Membangunkan Kartini dengan 'Rock' Sony dan Indonesia Progressive Society meluncurkan album empat grup progressive rock Indonesia. |
TAHUN 1911, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, J.H. Abendanon, menerbitkan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternist Tot Licht. Kita kemudian tahu kegelisahan sang putri lewat terjemahan Armijn Pane yang populer: Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan itu semua telah menjadi pengetahuan umumtanpa kita banyak tahu kontroversi-kontroversi di dalamnya.
Tapi grup Discus bergerak lebih jauh. Mereka mengkomposisi "kontroversi" itu dalam nomor berdurasi 12 menit lebih dan label main stream Sony mendistribusikannya. "Kami bertolak dari renungan perjalanan Kartini yang jarang diekspos," kata Fadhil Indra, vokalis Discus. Ia membaca sekian buku tentang Kartini, termasuk kisah poligaminya, yang dianggap sebagian kalangan mengkhianati perjuangannya sendiri.
"Ini proyek idealisme," ujar Jan N. Djuhana, Direktur Senior Sony Indonesia. Sebab, bukan hanya Discus, tapi atas nama label Progressive Rock Sony (PRS) Record, ia mencanangkan merilis grup-grup baru progressive rock Indonesia. Sekarang giliran "sang ikan" itu bersama In Memoriam, Purgatory, dan Imanissimo. Pada dasarnya Sony Music Entertainment Indonesiaberdiri sejak Juni 1997telah mengedarkan album artis lokal, terutama dengan pasar pop yang stabil. "Ini produk yang segmental sekali," tutur Jan.
Pembentukan PRS Record memang langkah berani, dan itu tak lepas dari negosiasi Indonesia Progressive Society (IPS), sebuah organisasi yang didirikan para penggemar prog-rock di Jakarta pada 28 Januari 2001. Salah satu misinya membantu musisi prog untuk rekaman. Pada April 2001 dan April 2002, dengan biaya patungan, di Bale Ayer Taman Ria Senayan, mereka berhasil menyelenggarakan Indonesia Progressive Festival. Dari sinilah dapat terpantau mana band berpotensi. IPS lalu membiayai Imanissimo dan In Memoriam untuk rekaman. "Band yang kami pilih yang matang komposisinya," kata Andy Julias, Ketua IPS. Adapun Discus dibiayai Intrepid Music, dan Purgatory didonasi sendiri. IPS lalu merekomendasi nama-nama band ini ke Sony.
Lihatlah hasil eksperimen mereka. Anto Praboe membacakan petilan surat Kartini kepada Abendanon dan Stella Zeehandelaar dengan gaya growl (gaya suara menggeram vokalis metal). Mengapa bukan Noni, vokalis perempuan Discus, yang melakukannya? "Growls itu lambang perlawanan, sementara jiwa surat Kartini adalah pemberontakan," alasan Fadhil. Mulanya suasana lagu tumpang tindih, menggambarkan ketidakmenentuan Jawa tahun 1879. "Birama putar balik," kata Fadhil. Discus setia menyisipkan efek-efek etnik. Lagu pembuka album Tot Licht adalah System of Manipulation, karya Iwan Hasan. Mulanya terdengar lantunan vokal, langsung ditabrak oleh raungan gitar. "Itu suara vokal gaya Dayak Ot Danum, Kalimantan Barat," ujar Iwan Hasan.
Lain lagi Reynold, pemain keyboard In Memoriam, juga guru piano di Yayasan Musik Indonesia. Ia mengaku terpukau atas ide-ide komponis Jerman, Schoenberg, yang melawan tradisi musik klasik Barat. Band-nya menggabungkan elemen Gothicakor-akor post-romantic dengan rapper, punk, dan hip hop. "Banyak bunyi disonan di lagu kami," katanya. Dengan cover sebuah kepala dengan otak terbuka dan kalimat The Ultimate Terrorizing Aura Of Unlogic Mind, lagu terpanjang kelompok ini adalah Overture, 12 menit 58 detik.
Akan halnya Imanissimo, yang gahar mengusung psychedelic metal, Purgatory muncul dengan dead metal. "Ada satu track album Purgatory dibantu Eet Syahroni, gitaris God Bless," kata Jan Djuhana. Untuk urusan instrumen, Discus mungkin paling bervariasi. Klarinet, bas klarinet, flut, saksofon, gitar harpa 21 dawai, rindik Bali, suling, gender, kempli (sejenis bonang) berbaur. Seluruh pengarahan untuk perekaman empat band ini ditangani oleh Andy Julias. "Saya tidak merombak, tapi hanya menajamkan komposisi," kata Andy.
"Lagu Anne paling disukai sewaktu kami main di Festival North Carolina 2000 dan Baja Prog Festival di Meksiko," tutur Iwan Hassan mengenang. Komposisi ini berkisah tentang Anne Frank, gadis cilik Yahudi yang menuliskan memoar dalam persembunyian. Di tengah suasana ketakutannya, Discus menyelipkan suara cak cak cak.
Di Duta Suara, Jalan Sabang, Jakarta, tumpukan kaset Discus lumayan berkurangmenandakan ada komunitas penggemar jenis musik ini. Bila ludes, bukan tak mungkin Sony akan berperan lebih jauh. "Nanti ke depan, kalau sukses, ya, produksi," kata Djuhana. Bagaimanapun, kita mengharap, munculnya label PRS ini mampu menstimulus munculnya grup progresif lain, yang struktur komposisinya kompleks, dengan lirik tak kacangan.
Dan Anne pun meraung: A young girl's waiting and watching the troops in the darkness
.
Seno Joko Suyono
|