Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Laporan Khusus

Terluka, tapi Masih Bernyawa

SETAHUN setelah Bom Bali, Jamaah Islamiyah (JI) terluka parah. Di berbagai daerah, polisi telah menangkap lebih dari 200 anggota dan simpatisannya, termasuk para pemimpin puncaknya. Berlusin-lusin sel jaringan JI telah dibongkar. Sejumlah besar amunisi dan bahan peledak sudah disita. Jaringan komunikasi, serta mungkin juga jalur pasokan dananya, pun telah diobrak-abrik. Di tubuh JI sendiri telah muncul konflik serius menyangkut persoalan di mana dan dalam situasi apa mereka boleh mengibarkan bendera jihad, dan soal pemilihan target bagi aksi-aksi mereka.

Tapi JI jelas-jelas masih bernyawa. Dan untuk sementara ini, jaringan itu masih menjadi ancaman bagi kawasan ini, khususnya untuk Indonesia, karena beberapa alasan:

  • Ratusan anggota JI yang mahir menggunakan bom dan senjata api masih buron, dan masih dapat melatih kader baru.

  • Sel-sel JI dapat beraksi independen, bahkan setelah para pemimpin senior mereka ditangkap.

  • Jaringan pendukung JI masih eksis di Indonesia, Filipina Selatan, maupun di wilayah lain seperti di Asia Selatan.

  • Puluhan pengebom bunuh diri telah dilatih dan masih mungkin dikerahkan dalam tingkat pengamanan yang paling ketat sekalipun.

  • Perkembangan di Irak, Afganistan, dan Timur Tengah bisa menjadi dorongan yang tak habis-habisnya bagi proses rekrutmen dan pelatihan JI.

Jumlah orang Indonesia yang terlatih merakit bom ternyata sangatlah menakutkan. Boleh jadi, lebih dari 200 orang telah menjalani pelatihan di akademi militer canggih pimpinan Abdul Rasul Sayyaf, salah satu panglima mujahidin Afganistan yang mendapat dukungan finansial Arab Saudi, di perbatasan Pakistan-Afganistan pada periode 1985-1995. (Sekretaris pribadi Sayyaf adalah Khalid Sheikh Mohammed, dan di kamp-kamp militer semacam inilah pemimpin puncak JI membangun hubungan erat dengan mereka yang kelak menjadi tokoh senior Al-Qaidah).

Dan pelatihan itu tidak berhenti hanya di sana. Saat terjadi pertikaian internal di antara faksi-faksi mujahidin di Afganistan pada 1993-1994, JI memutuskan berpindah ke Mindanao. Pada 1996 akademi militer yang baru didirikan di Mindanao, dan dari situ sekitar 300 warga Indonesia diyakini telah menyandang predikat sebagai ”alumni Moro”. Banyak dari mereka kemudian mendirikan kamp-kamp pelatihan kecil yang beranggotakan 8-15 orang dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Tengah, Kalimantan Timur, atau mungkin juga dari Jawa Tengah, Lampung, dan Lombok Timur. Salah satu pelaku pengeboman Makassar, misalnya, diketahui pernah mengikuti latihan selama satu bulan di sebuah kamp di Luwu Utara, Sulawesi, di bawah gemblengan seorang alumni Moro.

Bahan peledak relatif mudah diperoleh di Indonesia. Ini hasil dari perpaduan bagus antara faktor tersedianya pupuk dalam jumlah yang besar (yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan meracik bom), dan faktor kebocoran di gudang-gudang persenjataan militer. Karena itu, kemungkinan akan semakin banyaknya anggota JI mempraktekkan hasil latihan mereka dalam aksi mematikan masihlah sangat tinggi.

Selain itu, kita mesti menyadari bahwa JI juga telah melatih para pengikutnya memiliki kemampuan menembak. Juga harus kita ingat bahwa Semarang dan Lamongan bukanlah satu-satunya tempat di mana sejumlah senjata api berikut sekian banyak pelurunya pernah ditemukan aparat. Saat rencana pembunuhan Duta Besar Filipina di Jakarta didiskusikan pada tahun 2000, para anggota JI berdebat apakah mereka akan melakukannya dengan cara pengeboman atau penembakan. Mereka akhirnya memutuskan menggunakan bom, dengan pertimbangan dapat meledakkannya dengan remote control, sehingga lebih memudahkan mereka melarikan diri ketimbang jika menggunakan senapan. Fakta bahwa kita belum menyaksikan adanya pembunuhan melalui metode penembakan tidaklah berarti itu tak akan pernah terjadi di Indonesia.

Bom Bali dan Hotel Marriott mempertontonkan hasil karya dari master teknisi JI, Dr. Azahari dari Malaysia, dan Dulmatin dari Indonesia—keduanya pernah berlatih di Afganistan. Namun JI tidak selalu membutuhkan superstar untuk menciptakan bencana. Ini bisa kita lihat dalam, misalnya, operasi pengeboman Makassar: dirancang tidak terlalu profesional tapi tetap saja mematikan, dan dilaksanakan oleh para pelaku hasil gemblengan JI tapi beraksi tanpa berkonsultasi dulu dengan JI.

