Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Nasional

Malam Terakhir di Pigcawayan

MALAM belumlah genap di tepian Kota Pigcawayan, Provinsi Cotabato Utara, Filipina Selatan. Suasana sunyi-senyap. Di kota kecil basis gerilyawan muslim yang terletak sekitar 960 kilometer arah selatan Manila itu, ratusan polisi khusus berjaga-jaga. Ahad sore dua pekan lalu, pasukan PACER (Police Anti-Crime Emergency Response) itu menyisir sejumlah titik rawan.

Sejak Fathur Rohman al-Ghozi melarikan diri dari Penjara Camp Crame, 14 Juli silam, pasukan gabungan polisi dan Divisi Infanteri VI Angkatan Darat Filipina siaga sepanjang hari melakukan perburuan besar. Mereka antara lain mendirikan pos pemeriksaan darurat dengan mempersempit ruas-ruas jalan, di kota-kota yang dicurigai menjadi pelarian terpidana teroris itu.

Mereka juga siaga di pos pemeriksaan jalan penghubung antara Kota Cotabato, General Santos, dan Davao. Masing-masing menenteng M-16. Hujan lebat tak menghalangi "operasi penyisiran" itu. Ini terkait dengan laporan intelijen yang mahapenting: Fathur Rohman al-Ghozi, buron nomor wahid pemerintah Arroyo itu, dikabarkan bersembunyi di kota yang tak sumringah itu.

Lalu, sepi di Pigcawayan pun berubah menjadi kegaduhan. Sekitar pukul 19.15 waktu setempat, sebuah mobil minicab warna biru tanpa pelat nomor melintas dari arah Cotabato dengan kawalan sebuah sepeda motor. Tanpa dinyana, begitu melihat ada pos pemeriksaan polisi, mobil banting setir balik arah dan tancap gas.

Rupanya, minicab itu berpenumpang tiga orang. Satu dari tiga penumpangnya adalah Al-Ghozi. Dua lainnya tak diketahui identitasnya karena kabur. Terjadi adegan kejar-kejaran selama 10 menit. Awalnya tak ada dar-der-dor seperti dalam film action. Mobil terdesak, lalu berhenti. Al-Ghozi, yang sendirian, merasa kepepet, lalu melepaskan tembakan ke arah pasukan PACER.

Aparat membalas. "Al-Ghozi melepaskan tembakan terlebih dulu dari dalam mobil," ujar seorang petinggi polisi di Cotabato yang tak mau disebut namanya kepada TEMPO. Mereka terlibat baku tembak selama 15 menit. Pasukan memuntahkan timah panas ke arah minicab dari jarak dekat. Lima peluru M-16 akhirnya menembus jasad Al- Ghozi. "Satu peluru di dada, satu di tangan kiri, satu di punggung, dan lainnya di badan," ujar Kepala Polisi General Santos, Kolonel George Aquisap, kepada TEMPO.

Inilah akhir pelarian tokoh yang dihukum lantaran sejumlah tindak terorisme di Filipina itu. Karena perdarahan dan luka yang serius, nyawa pria kelahiran Madiun 32 tahun lalu itu pun meregang. Dokter di Rumah Sakit Midsayap di Kota Cotabato yang memeriksa sang buron memastikan Ghozi sudah tewas. Akhirnya mayat ahli merakit bom itu dibawa ke Kota General Santos dan disimpan di rumah penyimpanan jenazah Collado.

Polisi Filipina menyebutkan, pada saat kejadian Al-Ghozi hanya mengenakan celana training. Cuma, tak bisa dipastikan, dalam posisi bagaimana ia tertembak. Kolonel Aquisap menyatakan, ia tahu persis bahwa Ghozi tewas dalam tembak-menembak. "Polisi menyita barang bukti berupa pistol Colt kaliber 45 milik Ghozi," katanya.

Ghozi tampaknya terus diburu. Juru bicara militer Filipina, Kolonel Renoir Pascua, menyatakan bahwa penangkapan itu dilakukan setelah ribuan aparat militer dan polisi menyisir kawasan Mindanao, Filipina Selatan, karena mendapat kabar bahwa Al-Ghozi ada di wilayah itu. Menurut Pascua, pemerintah Filipina merasa telah dilecehkan Al-Ghozi karena pelariannya dari penjara dua bulan lalu.

Al-Ghozi kabur dari penjara di Markas Besar Kepolisian Nasional Filipina (PNP) Camp Crame, Senin 14 Juli lalu. Peristiwanya terjadi dini hari. Pria asal Madiun ini melarikan diri bersama dua orang gerilyawan Abu Sayyaf yang kerap bikin teror di Filipina. Abdulmukim Edris, satu dari teman pelariannya, tewas dalam perburuan pada 7 Agustus di Provinsi Lanao del Norte.

Tapi ada versi lain ihwal tertangkapnya Ghozi. Menurut Sumber TEMPO, seorang intelijen kepolisian Filipina, ia diciduk berkat pengkhianatan orang dekatnya yang ikut menjaganya saat bersembunyi. Sang karib tergiur hadiah 5 juta peso (Rp 760 juta) dari Presiden Gloria Arroyo yang ditawarkan kepada sang penangkap. Taktik Istana Malacanang ini terbukti ampuh.

Adi Prasetya, Faisal (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data