Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Nasional

Misteri Serangan Berantai

Kelompok penyerang desa-desa di Poso dipukul mundur aparat keamanan. Jamaah Islamiyah terlibat?

POSO kembali membara. Tangan siapa? Setelah tembak-menembak di kawasan hutan dan kebun kelapa di desa dekat Ronta, Kecamatan Lembo, Morowali, Sulawesi Tengah, aparat gabungan polisi dan TNI berhasil menangkap empat orang. Mereka ini diduga anggota kelompok yang menyerang Desa Beteleme, Morowali. Dalam penyergapan itu, aparat menembak mati tiga anggota gerombolan tersebut. Tapi dalangnya belum terpegang.

Dari penangkapan itu, polisi makin berpeluang membuka tabir kelompok di belakang aksi penyerangan yang menewaskan 13 orang di Morowali dan Poso, Jumat dan Minggu dua pekan lalu itu. Keberhasilan ini memang bisa mendorong memulihnya keamanan di wilayah tersebut. Sumber intelijen di Poso menyebut, "Pemainnya kelompok lama dalam konflik Poso."

Keberhasilan itu memudahkan aparat keamanan setempat bergerak lebih cepat. Mereka mensinyalir kelompok Jamaah Islamiyah (JI) sebagai pelakunya. Setelah kocar-kacir di Jawa dan Sumatera, JI dikabarkan aktif merekrut kader baru di daerah yang berkonflik sejak 1998 itu.

Sumber di kepolisian di Jakarta menyebut Mustofa, pemilik laboratorium pembuatan bom di Semarang, Jawa Tengah, beberapa kali mengirimkan bahan peledak dan amunisi ke kawasan itu. "Kalau dirunut saja dari Mustofa, Nasir Abbas—kakak ipar Muchlas yang mantan Ketua Wakalah JI Sulawesi—dari kelompok di Poso, akan terungkap," katanya.

Menurut sumber TEMPO di kalangan Laskar Mujahidin, di Poso saat ini terdapat sekitar 100 anggota pasukan yang siap berjihad sampai mati. Mereka telah dibina secara kuat sebagai front terdepan bila pecah perang. Apalagi Mustofa, pemimpin Laskar Khos Jamaah, disebut-sebut keluar-masuk Poso, saat konflik ketiga meledak. Mereka diduga sisa dari laskar-laskar yang pernah membanjiri Poso setelah konflik ketiga pecah, Mei 2000.

Namun Ikhwanudin, pemimpin Laskar Mujahidin Tokorondo, Poso Pesisir, membantah bahwa kelompoknya yang melakukan penyerangan tersebut. Ia mengaku telah mengecek ke semua anggotanya dan menyatakan bukan kelompoknya yang menyerang. Menurut dia, dalam pakem Islam, bila orang Islam melakukan penyerangan, mereka tak akan membunuh anak-anak dan wanita. "Yang terjadi di empat desa minggu lalu di luar pakem Islam," katanya.

Wakil Bupati Morowali, Datlin Tamalagi, membenarkan tertembaknya anggota kelompok bersenjata yang menyerang di Beteleme itu. Dua orang yang tertangkap lebih awal sudah ditahan di Polsek Beteleme, sedangkan yang lainnya masih berada di hutan. Kondisi medan mempersulit evakuasi mereka ke Beteleme. Menurut Datlin, identitas mereka yang tertembak serta yang tertangkap hidup-hidup sedang didata. Datlin juga masih enggan menyebut identitas dua orang yang ditahan di Polsek Beteleme. Pada Sabtu pekan lalu, korban tembakan dan yang tertangkap direncanakan dibawa ke Beteleme dan selanjutnya akan diangkut dengan helikopter ke Poso atau Palu. Sabtu sekitar 14.00 Wita, heli sudah terbang menuju Beteleme, namun kembali lagi ke Poso karena yang tertembak dan tertangkap itu belum dapat dievakuasi.

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono, juga mengakui keterlibatan organisasi pengacau dalam serangan di Poso. "Intelijen kita mencium adanya organisasi pengacau keamanan di balik kejadian yang meletus tanggal 9 dan 12 Oktober lalu itu," katanya di Kuta, Bali, Jumat pekan lalu. Susilo sebelumnya juga menyatakan operasi intelijen besar-besaran akan digelar agar para pelaku penyerangan segera dapat dibekuk.