Penting diingat, otak pengeboman Makassar, Agung Hamid, masih belum dapat dibekuk aparat sampai hari ini. Dan sementara banyak anggota komando pusat JI seperti Hambali, Muchlas, Abu Rusdan, dan Mustopa telah ditahan yang berwajib, sejumlah pimpinan JI lainnya yang tak kalah berpengalaman masih terus berkeliaran di udara bebas. Zulkarnaen alias Aris Sumarsono, komandan operasi militer JI yang berbasis di Solo, merupakan salah satunya.

JI juga masih mempertahankan jaringan pendukung di wilayah-wilayah yang dapat menyediakan tempat persembunyian dan kader baru bagi mereka. Begitu mudahnya Fathur Rohman al-Ghozi kabur dari penjara Manila lalu menghilang di Mindanao, meski pemerintah terus memburunya, menggambarkan dengan jelas seberapa kuat jaringan JI di Filipina. Dukungan serupa juga masih kukuh di Indonesia, dan terdiri dari tiga level.

Tingkat pertama ialah jaringan orang-orang yang secara langsung berhubungan dengan JI, keluarga mereka, kawan, serta sesama alumni Moro dan Afganistan. Level kedua terdiri dari para ustad dan santri di berbagai pesantren dan lembaga lain yang mengajarkan ideologi jihad kaum Salafi yang menyerupai ideologi JI. Tingkat ketiga adalah kelompok yang lebih besar, yang meliputi orang Indonesia yang antipati melihat sikap AS dan sekutunya di Irak, Palestina, dan Afganistan, serta yang melihat perang terhadap terorisme sebagai perang melawan Islam. Orang-orang semacam ini memandang JI dan kelompok militan lain seperti Hamas sebagai kaum lemah yang terpaksa mengangkat senjata untuk menghadapi musuh yang sudah tak bisa lagi dilawan dengan senjata konvensional. Dan sementara mereka sendiri dicekam ketakutan akibat kematian para sopir taksi tak berdosa di Hotel Marriott, mereka menunjuk penderitaan dari lebih banyak lagi penduduk sipil di tangan AS dan Israel.

Kebanyakan mereka yang berpandangan seperti ini tidaklah percaya, atau tidak ingin mengakui, bahwa JI memang nyata-nyata eksis. Tapi di antara mereka yang mempercayainya pun mungkin banyak yang masih bersedia membantu anggota JI melarikan diri dari mahkamah keadilan.

Kita memang tidak tahu secara terperinci tentang proses rekrutmen JI yang sedang berlangsung, tapi sudahlah jelas bahwa jaringan itu terus mencari dan melatih anggota baru. Satu kelompok dari mereka yang telah direkrut diketahui merupakan anggota Jamaah Tabligh, sebuah organisasi yang berbasis di Asia Selatan yang ratusan dari ribuan anggotanya tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Jamaah Tabligh sendiri sebenarnya adalah lembaga dakwah yang dihormati, non-politis, dan menganut paham antikekerasan. Masalahnya, kebanyakan anggotanya rentan terhadap daya tarik rekrutmen JI atau organisasi sejenisnya di Indonesia, Mindanao, dan Pakistan. Enam mahasiswa Indonesia yang ditahan di Karachi mungkin hanya fenomena dari sebuah puncak gunung es. Ada banyak mahasiswa lain yang telah menjadi anggota Jemaah Tabligh dan lalu pergi belajar ke sana, tapi kemudian kembali sebagai anggota JI—beberapa di antaranya masuk melalui Kashmir.

Penjelasan lain kenapa JI masih berbahaya adalah karena jaringan ini merekrut sejumlah pengebom bunuh diri pada saat kekaguman terhadap ”martir” Hamas tengah meluas di Indonesia. Buku dan artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia, yang mengagungkan berbagai aksi bunuh diri itu sebagai perjuangan mempertahankan Islam, dapat dengan mudah ditemukan di toko buku dan berbagai situs di Internet. Pengeboman JI di Bali dan Marriott jelas telah melibatkan para pengebom bunuh diri; demikian juga di Makassar, meskipun ini dimotori oleh organisasi lokal. Para pengebom bunuh diri yang nekat ini mungkin akan lahir lebih banyak lagi, dan mereka hampir-hampir mustahil dihentikan.

Sejauh ini pemerintah Megawati sangat berhati-hati menghadapi masalah JI. Pemerintah telah mendukung berbagai upaya polisi, dan polisi telah menunaikan tugasnya yang luar biasa. Pemerintah juga sudah memastikan bahwa pengadilan para tersangka JI telah digelar dengan transparan—hal yang dapat dipelajari pemerintah AS dari Indonesia. Tapi, masalahnya, pemerintah seperti terus membiarkan berkembang suburnya keraguan orang terhadap eksistensi JI, dan tak cukup berperan aktif meyakinkan publik bahwa JI merupakan organisasi yang nyata-nyata ada, punya kemampuan mematikan, dan sanggup meletupkan lebih banyak malapetaka di negeri ini.

Sidney Jones

Direktur International Crisis Group Indonesia


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data