Tentang Jiwa Muda yang Risau Seorang murid kelas 5 SD di Semarang bunuh diri. Apa yang sedang terjadi pada anak yang seharusnya sedang bermain-main ini? |
HARI belum terang benar. Baru pukul setengah enam pagi. Sisa-sisa kabut dini hari masih melayang di atas Desa Kramas tatkala peristiwa pahit itu terjadi,Selasa dua pekan silam.Bambang Surono, bocah berumur 11 tahun, nekat menjemput maut. Bunuh diri.Maka gegerlah penduduk Kramas—desa di Tembalang, kecamatan di Semarang.
"Saya sempat membangunkan dia dari tidur," kenang Juminem, ibuBambang, dengan mata berkaca-kaca. Si bocah sempat meminta disiapkan airpanas untuk mandi. Maklumlah, hawa pagi itu memang dingin betul. Juminembergegas menuju dapur, menyalakan kompor, dan merebus air.
Lima belas menit kemudian, air mendidih. Juminem kembali kekamar Bambang. Tapi kali ini kamar itu dikunci dari dalam. "Tak biasanya diamengunci pintu," pikir Juminem sembariberulang-ulang mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Suparno, suami Juminem, segeramendobrak pintu. Masya Allah, Bambang sudah tergantung lemas. Lehernyadijerat selendang yang diikatkan pada tiang di kamar.
Juminem dan Suparno segera melarikan Bambang ke Rumah SakitDr. Karyadi, Semarang. Apa daya, bocah itu tewas dalam perjalanan. MenurutSuparno, memang ada yang janggal dalam perilaku putranya tiga bulanterakhir. Bocah kelas 5 SDN Bulus 2, Tembalang, ini berkali-kali mengeluh seganke sekolah. Tak jarang dia membolos dan menghabiskan waktu di rumahpamannya. "Makanya, saya dan istri bergantian mengantar-jemput Bambang dari danke sekolah. Biar dia tidak bolos," kata Suparno, yang bekerja sebagaiburuh bangunan.
Menurut Suparno, Bambang dikenal sebagai anak baik yang takpernah merepotkan orang tuanya. Dia tak pernah terlibat tawuran ataupersoalan serius apa pun. Maka Suparno heran betul akan perilaku anaknya. "Kok,dia bisa senekat itu?" ujarnya. Purwadi, guru Bambang, juga memastikan muridnyaini tak punya masalah serius di kelas. "Perilakunya biasa saja, tidak adayang aneh," katanya.
Segalanya tampak serba wajar. Tapi tunggu dulu. Menurutkasak-kusuk teman-teman sekelas, Bambang sempat mengeluhkan perilaku beberapakawannya. Pernah dia meminta kepada gurunya agar boleh pindah ke kelas lain.Tapi permintaan ini tidak dipenuhi dan sang guru justru menuding Bambang takbisa menyesuaikan diri.
Nah, jika benar keterangan teman-teman Bambang, bukan takmungkin situasi sekolahlah yang menyulut perbuatan nekat tersebut: di sekolahmendapat marah, di rumah kedua orang tuanya juga tak mengorek perihalkegundahan tersebut. Walhasil, kaki Bambang seolah dibebani batu jika hendakke sekolah. Dia merasa seorang diri dalam situasi yang tak tertanggungkan.
Sejatinya, Bambang tidak sendirian. Angka depresi di kalanganremaja tercatat mengalami lonjakan di seantero jagat. Di Amerika Serikat, misalnya,14 remaja (usia 15-24 tahun) nekat bunuh diri pada setiap 100 ribu populasi.Ini berarti ada lonjakan tiga kali lipat dibandingkan dengan era1950-an. Amerika bahkan hampir membalap Jepang, yang memiliki angkaremaja bunuh diri 15 per 100 ribu populasi. Sebagian besar penyebab bunuhdiri remaja ini, menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), adalahkesulitan bergaul, tekanan ekonomi, pengalaman dianiaya atau dilecehkansecara seksual, dan tekanan yang luar biasa di sekolah.
Bagaimana dengan Indonesia? Sayang, statistik yang terang-benderangtidak tersedia. Toh, sinyal adanya problem serius bunuh diri di kalangan remajakita cukup kuat terpancar. Jane, seorang gadis berusia 20 tahun yang tinggal diJakarta Barat, misalnya, berkali-kali menjajal bunuh diri sejak berumur 9 tahun.Gadis berambut panjang ini mengeluh tak sanggup menghadapi impitanpelajaran sekolah yang tak cocok di hatinya (lihatBila Mati Adalah Pilihan).
