Hanya Ada Satu Kata: Lawan! |
Pernahkah kita menyelami apa yang diinginkan oleh para pengebom ini? Syahdan, mereka merasa memiliki tujuan dalam hidup. Menata sebuah kehidupan yang ”damai”. Tetapi damai bagi orang-orang ini menjadi sebuah konsep yang paradoks. Damai dan hidup di antara asap mesiu.
Nama-nama seperti Imam Samudra, Amrozi, atau Muchlas, yang sudah divonis hukuman mati karena terbukti menjadi otak pengeboman di Legian, 12 Oktober setahun silam, pada akhirnya menjadi tak terlalu penting. Bahwa sudah ada sekitar 200 orang tersangka kelompok Jamaah Islamiyah—kelompok yang dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh PBB—ternyata masih ada ratusan atau mungkin ribuan orang yang membelah dunia ini menjadi ”kita” dan ”mereka” seperti Imam Samudra.
Bali dibom bukan karena Bali, demikian pengakuan Imam di dalam buku hariannya. Lalu diungkapkan alasan berbagai kekecewaan sejarah yang kemudian menjadi justifikasi pada teror yang akhirnya kita kenal sebagai bagian dari hidup kita di negeri ini. Sejak peristiwa setahun silam, yang sebelumnya sudah didahului oleh serangkaian bom di hari Natal, dan kemudian disusul oleh bom Marriott tahun ini, kita kemudian bertekad dalam doa yang diam: kita tak akan bisa diteror.
|