Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Luar Negeri

Tahun Perak di Takhta Suci

Paus Yohanes Paulus II genap 25 tahun memimpin Gereja Katolik. Dia menghadapi satu kontroversi: perlu-tidaknya Paus mundur karena alasan kesehatan.

Beginilah cara Josef Stalin meledek Vatikan, sekali waktu: ”Berapa divisi (tentara) yang dimiliki Paus?” Di puncak kekuasaannya, Stalin (1879-1953) adalah pemimpin Rusia—kala itu masih Uni Soviet—yang legendaris karena kekuasaan dan kekejamannya: 27 juta warga Soviet mati selama dia memerintah. Di bawah Stalin, Soviet adalah negara komunis dengan kekuatan dahsyat yang diperkuat oleh ribuan divisi tentara. Masuk akal jika dia enteng saja melecehkan Vatikan, negeri mini di jantung Roma, yang bahkan untuk sekadar serdadu penjaga pun harus mengimpornya dari Swiss.

Stalin sudah lama meninggal saat Kardinal Karol Wojtyla diurapi menjadi Paus Yohanes Paulus II pada 16 Oktober 1978. Maka, Stalin, yang lahir dalam sebuah keluarga Katolik, tentu tak bisa menyaksikan perayaan ulang tahun perak Paus di atas Takhta Suci pada Kamis pekan silam. Pada usia 83 tahun, Paus asal Polandia itu mencatat sejumlah rekor fantastis. Satu di antaranya boleh jadi bisa membikin Stalin terhenyak dalam liang kubur: andil Paus yang besar dalam melahirkan gerakan pembaharuan di Uni Soviet—yang kemudian meruntuhkan kejayaan komunisme di negara tersebut.

Dari takhtanya di Roma, Paus juga menaburkan ”berkat” pada tumbangnya komunisme di Polandia, pada runtuhnya rezim Tirai Besi di Cina. Dia—secara tak langsung, tentu saja—ikut memandu pertumbuhan demokrasi di kawasan Amerika Latin, memusatkan perhatian pada negara-negara Dunia Ketiga, sembari menggembalakan satu miliar umatnya di dunia.

Dua setengah dekade di atas Takhta Suci telah menggerus kekuatan Bapa Suci—salah satu sebutan resmi Paus. Matanya sudah buram, bicaranya kabur, tangannya gemetaran dihajar parkinson. Tapi Yohanes Paulus II agaknya tak akan mengikuti langkah pendahulunya, Paus Celestine V, yang turun takhta dengan sukarela pada tahun 1294 karena alasan kesehatan. ”Hal itu (turun takhta sebelum meninggal—Red.) adalah tak mungkin,” ujar Kardinal Pio Laghi, salah satu pembantu terdekat Paus.

Pio Laghi merespons suara-suara keras, antara lain dari daratan Amerika dan Eropa Barat, yang meminta Paus ”mundur karena alasan kesehatan”.

Kardinal Laghi menjawab keraguan sebagian umat itu dengan mengatakan: ”Pikiran Paus tetap jernih. Dan dia akan tetap memimpin Gereja Roma dan Gereja Katolik sedunia.” Kata-kata ini memang tak terlalu meyakinkan, menilik kondisi Paus sekarang. Tapi Yohanes Paulus II banyak disebut sebagai seorang ”heartbreaker” yang mudah meruntuhkan hati.

Duduk di kursinya dalam baju dan mitra kebesaran pada misa ulang tahun di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis malam lalu, Paus menunduk dengan mata terpejam. Dia hanya mampu melagukan seperempat bacaan Injil upacara tersebut dengan lafal yang kabur. Tapi, siapa peduli? Para presiden, perdana menteri, raja-raja Eropa, para biarawan dan biarawati, akademisi, politikus, bahkan para astronaut Amerika, berlutut di hadapan altar misa yang dia pimpin. Puluhan ribu manusia terbang dari delapan penjuru bumi untuk hadir di Basilika Santo Petrus guna merayakan tahun peraknya di atas Takhta Suci.

Orang seolah melupakan semua kelemahan fisiknya saat dia berkhotbah, ”Saya persembahkan kepada Anda sekalian buah-buah dari misi iman selama 25 tahun ini. Maafkan yang jahat dan gandakanlah perbuatan baik.” Sementara itu, kor membahana dalam cahaya petang awal musim gugur dengan beberapa berkas cahaya yang jatuh di ujung altar.

Dalam seperempat abad ”masa dinas”-nya, sang Paus—meminjam istilah George Weigel, penulis buku Witness to Hope: The Biography of Pope John Paul II—telah mewariskan ”sejumlah jejak besar”. Antara lain, Paus paling berpengaruh dalam 500 tahun terakhir. Ed Lynch, Ketua Departemen Ilmu Politik di Hollins University, Virginia, menilai Paus sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Jika masih hidup hingga Maret 2004, Yohanes Paulus II akan memecahkan rekor sebagai Paus ketiga terlama selama 20 abad Gereja Katolik. Dia memimpin pertemuan dengan 1.360 kepala negara. Dia berkunjung ke 130 negara. Tapi Polandia adalah cintanya yang tiada tara—tanah kelahiran yang mendapat seluruh doa restunya, termasuk saat Lech Walesa menjungkirkan Jenderal Jaruzelski serta rezim komunis yang berkuasa.

Yohanes Paulus II tak memerlukan seorang tentara pun—seperti yang dipertanyakan Stalin—untuk menopang tongkat gembalanya, bahkan pada usia 83 tahun.

Hermien Y. Kleden (The Economist, BBC, New York Times, Holy See PO)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data