Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Menyiasati Defisit 2003

Menteri Keuangan Boediono berkejaran dengan waktu untuk menambal defisit anggaran. Target lelang obligasi negara sebesar Rp 11,7 triliun belum tentu terjangkau.

Defisit anggaran 2003 menyeringai, dan Menteri Keuangan Boediono harus menyiasatinya dengan lihai. Pasalnya, target penerbitan surat utang negara Rp 11,7 triliun akan sulit dicapai. Padahal, dalam rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR akhir Agustus lalu, Boediono menjelaskan bahwa penjualan surat utang negara (SUN) jelas dibutuhkan untuk menutup defisit anggaran, yang diprediksi naik menjadi Rp 35,1 triliun dari asumsi awal sekitar Rp 34,4 triliun.

Semula pemerintah mematok target penjualan SUN sebesar Rp 7,7 triliun, tapi jumlah itu ditingkatkan menjadi 11,7 triliun. Langkah tersebut dipilih Boediono untuk mengantisipasi naiknya defisit anggaran dan turunnya penerimaan negara dari privatisasi. Dari target Rp 8 triliun, Kementerian Negara BUMN diperkirakan cuma mampu menyetor Rp 6,2 triliun. Awalnya, rencana Menteri Boediono berjalan mulus. Pada April silam, SUN terjual Rp 2,7 triliun, dan pada September lalu dilepas lagi Rp 3,3 triliun. Jadi obligasi yang telah dilelang mencapai Rp 6 triliun.

Semestinya, pemerintah sudah mengantongi Rp 3,99 triliun tersebut. Malang tak dapat ditolak, Deutsche Bank gagal membayar obligasi (T bond) senilai Rp 683 miliar yang dimenanginya. Karena insiden tersebut, pemerintah melarang bank asal Jerman itu ikut lelang obligasi selama tiga kali berturut-turut. Menurut seorang pejabat Departemen Keuangan, lelang obligasi September lalu lebih sepi dibanding lelang akhir 2002 atau April lalu.

Hindarmojo Hinuri, Direktur Utama Bursa Efek Surabaya, berpendapat menurunnya minat investor disebabkan beberapa hal. Yang pertama, pada saat lelang SUN, dalam waktu berdekatan Indosat juga menawarkan obligasinya dengan tenor 5 tahun dan bunga (yield) 12,5 persen. Obligasi Indosat senilai Rp 2,5 triliun itu langsung ludes diborong investor. Bandingkan dengan SUN, yang bertenor 9 tahun dengan yield 11,6 persen. Selain bunganya lebih rendah, tenor SUN yang 9 tahun dianggap terlalu lama bagi investor.

Senada dengan Hindarmojo, Budi Hikmat, ekonom Bahana Securities, menilai berkurangnya minat investor dalam lelang obligasi pemerintah tak lain karena waktunya tidak tepat. Selain itu, lonjakan inflasi Agustus lalu juga membuat investor berhati-hati. Karena itu, pemerintah harus berusaha lebih keras agar lelang obligasi yang rencananya dilakukan akhir Oktober ini benar-benar diminati investor. Apalagi penalti terhadap Deutsche Bank jelas menambah kekhawatiran investor. Terlebih lagi, bank tersebut dikenal sebagai penggerak pasar obligasi yang paling aktif.

Toh, Budi menilai sikap tegas pemerintah itu sudah tepat. Bila tidak, kepercayan pasar kepada pemerintah justru anjlok. Pertanyaannya, mampukah pemerintah melelang SUN Rp 5,7 triliun tanpa partisipasi Deutsche Bank. Fuad Rahmany, Kepala Pusat Manajemen dan Obligasi Negara (PMON), menyatakan keyakinannya bahwa SUN bakal terjual dalam dua bulan ini. "Walau tak bisa ikut lelang langsung, Deutsche Bank bisa memakai pihak ketiga untuk beli obligasi," ujarnya.

Sebaliknya, Budi Hikmat ingin agar pemerintah tidak terlalu bergantung pada satu atau dua pelaku pasar saja. Dia berpendapat, sebaiknya pemerintah mencari pembeli potensial yang lain—misalnya dana pensiun. Menurut Budi, total duit yang dikelola dana pensiun saat ini mencapai Rp 70 triliun. Budi yakin SUN diminati pengelola dana pensiun karena, selain untung, mereka butuh perangkat investasi yang cukup aman.

Untuk memancing minat investor terhadap SUN, Hindarmojo menganjurkan agar tenor obligasi dibuat pendek. "Idealnya lima tahun atau tujuh tahun," katanya. Alasannya, ketidakpastian kondisi menjelang dan pasca-pemilu tahun depan membuat investor waspada. Kalau toh pemerintah menawarkan obligasi jangka panjang, yield-nya harus di atas 12 persen. Jika tidak, investor bakal memilih obligasi swasta.

Hindarmojo mengaku tak terlalu khawatir atas penalti terhadap Deutsche Bank, karena masih banyak bank dan sekuritas lainnya yang ikut lelang obligasi. Syaratnya, asal yield menarik dan jangka waktunya tak terlalu lama. Beberapa investor tersebut antara lain adalah Schroeder Securities, Danareksa, HSBC, Bank BNI 46, dan BRI.

Bicara tentang daya tarik, Fuad Rahmany enggan menjelaskan yield SUN yang dilelang akhir bulan ini. Katanya, "Maaf, berapa yield-nya, rahasia. Yang jelas, tenornya lebih singkat dari 9 tahun." Mengenai kemungkinan lelang SUN bakal sepi peminat, Fuad cuma menjawab, "Jika tak laku, tak apa-apa. Masih lebih baik dari jualan mangga, jika tak laku bisa busuk." Tetapi, ia tidak berkomentar ketika ditanya ke mana lagi dicari duit triliunan untuk menambal defisit anggaran 2003.

Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data