Pada akhir Agustus lalu, media massa terus-menerus mengabarkankasus Heryanto, 12 tahun. Murid kelas 6 SD di Garut, Jawa Barat, ini mencobamenggantung diri hanya karena tak punya duit untuk membayar iuran kegiatanekstrakurikuler sebesar Rp 2.500. Kini Heryanto masih dirawat di RumahSakit Hasan Sadikin, Bandung. Kondisinya dilaporkan terus membaik. Diasudah terbangun dari koma, bisa sedikit berbicara, kadang tersenyum. Namunjalan menuju normal masih jauh, mengingat sebagian jaringan otaknya telanjur rusak.
Sepintas, sebab-musabab langkah nekat Bambang Surono, Jane,dan Heryanto terhitung sepele. Tapi sejatinya tidak demikian. Perkara yangdibilang sepele bisa jadi amat serius bagi remaja yang sedang tumbuh. Hormontubuh mereka sedang gonjang-ganjing sehingga mereka gampang tersodok kepuncak kerisauan.
Dalam ilmu perilaku, bunuh diri, menurut Dr. Irmansyah dari BagianPsikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menunjukkan sudahtidak adanya pengharapan. Biarpun problem yang dihadapi begitu dahsyat, orangtak bakal bunuh diri jika masih punya harapan. Begitu tali harap putus, nyawatak lagi berharga.
Bambang, Jane, dan Heryanto agaknya menganggap jalan sudah buntu.Orang tua dan guru tak bisa menolong. Teman-teman sebaya, ironisnya, jugacenderung meledek kawan yang sedang kesusahan. "Waktu akudimarahin guru, ada teman yang malahnyiramin air ke wajahku," kata Jane, "Keki enggak, sih?"
Padahal, Irmansyah melanjutkan, anak-anak pada dasarnya takmenuntut terlalu banyak. "Mereka hanya butuh teman dan pendengar yang baik,"katanya kepada Faisal Assegaf dari Tempo NewsRoom. Pendengar yang menawarkan empati—bukan yangmenghardik, memarahi, dan memaksakan keinginan mereka kepada si anak.
Steve Hein, warga Amerika pendiri organisasi Emotional Intelligence(EQI), menceritakan pengalamannya selama 10 tahun mendampingi remajapenderita depresi. Anak-anak yang mudah mengalami depresi lazimnya anak yangamat pintar, perasa, dan berbakat hebat di bidang tertentu.Sayang, sering kali keinginan dan perasaan mereka tak disambutoleh orang tua, teman, dan guru di sekolah. Bahkan mereka seringdiberi label bocah aneh.
Akibatnya, "Mereka merasaterabaikan," kata Hein kepada TEMPO. Perasaanini menjadi beban yang luar biasa berat dan terus menggunungdi dalam benak. Suatu ketika, saat ada sentilan problem"sepele", gunung pun meledak. Dan bunuhdiri menjadi pilihan.
Itulah sebabnya, kata Irmansyah, kita mesti peka terhadap irama remaja.Bila ada perubahan perilaku, misalnya mendadak berubah menjadipemurung, pendiam, ogah-ogahan, dan suka bolos, orang tua wajib menggali apayang sedang terjadi secara bijaksana. "Berdialog dari hati ke hati," kata Irmansyah.
Jika perubahan berlangsung lebih dari tiga pekan, apalagi berbulan-bulan,ada baiknya orang tua mencari bantuan profesional. Misalnya mendatangipsikiater. Siapa tahu, depresi pada anak tersebut adalah perwujudan daripenyakit fisik atau gangguan mental. Bila ini terjadi, sumber gangguan harusdiatasi dulu. Boleh jadi juga penyebab utamanya adalah buruknya mutu relasi orangtua dan anak. Andai ini yang terjadi, jangan buang waktu. Segeralah berbenahdiri agar jiwa-jiwa muda ini tak sampai kehilangan harapan.
Mardiyah Chamim, Hudalla (TNR, Semarang)
Mereka yang Rentan Depresi
Berikut ini karakter remaja yang gampang dilanda depresi yang berujungpada bunuh diri. Hasil pengamatan Steve Hein ini bisa dilihat disitus www.eqi.org.
- Sangat pintar. Mereka mempertanyakan segala sesuatu dan sering tak
puas dengan jawaban sekadarnya.
- Sangat perasa, peduli dengan penderitaan orang lain.
- Tak mendapat perhatian, dukungan, dan pengertian dari orang tuanya.
- Merasa terkontrol. Mereka ingin bebas mengekspresikan diri tapi orang tua tak cukup memberikan ruang.
- Gampang terluka oleh kekeliruan, kemunafikan, dan ketidakadilan yang dilakukan orang lain.
- Belajar untuk berbohong menutupi perasaan sesungguhnya. Mereka takut dan tak punya seorang pun yang bisa diajak berbincang dengan jujur.
- Berulang-ulang diremehkan oleh lingkungan.
- Gemar berpikir. Sering terjaga di malam hari memikirkan banyak hal.
|