", "Bumi Kehidupan", dan "Pohon Kehidupan". "Ternyata, ketika dipanggil, saya diminta membawa sampel 'Pohon Kehidupan'," kata Dicky. Dicky Tjandra, pria kelahiran Makassar, 28 Agustus 1956, adalah lulusan Seni Patung Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta yang kemudian mengajar di Universitas Negeri Makassar. Dan ia perupa pertama yang berhasil memasang karya secara permanen di Changchun World Sculpture Park.
Changchun World Sculpture Park terletak di bagian selatan Renmin Street, menempati area seluas 92,7 hektare. Taman ini memadukan natural landscape dengan artificial scenery. Tema itu sendiri tercipta melalui paduan budaya oriental dan occidental, budaya tradisional Cina dan budaya modern, serta seni yang ditampilkan di taman itu. Pintu masuk utama dan tembok depan berbentuk kurva di kedua sisinya. Dua bentuk ini menyusun layout simetris sepanjang poros sentral taman. Sedangkan jalan yang berliku-liku seperti sabuk jade mengitari danau yang dihiasi air terjun di tengahnya. Elemen-elemen ini membentuk paduan harmonis antara dinamis, statis, kurva, dan garis lurus.
Di taman itu Dicky memang pendatang baru. Tapi, di dalam negeri, ia punya catatan berkarya cukup panjang. Beberapa karya instalasinya pernah dipamerkan di Festival Surabaya, pertunjukan di Fort Rotterdam, Makassar, dan masih banyak lagi. Bagaimanapun, kini Dicky telah melampaui batas-batas geografis negerinya.
L.N. Idayanie (Yogyakarta)
|