Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Gaya Hidup

Lapar Cantik Segala Usia

Bisnis kecantikan tak kenal resesi. Terutama karena disokong kegilaan orang memburu segala unsur yang bercitra ayu.

USIANYA empat belas tahun. Baru empat belas tahun. Dengan tinggi 162 sentimeter dan berat 60 kilogram, postur gadis remaja itu—kita sebut saja Bulan—cukup ideal. Masa akil-baliknya belum lagi usai: dada Bulan belum penuh benar, tungkainya masih akan memanjang. Tapi Bulan tak sabar menanti proses alam untuk mematangkan tubuhnya. Ditemani ibunya, dia berkunjung ke satu dokter ahli sedot lemak. Nona kecil itu meminta dokter menggerus lemak yang bercokol di pinggangnya. Sang dokter terperangah, lalu buru-buru menasihati agar si nona membatalkan niatnya, mengingat usianya masih begitu belia.

Bulan, yang baru mulai menapaki dunia permodelan, kontan merengek: "Di depan kamera saya kelihatan gemuk, Dokter." Dan, masya Allah! Ibunya ikut-ikutan membujuk, "Tolonglah, Dokter. Kalau begini, kontrak Bulan bisa batal." Dan TEMPO menyaksikan dari dekat percakapan mereka di sebuah klinik kecantikan di Jakarta Selatan. Kecantikan bukan cuma membuyarkan akal sehat seorang ibu. Kecantikan juga laksana ekstasi: mudah membuat orang bermimpi. Tengoklah suasana pameran kecantikan di Jakarta Convention Center dua pekan silam.

Bertajuk "Be She 2003, Beautiful, Smart and Healthy Women", inilah pameran bisnis kecantikan terbesar yang pernah digelar di Indonesia.

Pengunjungnya belasan ribu, kebanyakan perempuan. Mereka asyik mencereweti, memilih, memborong aneka produk dan jasa perawatan dari ujung rambut sampai jempol kaki. Mulai dari krim kulit wajah, kawat gigi berhias berlian, mandi susu, aromaterapi, hingga aneka pil diet.

"Membaiknya kondisi ekonomi seseorang akan diiringi dengan makin kuatnya kebutuhan untuk tampil indah," kata Lourda Hutagalung Budi Dharma, pengusaha dan pemilik jaringan Gaya Spa. Apalagi, Lourda melanjutkan, dunia kerja sering membuka peluang lebih lebar bagi mereka yang sedap dipandang secara fisik.

Alhasil, bagi sebagian kalangan, kebutuhan untuk tampil ayu sama kadarnya dengan rasa lapar. Urusan gaya hidup pun "wajib" dipenuhi dengan aneka cara. "Cantik itu perlu dan sebuah keharusan," kata Aldila Apson, 29 tahun, sekretaris eksekutif di sebuah perusahaan di Jakarta. Untuk itu, dia rela mengeluarkan Rp 5 juta untuk merampingkan badan—padahal bodi Aldila sudah menarik: tinggi 168 sentimeter, bobot 60 kilogram. Dia juga menyisihkan Rp 1,5 juta per bulan untuk pos perawatan kecantikan. "Tampil menarik adalah persembahan kepada orang-orang dekat, terutama suami," kata Aldila yang berkulit langsat.

Memikat pasangan merupakan salah satu tujuan merawat kecantikan, seperti yang diungkapkan Nancy Etcoff, psikolog yang menulis buku Survival of the Prettiest. Tampil indah adalah aset perempuan yang terpenting dalam meraih posisi sosial, duit, juga untuk menggaet dan mempertahankan pasangan, tulis Etcoff.

Dalam perkembangan selanjutnya, media dan industri hiburan yang masif mendiktekan citra seragam tentang keayuan. Seperti kor yang kompak, pendiktean ini disambut oleh naluri mimikri atau keinginan untuk meniru mereka yang dicitrakan. Di Korea, pada beberapa dekade lalu, cantik identik dengan mata sipit, wajah bundar dengan pipi merona. Kini perempuan Korea dipandang ayu apabila berwajah tirus dengan mata yang besar.

Pergeseran serupa terjadi di seantero dunia. Orang dikomando untuk mengikuti pakem cantik yang identik dengan kulit putih, tinggi, rambut lurus, dan berbadan ramping cenderung kurus. "Mimikri inilah tujuan utama yang dibidik industri kecantikan," tutur Etcoff.

Disokong oleh naluri mimikri, industri kecantikan pun menjadi raksasa. Segala jenis produk dan jasa kecantikan disambut gegap-gempita. Warga Amerika, misalnya, membelanjakan jauh lebih banyak duit untuk pos kecantikan ketimbang untuk pos pendidikan.

