Misteri Al-Ghozi Dibawa Mati Tiga lubang peluru mengakhiri hidup buron pemerintah Manila, Singapura, dan Jakarta ini. Tapi riwayatnya setelah kabur dari penjara masih gelap. Bagaimana ia dihabisi? |
ALLAHU Akbar, Iskamillah, Mujahiddah," kata-kata itu bersahut-sahutan mengantar jenazah Fathur Rohman al-Ghozi. Peti putih dihiasi motif kekuningan diturunkan perlahan ke liang kubur, tepat di samping makam ayahnya, Muhammad Zainuri, di Pemakaman Singkal, Desa Mojorejo, Kebonsari, Madiun, Jawa Timur. Jumat pagi pekan lalu, jasad Ghozi berbaring untuk selamanya. Gundukan tanah merah basah tanpa nisan itu ditinggalkan ratusan pelayat tanpa doa dan upacara.
Namun ini bukan akhir cerita. Kontroversi kematian anak pertama dari empat bersaudara putra pasangan Muhammad Zainuri dan Rukhanah ini masih belum selesai. Hasil autopsi dari tujuh dokter yang dipimpin oleh Mun'im Idris dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Rumah Sakit Dr. Muwardi, Solo, Jawa Tengah, Kamis dini hari pekan lalu, menyimpulkan bahwa kematian buron nomor wahid pemerintah Filipina itu akibat terjangan tiga pelor yang menembus jantung dan paru-parunya.
Pria beranak satu, kelahiran Madiun, Jawa Timur, 32 tahun lalu, itu masuk kategori orang berbahaya. Ghozi divonis 17 tahun penjara oleh pengadilan Filipina pertengahan April lalu. Ia dituduh menyimpan satu ton bahan peledak dan senjata api serta memalsukan paspor. Ia mengaku pernah meledakkan pusat stasiun kereta Metro Manila, yang menewaskan 22 orang, Desember 2000.
Belakangan ia bikin geger: kabur dari penjara Camp Crame, Manila, yang dikenal sangat ketat penjagaannya, dengan "mulus" tanpa halangan dan kekerasan, 14 Juli lalu. Ikut bersamanya dua gerilyawan Abu Sayyaf—yang juga dikabarkan sudah terbunuh. Ia diduga punya kaitan dengan para pentolan Jamaah Islamiyah, organisasi yang dicap PBB sebagai biang teror. Polisi Filipina mengincarnya. Ia dituding sebagai pelaku beberapa ledakan di Manila.
Ingat bom yang membuncah di rumah Duta Besar Filipina, Leonides Caday, di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta, Agustus 2000? Dalam pemeriksaan polisi, Abdul Jabar, tersangka peledakan yang bikin heboh Jakarta itu, menyebut-nyebut Ghozi terlibat dalam peledakan yang menewaskan tiga orang tersebut. Menurut Abdul Jabar, Ghozi berkolaborasi dengan Dulmatin (buron), Amrozi, dan Farihin. Bom dirakit di rumah Farihin di Cirebon, Jawa Barat, sebelum dibawa dengan mobil yang dipersiapkan Amrozi, "si anak nakal" dari Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Abdul Jabar divonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Dan kontroversi Ghozi berlanjut hingga kematiannya. Bagaimana pelor menerjang? Inilah yang menarik dicermati. "Peluru itu masuk dari arah depan. Tidak ada peluru yang tertinggal, karena tembus belakang," ujar Mun'im Idris, dokter yang pernah mengautopsi para mahasiswa yang tertembak di depan kampus Universitas Trisakti, Jakarta, Mei 1998. Temuan ini seolah membantah pernyataan para pejabat pemerintah Filipina, yang menyebut Ghozi tewas ditembak karena melarikan diri. "Apa dia lari dengan cara mundur?" ujar Mun'im.
Ada lagi yang janggal. Di tubuhnya ada enam jahitan. Keanehan ini telah membuat Rusman, paman Ghozi, marah. "Berdasarkan hasil autopsi, kami curiga ada hal yang sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah Filipina," ujar Rusman seusai menghadiri pemakaman keponakannya itu. Tim Pembela Muslim—yang membela Al-Ghozi—pun ikut geram. Mereka segera menuntut pemerintah Filipina, yang dianggap telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. "Tuntutan itu akan disampaikan melalui Mahkamah Internasional," kata Fachmi Bachmid, salah seorang anggota tim pembela.
Hilangnya Ghozi memang penuh misteri. Setelah membobol dan lolos dari penjara superketat Camp Crame, Manila, tak jelas ke mana saja ia berkelebat. Tiga bulan kemudian, Minggu malam dua pekan lalu, tiba-tiba saja ia dinyatakan tewas oleh pasukan tentara Filipina setelah terjadi baku tembak di pinggiran kota Pigcawayan, Mindanao, Provinsi Cotabato Utara, 960 kilometer di selatan Manila. Menurut polisi setempat, Ghozi ditembak setelah melarikan diri dengan mobil minicub bersama dua kawannya. Penembakan terjadi setelah mereka menghindari pos pemeriksaan tentara (lihat Malam Terakhir di Pigcawayan).
