Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Seni Rupa

Patung Setelah Seni Patung

Pameran patung yang mengajak penonton meninggalkan pandangan lama tentang seni patung.

Pameran berbagai karya patung dari sekelompok seniman Yogya, yang digelar di Galeri Lontar, Jakarta, pekan lalu, tidak saja menyajikan kepandaian mengolah material. Pameran itu berusaha memberikan persepsi lain dalam memandang seni patung, khususnya untuk masyarakat di Indonesia yang masih melihat seni patung dari sudut pandang fine art.

Seperti dilansir oleh kurator pameran ini, pameran bertajuk ”25 x 25 x 50 Sculpture” ini tampaknya ingin mengubah citra patung, yang tak mesti terikat oleh batasan konvensi: secara teknis ataupun ukuran, yang selalu identik dengan patung monumental. Begitu pun dengan penggunaan bahan serta pengolahan bentuknya, kebanyakan dari mereka menjelajah pada hal-hal dalam keseharian di sekitar kehidupan mereka.

Perhatikan berbagai karya Hedi Harianto, Rudi Mantofani, Ahmad Syahbandi, dan Yuli Prayitno, yang menggabungkan bahan seperti kaca, tali, poliester, besi, semen, sampai benda-benda siap pakai (ready made) dari bahan batu. Tanpa keterkaitan sejarah dan konvensi, satu sama lain dipertemukan, dielaborasi dengan baik, sehingga menjadi benda-benda berkadar estetik lewat perilaku yang mirip dengan perajin tetapi dengan intensi yang berbeda. Gubahan mereka membawa suasana campuran: antara rasa dan teknis, permainan material dan imajinasi tentang benda-benda di sekitar kita.

Contohlah karya Rudi, Mengalir Keras, yang menggantungkan ember dari lempengan logam yang diisi semen padat yang membentuk cairan. Karya ini lebih asosiatif dan ilusif, mengajak persepsi pemirsa menguji keajekan realitas alam tiga dimensi. Berbeda dengan karya Syahbandi, yang mencoba mengoperasi perabot makan seperti sendok atau pembuka botol menjadi benda mutan. Imajinasi kita tak bisa lepas dari bentuk dasar atau acuannya, mencoba mengganggu kita dengan mempermainkan tanda-tandanya yang mapan.

Sebaliknya dari karya-karya Yusra Martunus, Ichwan Noor, Pramono Pinunggul, dan Ali Umar, yang justru memperlihatkan pengolahan dari bahan dan teknik yang lazim dipergunakan pematung konvensional: kayu, logam, lempengan besi dengan teknik mengecor, mengelas, dan mengukir. Namun, mereka masih mampu membuat bentuk-bentuk itu lebih menggelitik dengan menambah beberapa materi lain sebagai aksen. Mereka sebisa mungkin berupaya mengontrol bentuk dengan menghindari manipulasi atas sifat materi asalnya.

Seperti Ichwan, yang bermain dengan pola dari potongan-potongan lempengan besi ataupun jeroan mesin mobil. Tanpa tendensi untuk menjadikannya puitis. Ini berbeda dengan Pinunggul dan Umar, yang muncul dengan olahan kayu-kayu sonokelingnya membentuk berbagai simbol yang sangat umum. Berusaha menyeret imajinasi pengamat pada hal-hal yang menimbulkan sensasi, memori. Bahkan kadang tersirat dorongan untuk bernarasi oleh perupa lainnya lebih kuat, sehingga harus menambahkan elemen bantuan seperti warna dan bentuk-bentuk yang representasional.

Contohlah Arlan Kamil, yang banyak mengambil elemen tradisi seperti topeng guna menggugah kita pada makna di balik benda-bendanya. Dalam hal ini, baik Teguh Priyono maupun Supar Madiyanto sepertinya tak cukup puas dengan mengolah materi ataupun bentuk. Mereka berdua banyak menambahkan unsur grafis, seperti warna dan teks, dalam tiap karyanya.

Secara keseluruhan, di tahap ini karya-karya mereka tak lagi bergulat dengan aura patung seperti masa lalu, yang meniscayakan jarak yang curam antara sebuah patung, lingkungan, dan pengamatnya. Seperti pendapat pematung senior yang juga Ketua Umum Asosiasi Pematung Indonesia atau API, G. Sidharta Soegijo, di dalam katalog: karya-karya ini ”memaksa” pengamat supaya mengamati benda-benda itu dari jarak yang dekat sehingga antara karya dan pengamat terjalin hubungan yang akrab. Pandangan ini seperti menyiratkan adanya perubahan orientasi para pematung muda di Tanah Air, yang cenderung mengaitkan seni patung dengan nilai-nilai yang abstrak, sakral, atau teknik dan pola kerja yang sulit, bahkan sering kali terkait dengan kekuasaan.

Maka, bisa jadi telah terjadi pergeseran pemahaman tentang seni patung di kalangan perupa muda yang memulai kerja mematung dengan cara berkolase: baik dengan teknik, bahan, maupun bentuk-bentuknya. Dalam perkembangan seni rupa Barat di era 1990-an, muncul juga istilah ”object” yang timbul dari persilangan berbagai bentuk dan pandangan seni. Bagaimanapun, sebelumnya telah terjadi friksi yang tajam dan berkepanjangan antara pendukung terminologi ”seni” dan yang ”bukan seni”, atau kalangan para pekriya ataupun desainer yang belakangan banyak menghasilkan karya-karya individual.

Lalu, apakah istilah object bisa terasa pas bagi berbagai karya ini, atau lebih jauh mungkinkah medan sosial seni rupa (patung) di Indonesia cukup bisa terbuka menerima berbagai pemikiran baru yang bisa menggeser kemapanan konvensi seni patung yang agaknya masih gemar ditegakkan oleh sebagian para pematung ataupun kritikus kita? Tetapi, yang jelas, bagi para perupa ini agaknya persoalan istilah tak pernah menjadi penghambat untuk berkreasi. Pameran ini mungkin menjadi tanda bahwa karya-karya mereka merupakan seni benda-benda campur sari yang diberi label patung, atau mungkin tepatnya patung setelah seni patung.

Rifky Effendy, penulis dan kurator


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data