Lawatan Tiga Jam yang Merepotkan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, mampir di Bali selama tiga jam dalam lawatannya ke sejumlah negara Asia dan Australia. Tapi pengamanannya disiapkan sebulan sebelumnya. |
Sejak pekan silam, puluhan polisi bersenjata telah berjaga-jaga di sekujur tubuh Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Sesekali, di antara keramaian para penumpang yang baru tiba ataupun yang akan berangkat, mereka berkeliling mengamati situasi. Sementara itu, di kawasan penerbangan internasional, terlihat sejumlah tubuh tegap lalu-lalang. Mengenakan kacamata gelap, di bawah terik matahari, tanpa senyum, mereka meneliti kawasan yang bakal dijadikan tempat parkir pesawat kepresidenan, Boeing 747 dengan nama Air Force One, yang ditumpangi Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dalam lawatannya ke Bali.
Pekan ini akan menjadi pekan yang paling sibuk di Bali, atau bahkan di Indonesia. Hari Rabu, Presiden George W. Bush akan mampir ke Bali di sela-sela kunjungannya ke beberapa negara Asia dan Australia. Dia akan bertamu hanya selama tiga jam. Selain bertemu dengan Presiden Megawati Soekarnoputri, Bush juga akan berdialog dengan sejumlah tokoh Islam seperti Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif, dan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Azyumardi Azra. Pertemuan akan dilaksanakan di Hotel Patra Bali Resort, sekitar 100 meter dari Bandar Udara Ngurah Rai.
Di antara tiga jam kunjungan Bush tersebut, bagian yang paling merepotkan tak lain adalah persiapannya. Aparat keamanan Bali dan Indonesia tak bisa bekerja sendirian. Mereka harus memberi ruang gerak yang sangat luas kepada aparat keamanan Amerika Serikat, terutama pengawal presiden yang dikenal dengan sebutan secret service, yang menyewa dua hotel, Intercontinental dan Ritz Carlton. Selain itu, tak kurang dari 10 pesawat Amerika Serikat mendarat di Bali sebelum kunjungan Bush. Selain mengangkut personel tim pendahulu, pesawat ini juga mengangkut mobil kepresidenan dan juga mobil-mobil pendukung seperti mobil pengamanan dan mobil tangki.
Setiap inci, setiap meter Bandar Udara Ngurah Rai ditelisik oleh seluruh petugas keamanan AS. Pendek kata, tak sejengkal pun yang lolos dari pengamatan mereka. Air Force One harus selamat, baik ketika mendarat maupun pada saat terbang kembali dari Ngurah Rai. Tim pendahulu, yang terdiri dari berbagai divisi, telah memeriksa seluruh bagian bandara, terutama berbagai perangkat yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan serta pengamanan pendaratan. Salah satu perangkat yang diperiksa adalah penambahan 50 line telepon internasional. "Pada dasarnya, seluruh perangkat peralatan yang kami punyai sudah sesuai dengan standar internasional," tutur I Gusti Made Dordhy, Kepala Angkasa Pura I, kepada TEMPO. Pengecekan dilakukan amat terperinci, termasuk kapasitas daya listrik sampai soal dinginnya AC.
Semula, penanganan ground handling atau pengaturan parkir pesawat akan diambil alih. Pihak AS sempat meminta agar tempat parkir pesawat yang ditumpangi Bush paling dekat dengan gedung VVIP. Permintaan itu tak bisa dipenuhi oleh pihak Indonesia, apalagi jika harus diparkir dalam posisi nose in, yang artinya hidung pesawat langsung menghadap hanggar. Pesawat tersebut tergolong berbadan lebar, sementara area yang tersedia di Ngurah Rai tak memungkinkan pesawat berputar. Apa boleh buat, pesawat Air Force One akan diparkir dalam posisi miring, angle position, yang artinya masih berjarak sekitar 100 meter dari gedung VVIP. AS juga minta areal parkir dikosongkan. Tapi soal ini masih dibicarakan dengan pengelola bandara.
Lebih dari itu, AS juga ngotot minta agar aktivitas Bandar Udara Ngurah Rai dihentikan empat jam sebelum pesawat Bush mendarat dan empat jam setelah pesawat kembali mengudara. Tentu saja permintaan ini langsung ditolak Indonesia. Menurut Dordhy, penutupan bandara selama enam jam saja akan menyebabkan penundaan 24 penerbangan dan delapan di antaranya penerbangan internasional. "Tak mudah mengatur traffic gara-gara penundaan sebanyak itu," kata Dordhy. Setelah melalui perdebatan yang alot, Indonesia setuju memberi kesempatan masing-masing selama 15 menit. Angka ini sudah sesuai dengan praktek di dunia internasional.
Pihak AS ternyata menyiapkan pengisian bahan bakar sendiri. Semula, kata sumber TEMPO di Pertamina, perusahaan negara itu sudah menyiapkan mobil tangki untuk mengisi bahan bakar pesawat Bush dan pesawat pendukungnya. Malahan, mobil-mobil tangki tersebut sudah disterilisasi sejak Rabu pekan lalu. Proses pengisian bahan bakar, termasuk pengemudi truk tangki, tetap dilakukan oleh orang Pertamina sendiri tapi dalam pengawalan pasukan keamanan dari Angkatan Udara Amerika. Tapi rencana berubah. Sabtu pagi, pesawat pengangkut raksasa Amerika C-5 Galaxy mendarat di Ngurah Rai, mengangkut empat mobil tangki yang sudah penuh bahan bakar.
Untuk menyambut kedatangan Bush, Kepolisian Bali menggelar operasi khusus Puri II 2003. Tak kurang dari 5.000 personel dikerahkan dalam operasi ini. "Operasi sudah dimulai sejak Sabtu lalu," kata Kepala Humas Polda Bali, Komisaris Besar Polisi Pengasihan Gaut. Markas Besar Kepolisian Indonesia pun mengirim bantuan dua helikopter, satu kapal patroli laut, 10 petugas penjinak bahan peledak, dan dua satuan setingkat kompi (SSK) Brigade Mobil. Untuk menyaring orang yang ke Bali, Kepolisian Jawa Timur juga sudah menempatkan dua SSK Brimob di pelabuhan penyeberangan Ketapang, Banyuwangi.
Selain itu, Angkatan Laut Indonesia sudah menempatkan empat kapal perangnya pada jarak 4-15 mil di arah barat Bandara Ngurah Rai. Kapal-kapal itu sudah akan berada di sana Senin pagi ini. Selain itu, empat perahu karet dengan lima awak akan terus berpatroli di sepanjang pantai sampai jarak empat mil. Di luar Angkatan Laut Indonesia, Amerika kabarnya juga akan menempatkan satu kapal induk di perairan Indonesia. "Kami belum mendapat informasi soal ini," kata Komandan Pangkalan TNI-AL Benoa, Kolonel (L) Iskandar Sitompul. Di udara, empat pesawat F-16 akan diterbangkan dari basisnya di Madiun untuk mengawasi udara Bali selama kunjungan Bush.
Tapi, seperti biasanya, polisi Indonesia hanya kebagian repotnya. Mereka hanya akan menjaga daerah di luar ring I (pusat kegiatan). Polisi Indonesia akan membuat pagar betis dari ruang VVIP hingga ke Hotel Patra Bali, yang berjarak sekitar 200 meter. Ring utama akan dijaga sepenuhnya oleh aparat keamanan Amerika Serikat.
Jalil Hakim (Denpasar)
|