Beberapa hari setelah penyerangan, situasi di Morowali dan Poso masih mencekam. Sejumlah warga beberapa desa sekitar Teluk Sulawesi itu berniat mengungsi ke desa lain yang dinilai lebih aman. Tercatat sekitar 500 warga di Desa Lembomawo, Kecamatan Poso Kota; Desa Maliwuko, Kecamatan Lage; dan Desa Ranonuncu, Kecamatan Poso Kota, berencana mengungsi ke wilayah Kecamatan Lage. Warga beralasan, mereka masih merasa tidak aman, terutama karena masih terdengar isu-isu akan adanya penyerangan baru.

Seorang korban penyerangan, Ny. Anna, 35 tahun, berlinangan air mata ketika ditemui TEMPO di sebuah rumah sakit di Poso. Ia sudah tak kuat melihat anak semata wayangnya, Gasi, 7 tahun, mengerang kesakitan di ruang gawat darurat. Perempuan berkulit putih itu berusaha mengatupkan bibirnya agar tangisnya tidak meledak. Namun upaya warga Desa Pantangolemba, Kecamatan Poso, itu sia-sia. Tubuhnya roboh bersama tangisnya yang memilukan.

Nyonya Anna bertambah iba ketika anaknya yang masih di kelas 2 SD itu minta pulang ke Pantangolemba untuk sekolah. Ia seperti tak hirau dengan sakitnya. Padahal, untuk menyelamatkan hidupnya, ia sudah menghabiskan berbotol-botol infus. Untung, Gasi masih bisa terhibur oleh sebuah jam weker di meja dekat pembaringannya. "Dia suka sekali melihat angka-angkanya," kata Nyonya Anna.

Masih segar dalam ingatan Nyonya Anna, betapa kejadian Minggu dini hari dua pekan lalu itu nyaris menghabisi seluruh keluarganya. Sekitar pukul 00.30 Wita, warga desa tersentak bangun ketika di kegelapan malam sekelompok orang bersenjata otomatis menyerang desa di kaki Gunung Taunca ini. Warga yang ketakutan pun lari berhamburan mencari persembunyian di hutan. Suara tangisan anak-anak ditimpali lolongan anjing membuat malam yang temaram di bawah sinar bulan itu sangat mencekam. Nyonya Anna sendiri menggigil mendengar bunyi tembakan yang tak berkesudahan. Ia masih bersyukur suaminya selamat, meski kaki anaknya tertembak dan pinggangnya lecet terserempet peluru.

Penderitaan serupa dialami Isman Baduge, 25 tahun. Pada malam nahas itu, ia kena giliran ronda. Di pos ronda, ia sedang menatap bintang dan rembulan, tapi mendadak terusik. Tiba-tiba, menjelang tengah malam, terdengar letusan senapan di Desa Saatu, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari posnya. Baru ia akan bergerak membangunkan warga, pos rondanya sudah diberondong bedil orang-orang tak dikenal.

"Mereka sekitar 15 orang. Memakai baju hitam-hitam dan penutup muka seperti cadar," papar Isman, yang sesekali mengerang kesakitan. Isman menyakini, penyerangnya menggunakan senapan otomatis. Ia dapat membedakannya dengan senjata rakitan, lantaran berondongannya yang tak terputus-putus. "Kalau senjata rakitan, bunyinya satu-satu dan letusannya keras. Ini seperti suara senjata organik," katanya.

Dalam pengamatan TEMPO di Desa Pantangolemba, beberapa rumah terbakar dan sejumlah lainnya rusak karena tembakan. Seperti rumah milik Robinson, 36 tahun, yang ruang tamu dan kusennya berlubang-lubang dihajar peluru senapan serbu. Lelaki beranak dua itu bisa selamat setelah merayap dan keluar rumah lewat pintu belakang. Ia masih ingat betul, penyerangan terjadi begitu jam dindingnya berdentam 12 kali. Tembakan terdengar persis di depan rumahnya. "Saya keluar ke teras rumah, tapi disambut berondongan," katanya.

Kakek Yakobus Montasa hanya bisa memeluk cucunya yang masih berumur lima tahun. Ia melihat anaknya yang malang, Yohanis Motansa, tewas di tempat ditembak "pasukan misterius" itu. Yakobus melihat para penyerang bersenjata senapan AK-47. Yokobus mengenal senjata itu, lantaran pernah melihat petugas menentengnya ketika desanya pernah dijaga aparat keamanan.

Beberapa pengacau telah ditangkap, sehingga dapat "dipakai" mengungkap siapa teman-temannya dan dalang di balik penyerangan. Perlu gerak cepat aparat untuk membongkar "serangan berantai" itu sampai ke akar-akarnya, agar tak terulang.

Edy Budiyarso, Darlis Muhammad (Poso)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data