Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Opini

Komunikasi Murah ala Onno Purbo

Seorang putra Indonesia membuat terobosan teknologi telekomunikasi. Tapi mengapa ia tidak dirangkul pemerintah negerinya?

TEKNOLOGI dan rakyat bisa merupakan dua kata yang "berjauhan" di Indonesia. Semestinya pengetahuan dan kepandaian membuat alat atau jasa apa pun dimaksudkan untuk membantu rakyat kebanyakan memperbaiki kualitas hidupnya. Di Indonesia, yang menikmati teknologi, apalagi teknologi yang menurut ukuran di sini tergolong canggih, barulah sebagian kecil masyarakat. Ambil contoh teknologi telepon.

Di wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi, wilayah dengan tingkat ekonomi paling maju di negeri ini, tingkat kerapatan telepon (teledensitas) baru mencapai 31,4 persen. Artinya, hanya ada 314 sambungan telepon untuk setiap 1.000 penduduk. Di wilayah tetangga dekatnya, Banten dan Jawa Barat, tingkat kerapatan itu hanyalah 1,5 persen.

Kebijakan pengembangan telekomunikasi di negeri ini belumlah berpihak pada rakyat kebanyakan. Biaya sambungan telepon masih di atas daya jangkau rakyat di tingkat bawah. Tentu bisa dimaklumi bahwa teknologi adalah barang mahal. Satu sambungan telepon rumah dari Telkom membutuhkan investasi US$ 1.000. Bahkan produk terbaru Telkom, yaitu TelkomFlexi, membutuhkan investasi US$ 3.000 untuk setiap sambungan baru.

Namun, yang menjadi soal, pemerintah agaknya tidak cukup antusias untuk mencari teknologi komunikasi yang murah. Padahal, pemerintah bisa saja menggerakkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi supaya melakukan terobosan di bidang telekomunikasi yang makin menjadi kebutuhan hidup sehari-hari itu.

Untunglah—sekaligus agak ironis—ada seorang Onno W. Purbo yang sangat intens memikirkan teknologi telekomunikasi murah itu. Dia adalah doktor bidang perangkat silikon dan sirkuit terintegrasi dari Waterloo University, Kanada, yang sempat bekerja sebagai kepala bagian perpustakaan di almamaternya, Institut Teknologi Bandung. Dibantu beberapa rekannya, seperti Michael S. Sunggiardi dari Bogor, Onno melahirkan RTRWnet dan VoIP Merdeka. Yang pertama adalah jaringan telepon yang juga bisa dipakai mengakses Internet. Sedangkan yang kedua adalah fasilitas yang memungkinkan percakapan telepon antarpengguna komputer melalui jaringan Internet.

Onno patut diacungi jempol untuk karyanya ini—walaupun dia meneruskan desain yang sudah dirintis oleh IEEE, kumpulan insinyur elektronik dan kelistrikan dunia. Onno memanfaatkan gelombang radio untuk karyanya, sehingga investasi yang dibutuhkan jauh lebih murah.

Biaya murah yang dicapai Onno mungkin belum menjangkau lapisan paling bawah. Fasilitas itu juga baru bisa dipakai dalam jarak yang terbatas. Onno dan kawan-kawannya pasti sedang terus mencari cara untuk membuat karyanya lebih murah. Apakah karyanya akan meluas atau tidak, tentu banyak bergantung pada masyarakat dan kebijakan pemerintah.

Tentu diharapkan regulasi pemerintah tidak melemahkan upaya terobosan seperti yang dilakukan Onno. Kita tahu iklim memberikan kemudahan itu belumlah sepenuhnya diciptakan pemerintah. Ambil contoh kasus pelarangan layanan teleponi atau voice over Internet protocol (VoIP). Warnet dilarang menyediakan jasa ini, mungkin karena khawatir penyedia jasa sambungan telepon interlokal dan juga sambungan internasional (di antaranya oleh badan usaha milik negara) terganggu. Akibatnya, pendapatan penyedia jasa teleponi swasta anjlok sampai 60 persen. Yang kurang elok, dalam suasana begitu, Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi malah mengeluarkan izin penyelenggaraan Internet teleponi kepada lima perusahaan saja.

Jika layanan murah Onno tidak dikembangkan, mungkin kerugian yang nyata akan bertambah-tambah, karena penyedia jasa VoIP asal asing ternyata sudah banyak dilanggan di sini—misalnya TeleFree dari Korea Selatan dan DialPad dari Amerika Serikat. Mereka beroperasi dengan menawarkan tarif yang jauh lebih murah ketimbang penyedia jasa lokal (lihat Teknologi Informasi: Pilih Bebas atau Modal Bablas).

Orang-orang seperti Onno, juga penggiat radio komunitas di berbagai kota, perlu didukung serta dirangkul pemerintah. Mereka dengan segala senang hati akan membantu pemerintah meluaskan jaringan telekomunikasi murah di negeri ini, jika pemerintah memang punya niat untuk itu. Dalam konteks ini, agak mengherankan bila ternyata Onno tampil berbicara di World Summit on Information Society di Jenewa, Swiss, Desember nanti, bukan sebagai delegasi Indonesia. Onno, satu dari empat pembicara di forum prestisius itu, termasuk dalam delegasi Kanada.

Teknologi, Onno Purbo, Indonesia, seharusnya bukan kata-kata yang berjauhan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data