Seminggu sebelum malam nahas itu, dikabarkan aparat keamanan Filipina mendapatkan satu pesan dari kelompok yang menamai dirinya Abu Sayyaf. Mereka mengklaim Al-Ghozi berada di tangan mereka dan meminta imbalan uang 16 juta peso untuk menyerahkan sang buron. Uang itu harus diserahkan melalui marinir Filipina. Angka ini tiga kali lebih besar ketimbang tawaran Presiden Gloria M. Arroyo, yang akan menghadiahkan 5 juta peso bagi siapa saja yang memberikan informasi untuk menangkap alumni Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah, itu.
Sebelum ada kemajuan soal penyerahan itu, Ghozi keburu ditembak. Namun cerita ini tidak jelas benar. Para pejabat di Filipina tak satu suara soal kematian lelaki asal Desa Mojorejo itu. Gubernur Cotabato Utara, Emmanuel Pinol, mengatakan bahwa tidak seorang pun penduduk mendengar suara pertempuran. "Hanya terdengar dua tembakan," kata Pinol kepada radio DZBB di Manila. Koran di negeri itu pun ramai-ramai mempertanyakan penembakan tersebut. Philippine Star menulis, "Baku tembak yang mana?"
Sedangkan tudingan atas gerilyawan Moro sebagai pelindung Ghozi selama jadi buron juga dibantah Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Abu Sayyaf Group adalah kelompok radikal sempalan dari MILF. Juru bicara MILF, Eid Kabalu, membantah pengumuman resmi pemerintah yang disampaikan Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Hermogenes Ebdane, Senin lalu. Kabalu menegaskan, Al-Ghozi telah berada di bawah tahanan polisi dan militer jauh sebelum kematiannya dan tidak ada baku tembak lagi. "Pihak militer terus mendiskreditkan MILF di hadapan tim perunding MILF dengan mengatakan kami melindungi Al-Ghozi," katanya.
Kalangan oposisi Filipina lain lagi bicaranya. Mereka menyebut Ghozi sengaja dihabisi agar tak membuka mulut tentang siapa polisi yang bisa ia suap untuk lolos dari penjara itu. "Jadi, ia dihabisi sebelum buka mulut," kata Senator Aquilino Pimentel. Tapi spekulasi "eksekusi tentara" dan "operasi tutup mulut" ini dibantah Presiden Gloria Arroyo. "Saya berpendirian sesuai dengan laporan yang dibuat otoritas mengenai operasi ini," katanya.
Sumber di kepolisian Indonesia percaya bahwa tokoh sekaliber Ghozi berani melakukan perlawanan. Ciri kelompok ini akan melawan jika terpepet hendak ditangkap. Itu terjadi pada Ali Gufron alias Muchlas, terpidana bom Bali, yang melawan ketika ditangkap di Jawa Tengah.
Hal serupa terjadi pada Ikhwanudin, anak buah Mustopa—tokoh Jamaah Islamiyah dari Semarang—yang nekat bunuh diri ketika ditangkap polisi di Jakarta. "Itu sudah doktrin mereka, melawan jika kepepet," ujar perwira polisi di Markas Besar Kepolisian RI yang terlibat dalam pengejaran kelompok Jamaah Islamiyah.
Selain Manila dan Jakarta, Singapura ikut mengincar pemuda "bertampang tak berdosa dengan sorot mata sayu" ini. Aparat intelijen Singapura terus memantau gerak-gerik alumni Universitas Lahore, Pakistan, itu. Pasalnya, bahan peledak milik Sammy Sali Jali dan Randy—nama samaran Ghozi—yang ia simpan di rumah bedeng milik sahabatnya, Datuk Malagat, disebut-sebut akan dikirim ke Singapura untuk mengebom Negeri Singa itu. Informasi itu didapat setelah aparat negara kota itu membekap Faiz bin Abu Bakar Bafana, sahabat Ghozi.
Kisah pelarian Ghozi yang dramatis akhirnya berujung di Pemakaman Singkal, Madiun. Namun babak baru soal gugatan keluarganya kepada pemerintah Filipina segera dimulai. Jejaring koneksi mendiang Al-Ghozi di pelbagai negara Asia Tenggara juga bisa jadi "ancaman" yang siap melancarkan serangan berikutnya.
Edy Budiyarso, Dwidjo U. Maksum (Madiun), Imron Rosyid (Solo)
Seorang Ghozi, Lima Paspor
1982-1989
Nyantri di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ketika lulus, Al-Ghozi juga memiliki nama lain, Faturrohman Arrozy. Ia santri angkatan 12 dengan nomor induk 812.
