Banyak Monyet di Desaku Pasukan monyet menggasak kebun milik petani Sukoharjo. Hutan rusak, populasi monyet terus bertambah. |
Bola mata lelaki itu membelalak. Deretan giginya beradu keras. Rahang atas dan bawah terkatup rapat. Napasnya tersengal. Hawa segar lereng pegunungan seperti kontras dengan darah Pawiro yang mendidih. Lelaki 68 tahun itu memang terpaksa menahan geram. Maklum, kawanan monyet yang mesti jadi sasaran telah kabur ke belantara. Mereka meninggalkan kebun kacang tanah yang tercabik, dengan tunas yang tercerabut bersama bijinya.
Ratusan petani di lereng pegunungan Gajah Mungkur dan Gunung Gede, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah, akhir-akhir ini kembali resah. Mereka sering disatroni "saudara tua" yang tak pernah permisi, serbuan monyet berekor panjang. Pasukan abu-abu itu menggasak tanaman di ladang dan menjarah jemuran makanan di perkampungan. Tak tanggung-tanggung, empat desa?Kedungsono, Sanggang, Kamal, dan Gentan?sekaligus jadi bulan-bulanan.
Serbuan pasukan monyet terjadi setiap kemarau panjang selama lima tahun terakhir. Awalnya, kawanan "kunyuk" tak berani masuk desa, hanya ke tegalan yang bersebelahan dengan permukiman. Namun, dari tahun ke tahun, monyet-monyet semakin nakal. Pekan lalu, hampir saban hari mereka menyatroni permukiman. Mereka datang bergelombang, sebagian pagi hari sebelum matahari ke posisi 45 derajat, sebagian lagi menjelang matahari terbenam. "Mereka datang berkelompok, 20 sampai 30 ekor. Kalau bergabung, jumlahnya bisa ratusan," tutur Pawiro.
Di kampung, monyet-monyet itu mencari apa saja yang bisa dimakan dan diminum, dari buah-buahan segar hingga gaplek tengik yang dijemur di halaman. Mereka datang seperti mengendap-endap. Suaranya nyaris tak terdengar. "Tahu-tahu mereka sudah jumpalitan. Ada yang di pohon, ada yang di sumur," papar Ngadimin, warga lainnya.
Mengapa satwa liar itu gemar masuk desa? Aktivis lingkungan dari Conservation International Indonesia Programme, Sunarto, mengajukan teori umum tentang pemicu konflik satwa dengan manusia. Katanya, kodratnya, satwa liar lebih suka tinggal di habitat aslinya. Satwa liar keluar dari hutan karena alasan yang hampir sama: mencari makan demi kelangsungan hidup.
Kelangkaan makanan di hutan terjadi lantaran banyak sebab. Antara lain, menurut Sunarto, hutannya rusak parah, baik karena bencana alam maupun?ini yang paling sering?karena ulah manusia. Perambahan dan pembabatan hutan untuk lahan perkebunan dan pertanian bukan saja membuat luas hutan terus menyusut. Tanpa upaya rehabilitasi yang serius, hutan-hutan yang tersisa rusak parah.
Sebab lain, jika hutannya tetap utuh, kelangkaan makanan terjadi karena ledakan populasi satwa tertentu. Ini akibat rantai ekologi yang terputus. Punahnya atau berkurangnya karnivora besar, seperti harimau jawa dan macan tutul, menyebabkan pertumbuhan populasi ungulata (kijang, rusa, dan babi hutan) dan primata (lutung dan monyet berekor panjang) jadi tak terkendali. "Saat ular dan burung elang makin langka, populasi tikus meledak," Sunarto mencontohkan.
Pada kasus Sukoharjo, banyak sebab yang tampaknya terjadi secara sekaligus. Warga menuturkan, monyet turun gunung sejak hutan alam di kawasan Gunung Gede yang heterogen disulap menjadi hutan akasia yang homogen. "Dari pohon akasia, tidak ada yang bisa dimakan kera. Sebelum reboisasi, tidak pernah ada kera yang masuk," ujar Pawiro mengenang.
