Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Lingkungan

Jelmaan Dewi dari Bali

Satu sore di Pura Bukitsari, Sangeh, Bali. Matahari tak lagi menyengat, tapi panas siang belum sepenuhnya sirna. Sepasang suami-istri baru keluar dari tempat persembahyangan. Sebelum meninggalkan lokasi pura, mereka menyempatkan diri menikmati suguhan es kelapa muda dan kacang rebus. Tanpa setahu keduanya, di balik tembok arah belakang, seekor kera abu-abu mengendap-endap, mencari peluang mencuri kudapan.

Ulah monyet yang sesekali nakal tak pernah membuat warga murka. Sebagian warga Desa Adat Sangeh, Abiansemal, Badung, Bali, bahkan percaya bahwa monyet bukan sembarang binatang, melainkan makhluk keramat. Ada kepercayaan tua, kera abu-abu berekor panjang (Macaca fascicularis) ini jelmaan dewi atau prajurit perempuan yang bersembunyi di hutan pala. Tak aneh, hingga saat ini, manusia dan kera bisa hidup berdampingan di sana. "Warga memberikan tempat bagi kera seperti layaknya teman," ujar Made Sumohon, pengelola Obyek Wisata Sangeh.

Warga Padangtegal, Ubud, Bali, punya keyakinan yang hampir sama. Mereka percaya, ada yang "mengendalikan" kera-kera di kawasan hutan Ubud. Kera-kera di sana pun dianggap sebagai sumber keharmonisan. Karena itu, setiap 210 hari, putaran waktu yang disebut "Tumpek Kandang", masyarakat adat Padangtegal menggelar upacara khusus untuk kera-kera itu.

Keyakinan berbau mistis itu klop dengan kepentingan bisnis dan ekonomi. Maklum, kehadiran ratusan monyet di hutan-hutan kota di Bali menjadi daya tarik wisata sendiri. Dengan kalkulasi sederhana, wisatawan sama dengan sumber pendapatan. "Sejak 1970-an, warga sudah memetik keuntungan," ujar Wayan Slamet, pengelola Mandala Wisata Wenara Wana, Ubud. Karena itu, demi kelestarian para monyet, pengelola hutan kota tak pelit mengeluarkan dana. Untuk makanan 200 kera di kawasan Ubud, misalnya, setiap hari pengelola mengeluarkan dana Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.

Di luar kepercayaan yang bersenyawa dengan kepentingan uang, jenis kera abu-abu berekor panjang yang dominan di Bali itu memang mudah beradaptasi. Berbeda dengan kera hitam, yang herbivora murni (hanya memakan buah dan dedaunan), makanan kera abu-abu berekor panjang lebih bervariasi. Demikian pula lingkungan tempat tinggalnya. Kera abu-abu tak selalu bergantung pada pohon-pohon tinggi. Mereka bisa hidup di atas pohon ataupun di permukaan tanah. Selama makanan mereka tercukupi, kera jenis ini tak malu "bergaul" dengan lingkungannya, termasuk manusia.

Jajang Jamaludin, Alit Kertaraharja, Made Mustika


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data