Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Luar Negeri

Sambungan telepon itu datang dari Oslo, Norwegia. Kepala Komite Nobel Norwegia, Geir Lundestad, menelepon keluarga Shirin Ebadi di Teheran. Ebadi sendiri saat itu tengah berada di Paris. Selang satu jam, Komite Nobel mengumumkan Shirin Ebadi mendapatkan Nobel Perdamaian 2003. Maka, pecahlah beberapa rekor dalam kehidupan wanita Iran ini: dia menjadi muslimah pertama, warga Iran pertama, dan hakim wanita pertama yang memperoleh Nobel Perdamaian.

Kabar baik dari Norwegia pada Selasa pekan lalu itu seperti menenggelamkan Iran dalam sukacita. Sekitar 25 ribu manusia memadati Bandara Internasional Mehrabat untuk mengelu-elukan Ebadi. Pesawat Air France yang menerbangkannya dari Paris mendarat di Teheran pada Rabu pukul setengah sebelas malam. Ketika Ebadi, 56 tahun, keluar dari pintu pesawat, bandara tiba-tiba pecah oleh tempik sorak yang membahana. "Ebadi nazanian, omid Iran zam (Ebadi yang tercinta, engkaulah harapan Iran)," teriak mereka berulang-ulang.

Seorang lelaki muda mengangkat tinggi-tinggi foto Shirin Ebadi. Ratusan mawar putih dilontarkan ke arah si pemenang Nobel. Ribuan perempuan berjilbab melambaikan tangan mereka yang dihiasi kuntum-kuntum kembang putih?lambang pengharapan. Bersama-sama, mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan Iran pra-revolusi. Dan Ebadi berkata: "Nobel ini bukan hanya milik saya. Hadiah ini milik semua wanita Iran, para pelajar dan mahasiswa, serta milik gerakan hak asasi dan demokrasi."

Mingguan The Economist menulis: "Dalam satu malam, wanita ini menjadi selebriti." Ada benarnya. Ebadi memang populer di dalam negeri. Tapi Nobel Perdamaian-lah yang mengantarkan dia menjadi "selebriti dunia".

Shirin Ebadi adalah hakim perempuan pertama Iran di masa pemerintahan Shah. Ahli hukum ini juga seorang penulis, dosen, serta aktivis hak asasi manusia, terutama hak anak-anak dan perempuan. Dia juga giat membela kelompok pro-demokrasi yang tertindas di bawah rezim mullah.

Menurut Ebadi, Nobel yang dia peroleh mencerminkan Islam tak bertentangan dengan demokrasi. Namun, kaum tua-tua Iran tak menyukai sikapnya yang progresif. Dia datang ke konferensi pers di Paris, tanpa jilbab. "Terserah kepada perempuan untuk memutuskan apakah akan memakai jilbab atau tidak," ujarnya kepada mingguan Newsweek. Ibunda Shirin, Minu Yamini, tak kuasa menahan tangisnya karena haru dan bangga. Bagaimanapun, putrinya telah mengalahkan para saingan ketat: Paus Yohanes Paulus II serta mantan Presiden Czech, Vaclav Havel.

Dari sisi para penguasa Iran, Nobel Perdamaian ini diterima dengan skeptis dan dingin. Bahkan Presiden Iran, Mohammad Khatami, yang dikenal moderat, baru memberi selamat empat hari setelah Komite Nobel mengumumkan hadiah tersebut. Ucapan selamat dari Khatami tak lupa disertai embel-embel peringatan agar penghargaan yang dia raih digunakan untuk kebaikan Iran dan perdamaian dunia?bukan untuk eksploitasi politik.

Presiden Khatami, seperti ditutip kantor berita BBC, mengatakan: "Hadiah Nobel ini 'tidak terlalu penting' dan 'semata-mata berdasarkan pertimbangan politis'." Lepas dari pro dan kontra, Shirin Ebadi telah mengantarkan negerinya ke gelanggang dunia yang terhormat: masuk deretan penerima Nobel Perdamaian. Pada 10 Desember mendatang, Komite Nobel akan memberikan pula uang 10 juta crown Swedia, atau sekitar Rp 17 miliar, kepada Shirin Ebadi.

Wartawan TEMPO Purwani Diyah Prabandari berhasil menghubungi pemenang Nobel ini pada Kamis silam. "Maaf, saya tidak lancar berbahasa Inggris," ujarnya kepada TEMPO di sela-sela wawancara singkat tersebut. Berikut ini petikannya.

Bagaimana rasanya saat Anda mendengar telah memperoleh Nobel Perdamaian?


Saya senang. Penghargaan ini juga untuk negeri saya.


Apa arti Nobel tersebut bagi Anda?


Itu (Nobel) amat penting bagi saya dan rakyat Iran. Dan itu (hadiah ini) mendorong saya bekerja lebih baik.


Takutkah Anda terhadap rezim penguasa Iran yang dikabarkan cukup menekan para pejuang demokrasi di Iran?


Saya tidak takut dan saya akan tetap meneruskan perjuangan ini.


Menurut Anda, bagaimana masa depan demokrasi di Iran?


Saya pikir kami sudah mengarah ke jalan yang benar, walau tidak mudah. Tetapi setidaknya saat ini kami memiliki keinginan untuk reformasi. Presiden kami bisa dikatakan cukup reformatif. Demikian juga parlemen kami.


Apa yang membuat Anda terjun menjadi aktivis hak asasi manusia?


Saya yakin bahwa hak asasi manusia di Iran amat penting bagi perdamaian. Kalau ada pelanggaran hak asasi manusia, masyarakat itu sendiri yang harus melawannya. Dan hak asasi harus dihormati jika kita menginginkan perdamaian.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data