Kisah Lusuh yang Terulang |
Di Tanjung Duren, sebuah kisahlama yang lusuh terulang-ulang. Kali ini, bak sebuah perang bubat, merekamenggunakan gas air mata, molotov, serta kelebat kelewang dan bebatuanuntuk sebuah kata bernama: penggusuran.
Hingga 9 Oktober tahun ini, YLBHI mencatat bahwa Jakartamemiliki 5.680 keluarga korban penggusuran. Data itu akan semakin melejitkarena aparat masih mengincar delapan buah lokasi penggusuran hinggamenjelang bulan Puasa.
Kalaupun warga memang menempati lahan yang bukan miliknya,apakah mereka harus dihadapi seperti menghadapi musuh dalamperang? Bukankah ada yang namanya negosiasi, persuasi, dan komunikasi,daripada kekerasan dan ancaman? Bukankah gaya persuasi itu yangdilakukan bagi ratusan keluarga yang tinggal di tempat pemakaman umumTegal Alur, Jakarta Barat, yang akhirnya bersedia membongkarrumahnya sendiri? Mereka umumnya menyadari dan tidakmau merebut tanah yang bukan menjadi hak miliknya. Andai kata itu juga bisadilakukan di Kalijodo, Tambora,Cengkareng, dan Kampung SawahTaman Anggrek, pastilah kota ini menjadi lebih damai. Danmungkin pula Kastari,Feeri Sianipar, Abdul Rosyid,Arinta, Ita, dan ribuan warga tergusur lainnya tak akan bernasib seburukini.
Ita Permana, 32 tahun
Kemiskinan adalah menu lezat para politikus saat kampanye.Tetapi, ketika zaman penggusuran tiba, belum tentupartai-partai itu mengingatnya. Maka Ita Permana bersama istri dan ketiga anaknyamemasang poster Megawati di depan gubuknya, "Biar Mega tahu nasib kami,"katanya. Sekarang, ia tak bisa melakukan apa-apaselain menjaga keluarganya. Ia ingin mencari kontrakan baru, tapi belum adauang. Ia bersyukur anak pertamanya, Sugita, 8 tahun, masih dapat bersekolah. Tapi,ia mulai khawatir mengenai dua adik Sugita.
Kastari, 36 tahun
Apa yang tersisa setelah penggusuran itu? Pakaian yang melekat di tubuh,kuda-kudaan, dan sebuah sepeda kecil. Setelah penggusuran, kehidupan Kastari, dankeluarganya makin buram. Sebagai buruh kasar, jangankan mencari kontrakanbaru, untuk makan sehari-hari saja harus mengandalkan sumbangan.
Abdul Rosyid, 30 tahun
Sebagai pembuat kue donat yang dipasarkan keliling Jakarta, keluarga Abdul Rosyid mampu menghimpundana hingga Rp 30 juta untuk membangun rumah. Pemilikkartu penduduk Jakarta ini berdiam dengan istri, ibu,dan anaknya di rumah itu, sembari membuat kuekebanggaan mereka. Setelah digusur, hancur leburlah semua.Bukan hanya rumah yang mereka bangun susah payah, tetapijuga perkakas pembuat kue dan peralatan lainnya ikuthancur. Kini mereka tinggal di depan gubuk papan darurat.
Yon, 37 tahun
Ia sengaja membuat gubuknya berbeda dari yang lain untuk menghilangkankekesalannya. "Aku merasa lucu melihat bangsa ini," katanya. "Pantas sajabangsa ini banyak terorisnya, lha orangkecil diinjak-injak!" Bapak asli Betawi ini hanya ingin anaknya, Sanju, 3 tahun,tetap riang tertawa. Namun ia khawatir karena penyakit kulit menjangkiti anaknya....
Feeri Sianipar, 34 tahun
Dengan uang Rp 25 juta, Feeri Sianipar membangun rumah itu untukkeluarganya. Dengan keadaan istri yang baru saja melahirkan dan anakyang baru saja berusia 40 hari, rumah itu dirobohkan oleh aparatKetenteraman dan Ketertiban. Marah, khawatir,stres, hingga ia tak mampu berkata-kata.... Lelaki asal Cirebon ini merasatak memiliki apa-apa.
Arinta Prasnayan, 42 tahun
Deru buldoser tak cuma melumat gubuk dan berbagai perkakaskeluarga Arinta. Dia juga harus kehilangan lapangan kerja, dan anak bungsunyaterpaksa putus sekolah. "Saya hanya dapat pasrah, maungomong bagaimana lagi?" kata lelaki asli Betawiini. Sambil tetap bertahan di lokasi penggusuran, dia ikut bolak-balikmengikuti rapat warga; berusaha menyiasati strategi untuk meraihhak-haknya yang masih tersisa.
Pak Dul, 58 tahun
Pemulung bukanlah pilihan, melainkan nasib. Dan nasib selalumembuat Pak Dul dalam usianya yang ke 58 tahun, beserta istrinya, tetapberkeliling mencari barang-barang bekas untuk dijual kembali.
"Pokoknya keliling mencari yang didapat untuk dijual lagi, daripada tinggal di gubuk ini," katanya. Habis sudah semua harta benda yang dimilikinya, kecuali anak perempuannya. Satu-satunya yang berharga, yang tersisa.
|