Dana Diperlukan untuk Pengentasan Kemiskinan, Bukan Irak |
Jeffrey D. Sachs
Guru besar dan Direktur Earth Institute di Universitas Columbia, Amerika Serikat
Amerika Serikat meminta komunitas internasional menjanjikan miliaran dolar bantuan bagi pembangunan Irak pada pertemuan donor di Madrid, Spanyol, bulan ini. Jawaban dunia seharusnya tegas, "Tidak!" Pembangunan jangka panjang Irak tak membutuhkan bantuan dana asing. Yang dibutuhkan adalah kesepakatan politik dan ini hanya dapat dicapai jika pasukan pendudukan AS ditarik. Miliaran dolar yang diminta Amerika sepatutnya diarahkan untuk mengatasi kegawatan sebenarnya di dunia seperti upaya memerangi AIDS dan kelaparan.
Pemerintahan Bush menggempur Irak mungkin karena bermaksud menjadikannya pangkalan baru untuk melancarkan operasi militer di kawasan Teluk. Setelah serangan teroris pada 11 Maret 2001, pemerintah AS berkehendak menarik pasukannya di Arab Saudi dan mungkin memilih Irak sebagai pangkalan baru untuk kepentingan keamanan jangka panjang. Inilah yang saya yakini menjadi penyebab keberatan AS untuk secepatnya mengalihkan kendali kepada rakyat Irak. Pemerintahan Bagdad yang berdaulat kemungkinan besar akan meminta AS menarik pasukannya dari Irak.
Selama AS menduduki Irak, kecil sekali kemungkinan terjadi stabilitas politik. Tanpa stabilitas politik, pemulihan ekonomi Irak sulit terjadi. AS sedang dipandang sebagai penjajah oleh kebanyakan orang Irak karena yang menjadi sasaran serangan bukan hanya para pendukung setia Saddam Hussein, melainkan juga berbagai kelompok nasionalis Irak dan gerilyawan Arab dari negara tetangga.
Serangan-serangan terhadap pendudukan AS menewaskan banyak korban dan menghancurkan perekonomian. Serbuan ini berhasil menghambat aliran ekspor minyak dalam jumlah besar. Jaringan pipa minyak di utara, ke arah Turki, mengalami pengeboman berkali-kali dan hanya berfungsi secara sporadis. Ladang minyak di selatan tak memiliki pasokan listrik yang memadai untuk beroperasi pada kapasitas maksimum karena jala-jala listrik kerap diserang. Saat ini Irak hanya memompa 1 juta sampai 2 juta barel minyak sehari, padahal pada waktu damai dulu mampu mengalirkan 2 juta hingga 3 juta barel sehari.
Anjloknya pendapatan dari minyaklah, bukan kurangnya bantuan luar negeri, yang menyebabkan krisis keuangan Irak. Setiap pengurangan 1 juta barel sehari berarti kehilangan pendapatan sekitar US$ 30 juta setiap hari pada harga minyak dunia US$ 30 per barel. Jadi, jika Irak meningkatkan ekspor minyaknya 1 juta barel sehari?yang dapat segera dilakukan jika serangan terhadap infrastruktur berhenti?pendapatan tambahan US$ 10 miliar setahun dapat digunakan untuk membiayai pembangunannya.
Produksi minyak Irak mungkin dapat mencapai 5 juta barel sehari dalam tempo tiga tahun. Ini adalah tambahan ekstra 3 juta hingga 4 juta barel per hari di atas produksi hari ini, atau tambahan penghasilan US$ 30 miliar sampai US$ 40 miliar setahun?jumlah yang memadai tidak hanya untuk memulihkan pasokan kebutuhan pokok, tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi dalam waktu menengah. Pada tingkat produksi itu, Irak akan menjadi negara berkesejahteraan menengah dengan pendapatan per kapita beberapa ribu dolar per orangnya, termasuk dari produksi nonminyak. Singkat kata, untuk membangun kembali Irak, tak dibutuhkan bantuan asing.
Biaya terbesar di Irak bukanlah untuk pembangunan, melainkan untuk ongkos militer AS. AS membayar US$ 51 miliar setahun untuk mengongkosi 140 ribu tentara di Irak, atau biaya gila-gilaan sekitar US$ 360 ribu per serdadu setiap tahun. AS dapat menghemat puluhan miliar dolar AS setahun dengan menarik pasukannya dari Irak. Jika AS memberikan sebagian saja dari dana yang dihemat pada 2004 kepada Irak, akan tersedia cukup banyak uang untuk membiayai pemerintahan Irak dan memulihkan produksi minyaknya.
Selain membuang nyawa dan uang untuk perang Irak, AS telah merugikan dunia. Dengan memfokuskan perhatian pada krisis ekonomi yang bukan sebenarnya, kepedulian masyarakat pada krisis sebenarnya teralihkan. Dunia akan mendukung dan berterima kasih jika pada pertemuan donor tersebut AS meminta perhatian untuk mengatasi masalah serius seperti memerangi AIDS dan kelaparan.
Coba simak perang terhadap AIDS, TBC, dan malaria. Sekitar 6 juta manusia miskin akan meninggal akibat penyakit yang sebenarnya mudah disembuhkan ini pada 2004. Pada 2001, masyarakat internasional mendirikan Global Fund untuk memberantas AIDS, TBC, dan malaria, tapi pada anggaran 2004 pemerintah Bush hanya mengalokasikan US$ 200 juta pada kegiatan ini dan sebanyak US$ 71 miliar untuk Irak. Untuk setiap satu dolar yang disumbangkan AS kepada Global Fund, pemerintah Bush mengeluarkan US$ 350 ke Irak. Ini adalah prioritas yang menyedihkan. Yang lebih buruk, AS meminta negara donor lain berbuat serupa.
Sudah tiba waktunya bagi komunitas global untuk menegur keras Amerika Serikat. Nyatakan bahwa tak ada negara yang akan menyumbang pendudukan AS di Irak. AS harus secara tegas mengatakan akan segera menarik seluruh pasukannya dari Irak. Selain itu, AS harus berhenti membuang uangnya untuk membiayai kegiatan militer dan menyalurkan dana itu untuk mengentaskan kemiskinan di dunia. Dan dalam upaya penggalangan dana ini, negara lain dapat dan seharusnya berperan serta.
- Hak Cipta: Project Syndicate, 2003
|