Berdy Steven, aktivis dari Gita Pertiwi?LSM setempat yang mengurusi lingkungan?menguatkan pendapat warga. Pergantian hutan heterogen menjadi hutan homogen di sana tanpa didahului kajian yang teliti. Tanaman akasia, menurut Berdy, bukan jenis tanaman yang bisa mencukupi makanan monyet.
Pemerintah setempat tidak membantah ihwal kerusakan hutan, tapi tetap saja menyalahkan warga. Juru bicara Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, T. Siswandi, misalnya, menuding penduduklah yang melakukan perusakan lingkungan, misalnya dengan penjarahan kayu. Tapi, "Kami juga tak punya angka pasti berapa luas hutan yang rusak. Pengawasan hutan dilakukan Perhutani," Siswandi berkilah.
Tanpa menyangkal kerusakan hutan, Cony Setiawan, pejabat Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo, menyinggung kemungkinan lain. Dia mengamati, populasi monyet di Sukoharjo terus bertambah. Kini jumlahnya diperkirakan lebih dari 1.500 ekor. "Kemarau panjang menguras cadangan makanan dan air di hutan. Makanan tak cukup. Kera-kera mencarinya ke permukiman," papar Cony.
Pengamatan TEMPO di sekitar Gunung Gajah Mungkur dan Gunung Gede merekam fakta bahwa hutan di sana banyak yang gundul. Tanah merah kecokelat-cokelatan mendominasi hamparan sejauh mata memandang. Sejak awal Oktober ini, hujan memang telah beberapa kali mengguyur. Tapi itu tak bisa serta-merta menyulap tanah merah menjadi hutan belukar.
Mengakali serangan kawanan monyet itu, warga pernah mengganti tanaman mereka dengan tanaman yang bukan kesukaan monyet, misalnya jahe. Tapi apa yang terjadi? Kawanan monyet justru menyerbu rumah penduduk. "Apa saja mereka makan. Nasi basi yang dijemur pun disikat," ujar Mardi, warga setempat.
Kelambanan pemerintah mengatasi amukan "pasukan Hanoman" itu menguras kesabaran warga. Mereka menempuh jalan pintas. Sebagai hama, menurut warga, monyet layak dibasmi. Satu dari sekian cara, warga memasang jerat kabel beraliran listrik. Penduduk lainnya mencoba menangkap hidup-hidup monyet untuk dijual atau dipelihara. Sialnya, tak jarang monyet yang tertangkap dibebaskan kawanan monyet lainnya. Warga juga mencoba menggunakan racun. Tapi, begitu ada satu-dua monyet yang mati, monyet lainnya seperti bisa mencium bahaya. Mereka bisa membedakan makanan yang diracun dengan yang tidak. "Kera itu kadang seperti manusia, punya akal," papar Pawiro.
Aktivis lingkungan berpendapat, jika serbuan monyet terjadi lantaran ledakan populasi, pengurangan jumlah monyet di suatu lokasi bisa dilakukan. Misalnya dengan memindahkan monyet itu tempat lain. Bahkan, kalau monyetnya bukan spesies langka, mematikan jumlah tertentu bisa ditoleransi. Hanya, menurut Sunarto, upaya ini harus didahului kajian yang teliti. Lagi pula kesejahteraan binatang harus selalu diperhatikan. "Jika tidak, ini hanya akan mengundang kecaman," kata Sunarto.
Sebaliknya, jika persoalannya ada pada kerusakan habitat monyet, upaya rehabilitasi hutan menjadi keharusan. "Hutan harus dikembalikan ke kondisi semula," ujar Sunarto. Pada titik ini, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mengklaim sudah punya rencana. Dengan asumsi bahwa monyet menyerang warga hanya untuk mencari makan, pemerintah akan menanam jenis pohon yang menghasilkan makanan monyet, misalnya jambu mete, pisang klutuk, belimbing, dan jambu biji. Masalahnya, jangankan rencana detail, sumber anggarannya pun masih belum jelas dari mana.
Jajang Jamaludin, Imron Rosyid (Sukoharjo)
|