Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Film

Catatan Harian yang Baru

The Man without a Past adalah film tentang perjalanan orang yang kehilangan memori. Amnesia disorot dari sudut non-konvensional.


The Man without a Past (2003)

Sutradara: Aki Kaurismäki

Penulis skrip: Aki Kaurismäki

Pemain: Markku Peltola, Kati Outinen


Ingatan adalah segalanya: keutuhan kita, nalar kita, perasaan, bahkan tindakan kita. Pendek kata, demikian menurut sutradara Spanyol Luis Buñuel. Tanpa itu, kita bukan apa-apa. Sedangkan penyair, novelis, sekaligus penulis drama Irlandia, Oscar Wilde, membayangkannya seperti catatan harian yang senantiasa kita bawa ke mana-mana. Tapi, apa yang terjadi kalau kita kehilangan buku harian itu? Benarkah hidup akan kehilangan makna? Film The Man without a Past karya sutradara Finlandia, Aki Kaurismäki, menyodorkan jawaban tegas: tidak.

Film yang telah diputar di Jakarta International Film Festival ini dibuka dengan seorang lelaki (Markku Peltola, yang disebut sebagai "M") di sebuah stasiun kereta. Sebelum kita sempat berkenalan dengannya, ia dirampok dan dipukuli oleh tiga bajingan bengis sehingga ia kehilangan ingatannya. Ia menelusuri jalan-jalan Kota Helsinki, tanpa nama, tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan tanpa masa lalu. Dalam cerita film, amnesia memang biasa dipakai sebagai elemen misteri atau suspense. Tapi, dalam The Man without a Past, Kaurismäki menggunakannya sebagai sebuah awalan baru, sebuah alasan untuk lahir kembali.

Sang protagonis melanglang buana dan akhirnya menetap di daerah kumuh dan hidup di antara peminum dan para pemukim yang miskin. M mencoba mencari kerja, tapi tak kunjung diterima karena ia tak bisa mengingat namanya sendiri. Ia juga meminta bantuan dari Salvation Army dan jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Irma (Kati Outinen), yang bekerja di sana. Namun, semua ini tak berlangsung lama karena bekas istri M datang untuk membawanya pulang. Perempuan itu mencoba mengembalikan ingatannya dengan menceritakan masa lalunya. Ia bercerita bahwa dulu M merupakan cinta pertamanya. Ia juga mengatakan bahwa M suka berjudi, dan sekarang ia tinggal dengan lelaki lain. Sekonyong-konyong M mengajak pacar baru istrinya keluar rumah untuk berduel. Tapi ia mengurungkan niatnya. Untuk apa? Toh ia tetap tak mampu membersitkan satu memori pun dari masa lalunya.

Adegan-adegan statis dipadu dengan tokoh-tokoh yang pasif. Kamera sinematografer Timo Salminen nyaris tak bergerak, seakan-akan tak peduli dengan komposisi atau karakter-karakter yang sedang direkamnya. Tapi, justru dengan shot-shot statis ini, Kaurismäki mampu menangkap momen-momen penuh kekosongan dan keterasingan para tokohnya. Namun, walaupun ia membangun suasana depresif dalam filmnya (gersang, kumuh, dan tak terurus), semua adegan digambarkan dengan warna-warna cerah. Hal serupa ditampilkan pada karakter-karakternya. Ekspresi para tokoh selalu tampak murung dan tampil tanpa senyum. Tapi Kaurismäki tak pernah memperlihatkan mereka menderita.

Cerita dalam film Kaurismäki berangkat dari realitas, tapi ia memiliki gaya penyutradaraan yang selalu menarik cerita keluar dari realitas. Contohnya dalam hal akting. Gaya akting dalam film-film sutradara ini sering terasa canggung dan aneh. Dialognya terasa kaku, lamban, dan formal. Bahkan isi omongan para tokohnya sering tak bersambutan. Ketika M bertanya apakah dia boleh merokok, jawabannya adalah, "Apakah pohon berkabung atas daunnya yang runtuh?" Ketika M bertanya tentang adanya ruang untuk disewa, jawaban yang ia terima adalah, "Apakah burung camar memiliki sayap? Apakah serigala mengaungkan kesepian di hutan pada malam hari?" Dialog macam ini sungguh menggelikan, apalagi karena diucapkan dengan santai dan tanpa pretensi.

Interaksi real antar-karakter memang jarang terjadi dalam The Man without a Past. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, berbicara dengan bahasa yang tak komunikatif, dan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Bahkan mereka lebih sering melamun dan menunggu daripada berbicara. Kaurismäki lebih tertarik pada karakter dibanding pada plot. Kalaupun seorang tokoh punya tujuan, yang ditampilkan bukan ujungnya, melainkan perjalanannya. Seperti M, film The Man without a Past cukup berjalan, tanpa harus tahu mau ke mana. Masa lalu tak penting lagi karena M telah lahir kembali dengan keutuhan, nalar, perasaan, tindakan, dan catatan harian yang baru. Dari situ, ia akan membuat hidup punya makna, minimal bagi dirinya.

Rayya Makarim


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data