Uang yang berputar di jagat bisnis global ini, menurut mingguan The Economist, sedikitnya mencapai US$ 160 miliar (sekitar Rp 1.360 triliun) per tahun. Gunung kue bisnis ini meliputi kosmetik, perawatan kulit dan rambut, wewangian, aromaterapi, klub kesehatan, pil pelangsing, bedah plastik, suntik Botox (racun bakteri Botulinum sp penghilang kerutan wajah), juga sedot lemak (liposuction). Bisnis global ini tumbuh 7 persen setiap tahun atau melampaui dua kali lipat pertumbuhan pendapatan kotor (GDP) dunia secara menyeluruh.

Data komplet tentang bisnis kecantikan di Indonesia, seperti biasa, tidak tersedia. Tapi, bisa dipastikan ini bisnis triliunan, mengingat ada ribuan pemain yang berkecimpung di bidang ini.

Gaya Spa, yang membuka 20 cabang termasuk di Malaysia dan Singapura, misalnya, tahun lalu mencatat omzet Rp 30 miliar. Ini belum termasuk penjualan produk Spa Essentia yang sampai Rp 6 miliar per tahun. Lalu, ada Peter F. Saerang, dengan 12 cabang salon perawatan rambut, yang membukukan omzet Rp 36 miliar per tahun. Sementara itu, jaringan Klinik Miracle di Surabaya punya pelanggan sampai 11 ribu orang per tahun dengan omzet Rp 48 miliar tiap tahun.

Meraksasanya bisnis tadi tak luput dari kegilaan orang memburu kecantikan, bahkan dengan mengabaikan akal sehat. Kisah Bulan di atas hanya salah satu contoh. Sedot lemak memang jalan pintas yang menawan, biarpun tarifnya mencapai Rp 8juta-12 juta sekali sedot. Maklumlah, hanya dalam tempo satu jam, lemak yang berlipat-lipat bisa dikeruk tanpa perlu diet dan olahraga. Tapi, "ketok bodi" ini wajib dilakukan oleh dokter ahli jika tak ingin menuai dampak mengerikan. Umpama, kanula (tongkat kecil bertangkai panjang untuk mengeruk lapisan lemak) melukai organ-organ internal dan memicu perdarahan yang berisiko mematikan. Atau, lapisan lemak yang dipahat tidak merata sehingga kulit si pasien justru bergelombang seperti kain gorden.

Jalan instan lain adalah dengan suntik silikon cair. Metode ini cukup populer bagi mereka yang mendambakan cantik tetapi kantong kurang tebal. Mereka mendatangi salon-salon yang menawarkan permak wajah dengan suntikan silikon cair. Padahal, silikon cair sebenarnya dibuat untuk keperluan industri. Dua tahun lalu, RSUD Dr. Mawardi Solo menangani 175 kasus korban silikon cair. "Mereka kebanyakan sudah dalam kondisi buruk. Mukanya rusak tidak keruan," kata Indah Julianto dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo (TEMPO, 3 April 2001).

Menyimak dampak menyedihkan tersebut, Venna Melinda, 31 tahun, yakin tidak ada jalan pintas menuju kecantikan. "Harus dengan kerja keras," katanya. Dua tahun lalu, usai melahirkan anak pertama, badan mantan None Jakarta ini melar sampai 75 kilogram atau tambah 26 kg dari bobot semula yang 49 kg. "Kulit saya rusak lantaran badan yang segede gajah," kata Venna. Setahun berikutnya adalah perjuangan. Senam kebugaran, diet, les tari, pijat refleksi, akupunktur, lulur, aromaterapi, perawatan rambut, digeber habis-habisan.

Kini tubuh Venna kembali langsing. Tapi dia tetap disiplin berolahraga dan berdiet. "Saya mematok 50 persen penghasilan untuk kecantikan," katanya tanpa menyebut angka. Tapi yakinlah jumlahnya besar, mengingat Venna cukup laris sebagai pembawa acara, bintang iklan, dan artis sinetron.

Kisah memburu tubuh elok juga muncul dari Dian Nitami. Ibu satu anak ini sempat minder lantaran tubuhnya yang menggembung mencapai 70 kg usai melahirkan. Dian jarang mendatangi pesta undangan lantaran gaun-gaun seksinya tak lagi muat di badan.

Cerita minder kini sudah usai. Dian sukses menjalani program pelangsingan di Marie France Bodyline, di Jakarta. Bobotnya susut menjadi 58 kg. Dian pun kembali percaya diri mengenakan gaun malam berpotongan seksi. Dia bahkan terpilih sebagai juru bicara pertama Marie France dari Indonesia. Katanya, "Seneng banget kembali pede."

Mardiyah Chamim, Ucok Ritonga, Ramidi, Ecep S. Yasa (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data