|
Maulwi Saelan, 77 tahun, masih menyimpan kenangan itu dengan penuh kasih. Suatu hari pada tahun 1964, Presiden Sukarno masuk ke mobil kepresidenan dengan tergesa. Hari itu sang Presiden hendak berpidato dalam sebuah acara kesenian yang digelar di Gedung Olahraga Senayan, Jakarta. Namun, karena saat itu jadwalnya sangat padat, Bung Karno tak sempat mempersiapkan materi pidatonya. Dalam perjalanan, sambil terkesan panik, ia bertanya kepada Saelan, "Menurutmu kira-kira aku harus ngomong apa di acara tersebut." Saelan, yang waktu itu ajudan Presiden, menjawab sebisanya, "Ya, sebaiknya Bapak bicara seputar acara itu saja."
Awalnya Saelan mengira Bung Karno benar-benar panik. Tapi rupanya Presiden cuma berpura-pura bingung untuk memancing ide dari orang sekitarnya. Terbukti, tanpa ide Saelan pun, Bung Karno berpidato begitu lancar dan memikat. Kata-katanya meluncur deras, terstruktur, bergelora, dan diselingi lelucon-lelucon yang segar.
Menurut Saelan, sebelum berpidato, Bung Karno memang kerap bertanya kepada siapa saja, termasuk rakyat jelata. Misalnya, kalau akan berpidato di Makassar, Bung Karno akan bertanya dulu ke sejumlah pejabat dan orang di sana sebagai masukannya. Ia kemudian mengolahnya. Kadang kala ia juga membuat coretan-coretan sebagai catatan kecil. Itu pun bila dianggapnya perlu. "Bung Karno lebih banyak berpidato tanpa teks," ujar bekas Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa itu.
Bung Karno biasanya melakukan persiapan khusus jika akan menyampaikan pidato kenegaraan seperti pidato 17 Agustus. Sebelum menulis pidato, Presiden RI pertama ini biasanya menyepi ke Istana Tampak Siring, Bali, atau Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat. Selain itu, Bung Karno juga membaca buku, majalah, koran, plus meminta sejumlah laporan dari para menteri dan pejabat negara lainnya. Kemudian ia baru menyusun pidatonya. "Untuk pengetikan, Bung Karno dibantu stafnya dari Sekretariat Negara," Saelan menjelaskan.
Hal senada diungkapkan Guntur Sukarnoputra. Menurut putra sulung Bung Karno itu, sejak dua minggu sebelum 17 Agustus, bapaknya mengumpulkan saran dari semua pihak. Dari partai politik, angkatan bersenjata, tokoh kemasyarakatan, menteri, pemuda, buruh, dan petani. Sang Bapak juga mempersiapkan bahan yang diambil dari majalah, berita, dan laporan dari luar negeri. Tentunya dipilih yang penting-penting. Semua itu dipelajari dan dibacanya satu per satu menjelang tidur atau pagi-pagi sambil duduk minum kopi. "Poin yang dianggap penting ditandainya dengan pensil merah atau biru," kata Guntur dalam buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku.
Setelah itu, Bung Karno membuat pokok-pokok masalah yang akan dikemukakan dalam pidato kenegaraan. Baru kemudian ia memilih judul yang tepat. Misalnya, untuk pidato 17 Agustus 1959, Bung Karno memilih judul "Re-discovery of our Revolution" (Penemuan Kembali Revolusi Kita), pidato yang dikenal juga sebagai Manifesto Politik (Manipol). Pilihan judul ini diambil karena sebelumnya, pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mendekritkan berlakunya kembali UUD 1945 sebagai dasar negara.
Jika semua bahan itu telah dipelajarinya, barulah Bung Karno mulai menulis teks pidato berdasarkan pada poin-poin permasalahan yang telah ditentukan tadi. Dalam mempersiapkan pidato itu, Bung Karno selalu dibantu sebuah tim yang siap sedia 24 jam. Mereka terdiri dari seorang liaison officer yang membawahkan 2 sampai 3 pengetik cepat dari Sekretariat Negara. "Bapak biasanya menulis teks pidato itu di meja bundar besar di ruang tengah Istana Merdeka," tulis Guntur. Alat tulis yang biasa dipakai adalah pulpen Parker model terbaru. Biasanya Bung Karno akan memakai tinta biru muda atau biru tua merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio.
Menurut Guntur, ketika pidato ditulis, tak seorang pun boleh mengganggu sang Bapak. Tamu rutin yang biasanya datang akan ditolak, kecuali tamu penting dengan kepentingan mendesak.
Setelah tulisan tangan selesai, naskah langsung diketik. Ketikan itu kemudian diperiksa dan diteliti kembali oleh Bung Karno—dikoreksi, ditambah, dan dikurangi, bila dianggap perlu. Hasil koreksian itu kemudian diketik sekali lagi di atas kertas kepresidenan. "Naskah itulah yang akan menjadi naskah asli teks pidato untuk dibaca dalam pidato kenegaraan 17 Agustus," kata Guntur.
Yang jelas, meski naskah selesai dibuat, pada saat pidato Bung Karno kerap menambah atau mengu-rangi beberapa hal dari naskah itu. Ilham yang tiba-tiba muncul pada saat berpidato biasanya langsung diucapkan meskipun itu tak ada dalam naskah. Begitu juga hal-hal yang tiba-tiba dirasa tak perlu diucapkan, Bung Karno tak mengucapkannya. "Jadi, antara teks asli pidato dan teks yang dibuat berdasarkan hasil notulensi atau rekaman biasanya terdapat perbedaan-perbedaan," tulis Guntur.
Nurdin Kalim
|