Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Nasional

Kisah Lusuh yang Terulang

Di Tanjung Duren, sebuah kisahlama yang lusuh terulang-ulang. Kali ini, bak sebuah perang bubat, merekamenggunakan gas air mata, molotov, serta kelebat kelewang dan bebatuanuntuk sebuah kata bernama: penggusuran.

Hingga 9 Oktober tahun ini, YLBHI mencatat bahwa Jakartamemiliki 5.680 keluarga korban penggusuran. Data itu akan semakin melejitkarena aparat masih mengincar delapan buah lokasi penggusuran hinggamenjelang bulan Puasa.

Kalaupun warga memang menempati lahan yang bukan miliknya,apakah mereka harus dihadapi seperti menghadapi musuh dalamperang? Bukankah ada yang namanya negosiasi, persuasi, dan komunikasi,daripada kekerasan dan ancaman? Bukankah gaya persuasi itu yangdilakukan bagi ratusan keluarga yang tinggal di tempat pemakaman umumTegal Alur, Jakarta Barat, yang akhirnya bersedia membongkarrumahnya sendiri? Mereka umumnya menyadari dan tidakmau merebut tanah yang bukan menjadi hak miliknya. Andai kata itu juga bisadilakukan di Kalijodo, Tambora,Cengkareng, dan Kampung SawahTaman Anggrek, pastilah kota ini menjadi lebih damai. Danmungkin pula Kastari,Feeri Sianipar, Abdul Rosyid,Arinta, Ita, dan ribuan warga tergusur lainnya tak akan bernasib seburukini.



Ita Permana, 32 tahun

Kemiskinan adalah menu lezat para politikus saat kampanye.Tetapi, ketika zaman penggusuran tiba, belum tentupartai-partai itu mengingatnya. Maka Ita Permana bersama istri dan ketiga anaknyamemasang poster Megawati di depan gubuknya, "Biar Mega tahu nasib kami,"katanya. Sekarang, ia tak bisa melakukan apa-apaselain menjaga keluarganya. Ia ingin mencari kontrakan baru, tapi belum adauang. Ia bersyukur anak pertamanya, Sugita, 8 tahun, masih dapat bersekolah. Tapi,ia mulai khawatir mengenai dua adik Sugita.

Kastari, 36 tahun

Apa yang tersisa setelah penggusuran itu? Pakaian yang melekat di tubuh,kuda-kudaan, dan sebuah sepeda kecil. Setelah penggusuran, kehidupan Kastari, dankeluarganya makin buram. Sebagai buruh kasar, jangankan mencari kontrakanbaru, untuk makan sehari-hari saja harus mengandalkan sumbangan.

Abdul Rosyid, 30 tahun

Sebagai pembuat kue donat yang dipasarkan keliling Jakarta, keluarga Abdul Rosyid mampu menghimpundana hingga Rp 30 juta untuk membangun rumah. Pemilikkartu penduduk Jakarta ini berdiam dengan istri, ibu,dan anaknya di rumah itu, sembari membuat kuekebanggaan mereka. Setelah digusur, hancur leburlah semua.Bukan hanya rumah yang mereka bangun susah payah, tetapijuga perkakas pembuat kue dan peralatan lainnya ikuthancur. Kini mereka tinggal di depan gubuk papan darurat.

Yon, 37 tahun

Ia sengaja membuat gubuknya berbeda dari yang lain untuk menghilangkankekesalannya. "Aku merasa lucu melihat bangsa ini," katanya. "Pantas sajabangsa ini banyak terorisnya, lha orangkecil diinjak-injak!" Bapak asli Betawi ini hanya ingin anaknya, Sanju, 3 tahun,tetap riang tertawa. Namun ia khawatir karena penyakit kulit menjangkiti anaknya....

Feeri Sianipar, 34 tahun

Dengan uang Rp 25 juta, Feeri Sianipar membangun rumah itu untukkeluarganya. Dengan keadaan istri yang baru saja melahirkan dan anakyang baru saja berusia 40 hari, rumah itu dirobohkan oleh aparatKetenteraman dan Ketertiban. Marah, khawatir,stres, hingga ia tak mampu berkata-kata.... Lelaki asal Cirebon ini merasatak memiliki apa-apa.

Arinta Prasnayan, 42 tahun

Deru buldoser tak cuma melumat gubuk dan berbagai perkakaskeluarga Arinta. Dia juga harus kehilangan lapangan kerja, dan anak bungsunyaterpaksa putus sekolah. "Saya hanya dapat pasrah, maungomong bagaimana lagi?" kata lelaki asli Betawiini. Sambil tetap bertahan di lokasi penggusuran, dia ikut bolak-balikmengikuti rapat warga; berusaha menyiasati strategi untuk meraihhak-haknya yang masih tersisa.

Pak Dul, 58 tahun

Pemulung bukanlah pilihan, melainkan nasib. Dan nasib selalumembuat Pak Dul dalam usianya yang ke 58 tahun, beserta istrinya, tetapberkeliling mencari barang-barang bekas untuk dijual kembali.

"Pokoknya keliling mencari yang didapat untuk dijual lagi, daripada tinggal di gubuk ini," katanya. Habis sudah semua harta benda yang dimilikinya, kecuali anak perempuannya. Satu-satunya yang berharga, yang tersisa.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data