1989
Tamat dari Ngruki, Ghozi kuliah di Fakultas Syariah Universitas Lahore, Pakistan. Ia berangkat dengan paspor atas nama Fathur Rohman al-Ghozi. Ia tinggal di Pakistan hingga 1995.
1994
Bersama empat orang teman kuliahnya di Pakistan, Jamaludin dan Quseid (warga Indonesia), serta Habib dan Solahudin (dari Front Pembebasan Islam Moro, MILF) pergi ke Tulhum, perbatasan Pakistan-Afganistan. Mereka berlatih militer kepada seorang mullah dari Afganistan. Dari sinilah Ghozi pertama kali belajar memakai dan merakit senjata dan membuat bom.
1995
Lulus kuliah, lalu pulang ke Indonesia. Singgah sebulan di Malaysia, ia bertemu seorang dedengkot Jamaah Islamiyah Asia Tenggara, Faiz Abu Bakar.
1996 Desember
Ghozi berangkat ke Kamp MILF di Moro, antara lain bertemu Solahudin, temannya di Pakistan. Di sana Ghozi berlatih gerilya bersama pejuang Moro dan menggunakan senapan M-16 dan sejumlah pistol.
1996
Ghozi mulai menggalang kekuatan dan menyusun rencana ke Moro, Filipina Selatan, bersama kawan-kawan di Indonesia. Ghozi bertemu Sulaeman, yang kemudian mensponsorinya ke Moro.
1997
Ghozi kembali ke Indonesia melalui rute General Santos-Bitung- Manado-Surabaya-Madiun. Di Madiun, Ghozi sempat mengajar di Taman Pengajian Anak di Magetan, Jawa Timur, milik H. Muhiddin.
1998
Mendapat tugas dari Faiz Abu Bakar menjelajahi Filipina selama 5 bulan, antara lain menemui Abu Ali, agen penjual bahan peledak. Ghozi lalu membuka rekening di Bank Nasional Filipina yang dipakai Faiz Abu Bakar memasok dana "perjuangan" Ghozi.
2000
Pulang ke Indonesia. Ia membuat paspor dengan nama Rony Asad bin Ahmad di Kantor Imigrasi Solo. Dengan paspor itu ia ke Johor, Malaysia, dan menjadi mandor di perusahaan kontraktor milik Faiz Abu Bakar.
September
Menikah dengan Zaenab.
Desember
Ghozi membeli 60 kilogram bahan peledak untuk Mukhlis, aktivis Islam Moro, Filipina.
30 Desember
Sebuah bom meledak di Pusat Stasiun Kereta Metro Manila. Ghozi belakangan mengakui terlibat dalam penge-boman ini.
Maret
Ghozi membeli satu kuintal bahan peledak dan dititipkan ke Abu Ali di Filipina.
Mei
Pulang ke Solo tanpa paspor untuk menjemput istrinya. Di Solo ia mengurus paspor istrinya dengan nama Sheila Mubin lalu ke Malaysia.
Juli
Ke Filipina, melalui pelabuhan Nunukan (Kalimantan Timur)-Manado (Sulawesi Utara)-Kota General Santos. Di Filipina ia membuat paspor baru dengan nama Sammy Sali Jali. Pulang ke Indonesia, namun tak lama kemudian kembali lagi ke Filipina.
18 April 2002
Ghozi divonis 17 tahun penjara atas tuduhan menyimpan bahan peledak dan pemalsuan paspor.
14 Juli
Ghozi kabur dari penjara Camp Crame, Manila, bersama dua gerilyawan gerakan teror Abu Sayyaf. Hadiah 10 juta peso (sekitar Rp 1,6 miliar) disiapkan bagi mereka yang mampu menangkap Ghozi hidup atau mati.
7 Agustus
Abdulmukim Edris, dan Mahmud Ismail, kawan pelarian Ghozi tewas ditembak tentara Filipina di Provinsi Lanao del Norte. Abdulmukim Edris diyakini sebagai anggota kelompok Abu Sayyaf, sementara Mahmud Ismail diyakini sebagai komandan MILF.
4 September
Amerika membekukan aset enam warga negara Indonesia tersangka teroris, termasuk Ghozi.
11 September
Ghozi dilaporkan tewas oleh tentara Filipina, tapi dibantah pemerintah Filipina.
2 Oktober
Taufic Rifqi, pengawal Ghozi selama pelarian, ditangkap di Cotabato. Dari sinilah aparat mengendus jejak Ghozi.
9 Oktober
Militer Filipina mengumumkan telah mengepung Ghozi.
12 Oktober
Ghozi tewas ditembak dalam suatu operasi yang dilangsungkan bersama oleh tentara dan polisi di Kota Pigcawayan, Cotabato, Filipina Selatan. Lima peluru bersarang di dada, tangan kiri, dan punggung.
16 Oktober
Jenazah Ghozi tiba Madiun dan dimakamkan keesokan harinya.
Adi Prasetya, Sudrajat
|