Gudang Nuklir di Timur Tengah Israel memotong jalur senjata ke Palestina. Padahal ia sendiri mengembangkan senjata pemusnah massal.
|
SUBUH itu, matahari di Kota Rafah bergerak naik seperti lampu senter. Perlahan menyorot, memperjelas wajah-wajah warga Palestina yang muram dan putus asa. Dalam hitungan menit, terpampanglah apa yang dihadapi penduduk kota di perbatasan Jalur Gaza-Mesir itu. Di atap-atap bangunan tertinggi, beberapa tentara memposisikan diri sebagai para penembak jitu. Lebih tinggi lagi, helikopter-helikopter Israel. "Beberapa helikopter mulai menembaki," ujar koresponden televisi Al-Jazeera yang menyaksikan serangan Israel ke Rafah, Selasa lalu.
Pekan sebelumnya, serangan yang jauh lebih buruk menimpa warga Rafah. Sekitar 40 tank Israel, diikuti buldoser, merangsek ke kamp pengungsi Rafah. Lebih dari 100 rumah hancur dan sekitar 2.000 warga kehilangan tempat berteduh. Selain itu, sembilan orang tewas dan 80 lainnya luka-luka.
"IDF (Angkatan Bersenjata Israel) terpaksa melakukan ini karena tentara Mesir tidak melakukan apa pun untuk mencegah penyelundupan senjata ini," ujar seorang pejabat militer Israel. Menurut dia, ada 10 terowongan di bawah rumah-rumah yang menuju Mesir. Israel yakin, kelompok militan (Israel menyebutnya teroris) di Rafah berencana menyelundupkan rudal antipesawat serta roket yang bisa menyerang kota-kota Israel dari Gaza. Pokoknya canggih deh.
Lagu lama, menurut Mesir. Selama ini Israel selalu menuduh Mesir, Suriah, dan Iran membantu kelompok militan yang oleh Israel disebut teroris. Israel mengaku sangat khawatir. Pekan lalu, kepada radio Angkatan Darat Israel, Ketua Komite Pertahanan dan Hubungan Luar Negeri Knesset, Yuval Steinitz, menyatakan bahwa Israel telah meminta Amerika agar tak menjual sistem senjata canggihnya ke Mesir dan Arab Saudi: bom yang dilengkapi dengan sistem Joint Direct Attack Munition.
Tak jelas siapa yang beraksi, siapa yang sekadar bereaksi. Yang terang, Israel terus memperkuat diri dengan pengembangan segala senjata canggih, termasuk senjata biologi, kimia, hingga nuklir, meskipun itu harus melanggar hukum internasional. Selama ini Israel selalu bungkam dalam hal penyimpanan dan produksi senjata pemusnah massal ini. Padahal para pengamat senjata yakin, Israel setidaknya memiliki 100 senjata nuklir. Negeri Yahudi ini juga dinyatakan mampu mengirim senjata nuklirnya dengan pesawat F-15 dan F-16 buatan Amerika atau dengan Jericho II yang dikembangkan dengan bantuan Prancis tahun 1960-an.
Di Gurun Nejev, di Dimona, Israel membangun fasilitas senjata nuklir terbesarnya. Awalnya, Dimona hanya diakui sebagai pabrik tekstil. Tapi, dari beberapa foto satelit, kelihatanlah sosok laboratorium dan reaktor nuklir di kawasan ini. Namun Israel tetap menyangkalnya. Bahkan ketika mantan teknisi Dimona, Mordecahi Vanunu, membuat pengakuan soal Dimona kepada Sunday Times pada 1986, mereka tetap bungkam. Vanunu menyebut bahwa Israel menyimpan sekitar 100 kepala nuklir dan Dimona mampu memproduksi 40 kilogram plutonium untuk senjata setiap tahunnya. Karena pembocoran info ini, Vanunu, yang sudah lari ke Roma, kemudian diculik oleh agen Mossad dan diadili di Israel sebagai mata-mata dan pengkhianat. Dia diganjar 18 tahun penjara, termasuk 13 tahun dalam tahanan sendirian.
Ironis, tapi Tel Aviv tetap pede, terus berteriak tentang nuklir Irak, Iran, dan Libya. Bahkan ada kabar, Mossad sedang mengembangkan rencana serangan ke sejumlah bangunan yang diduga sebagai instalasi senjata nuklir Iran. Sebuah kemungkinan yang bisa saja terjadi. Toh, beberapa tahun lalu, Israel juga menjatuhkan serangan ke fasilitas yang dianggap sebagai tempat pengembangan senjata nuklir di Irak. Bahkan, menurut laporan di LA Times dua pekan lalu, Israel telah memodifikasi beberapa hulu ledak nuklirnya dengan rudal Harpoon buatan Amerika. Israel menyangkal, tak mengakui adanya senjata pemusnah massal miliknya.
Namun, beberapa tahun lalu, Perdana Menteri Israel dari Partai Buruh, Shimon Perez, pernah mengakui soal nuklir ini. Instalasi nuklir yang?menurut Perez?bukan untuk jadi seperti Hiroshima, tetapi untuk sebuah Oslo," ujarnya. Sekali lagi ironis, bukankah perdamaian tak akan langgeng jika dicapai dengan senjata?
Purwani Diyah Prabandari (Haaretz, Guardian, Fas.org)
Instalasi Senjata Strategis ISRAEL
Rafael dan Yodefat
Tempat perakitan senjata nuklir yang sekarang sedang berkonsentrasi dengan rudal balistik.
Elibun
Fasilitas penyimpanan senjata kedua terbesar di Israel di mana tersimpan pasokan granat artileri nuklir, ranjau nuklir, dan senjata nuklir taktis lain.
Dimona
Instalasi nuklir terbesar di Israel dengan kapasitas produksi 40 kg plutonium untuk senjata per tahun.
Tirosh
Fasilitas penyimpanan senjata nuklir dengan 75 bungker.
Soreq
Laboratorium senjata nasional tempat riset detonasi eksplosif nuklir dan diagnosis efek radiasinya.
The Bor
Pos komando bawah tanah Israel yang letaknya tepat di bawah Departemen Pertahanan di Tel Aviv. Di sinilah para pemimpin berkumpul kalau terjadi krisis.
Fasilitas Rudal
Nes Zionyaa
Fasilitas senjata kimia dan biologi terkemuka di Israel.
Hirbat Zekharyah
Tempat penyimpanan roket strategis dan 100 rudal Jericho I (daya jangkau 800 kilometer) dan Jericho II (daya jangkau 1.200 kilometer).
Be'er Zaakov
Fasilitas terbesar untuk perakitan rudal, termasuk rudal Jericho dan Arrow serta kendaraan peluncur rudal Shavit.
|