Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Laporan Khusus

'Karuna' dan Bali yang Menggelepar

Dari kejauhan kampung kecil di Karangasem, Bali, Ibu Gedong Bagoes Okaberkata, "Hiduplah dengan karuna, kasih sayang, dan rasa saling percaya, lalu semuanyaakan mengalir dengan damai." Di Ashram Candi Dasa, pesantren Hindu yang didirikanIbu Gedong pada 1976, para santri sedang berlatih yoga. Ibu Gedong menangkupkankedua tangannya: telunjuk bertemu telunjuk, kelingking bertemu kelingking. Lalu,kidung doa itu lamat-lamat terdengar. Om dyayaouh shantih. Antarikshan shantih.Prithin shantih. (Damai di surga. Damai di langit. Damai di bumi.)

Hanya sebulan setelah bom melumatkan kawasan Legian di Bali, Ibu Gedongwafat dalam usia 81 tahun. Lalu, orang tiba-tiba ingat perempuan kecil yangmenjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan hidupnya itu. Perempuan tua itu menerapkanahimsa (gerakan menentang kekerasan), satya (bertindak dan berkata benar), danbrahmacharya (kesederhanaan) dengan saksama.

Adakah karuna hilang setelah bom Bali meletus? Mungkin tidak. "Tapi bomitu menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat Bali. Mereka terus diajakbermimpi tentang pariwisata yang akan pulih. Kenyataannya, mimpi itu makin pudar,"kata L.K. Suryani, psikiater dan pakar meditasi di Bali.

Para tokoh lalu bicara. Ada yang pesimistis, ada pula yang memandang tragediitu sebagai awal kembalinya adat-istiadat Bali yang selama ini tergadai olehkepentingan pasar. Yang lain: mungkin mengeluh atau sekadar bergumam.

Tapi Ibu Gedong tahu apa yang bisa menenteramkan batin yang gundah,setelah Bali didera nestapa. "Ada saatnya makhluk di bumi yang bernama manusialebih menemukan kedamaian pada desir angin dan percik ombak. Lalu, aksesoriduniawi pun jadi benda-benda yang boleh tak usah ada," kata Ibu Gedong.

Bali pasca-bom adalah Bali yang merindukan sejuta Ibu Gedong.

Agus Bambang Prianto,

kepala sentral parkir Kuta,orang pertama yang mengkoordinasi evakuasi mayat bom Bali

Bom Bali meluluhlantakkan dan hampir saja menjadikan Bali seperti abon. Tapi saya bersyukur keharmonisan di Bali tak rusak. Pada Hari Raya Idul Fitri, tak lama setelah tragedi itu, lapangan tempat salat Ied justru dijaga ratusan pecalang. Seusai salat, kami salam-salaman, berjabat tangan erat.

Made Wianta,

54 tahun, pelukis

Bom Bali menjadi ujian, khususnya bagi pelukis-pelukis muda, apakahmereka akan tetap bertahan di tengah sepinya turis. Apalagi, setelah satutahun, nyaris tak ada kemajuan apa-apa.

Jean Couteau,

58 tahun, pengamat budaya

Bali tetap menarik dengan adat-istiadat dantradisinya. Tapi, adanya pandangan yang sempit dan tertutupdari orang luar akan membuat Bali kehilangan eksotikanya.

Made Wijaya,

50 tahun, seniman

Bali diobral, Bali jadi korban pelacuran budaya. Bali yang mahapengampundikenai musibah yang paling dahsyat. Seluruh dunia menangisi tragedi Bali. Di antarakorban adalah mereka yang tak berdosa.

Prof. Dr. Ngurah Bagus,

70 tahun, budayawan danguru besar Universitas Udayana

Hampir seluruh aspek kehidupan di Bali telanjur bergantung pada industri pariwisata. Maka, ketikabom terjadi, banyak orang kehilangan pekerjaan danlahirlah rasa frustrasi. Jika tak dicari jalan keluarnya,dampaknya akan buruk terhadap kehidupan sosial dan budaya di Bali.

Tapi ada hikmat dari tragedi ini. Kita bisaberintrospeksi bahwa Bali tidak bisa terus-menerusdisandera kepentingan pariwisata yang berorientasi dolar semata.

Abubakar,

59 tahun, seniman

Merenungkan setahun bom Bali, hati saya amat kecut dan semakin kecut.Upaya perbaikan—yang semula tidak saya sangka dampaknya akan begituluas—semakin jauh dari kenyataan. Tidak adatanda-tanda dampak tragedi Bali yang bakal diselesaikan secara serius.Pemerintah hanya bisa ngomong. Pembicaraantentang tragedi Bali kini dibelokkan untuk kepentingan politik menjelang pemilu.

Putu Suasta,

43 tahun, aktivis dan politikus

Bom Bali membuat Bali berubah secara radikal terutama dalam halkemakmuran masyarakatnya. Kita harus mengurangi gaya hidup yang glamor, termasukdalam pelaksanaan tradisi dan upacara adat.

Ngurah Karyadi,

38 tahun, aktivis LSM,mahasiswa pasca-sarjana Universitas Udayana, Denpasar

Bom Bali adalah kekerasan untuk menghancurkan budaya persaudaraandalam perbedaan (tatwam asi) milik orangBali. Masyarakat Bali toleran pada yang lain—pada yanglian, luar, the other. Budaya inilah yang kemudian terusik,misalnya dengan wacana publik tentang perlunya kartu izin penduduk pendatang.

Peter dan Made,

pemilik Warung Made

Terorisme bukanlah hal baru di dunia ini. Di Inggris ada gerilyawan IRA, diSpanyol ada pemberontakan Bask, di Amerika ada tragedi 11 September. Tapi tak pernahada larangan berkunjung (travel ban) disana—sesuatu yang kini terjadi di Bali. Baliadalah tempat yang khusus. Teroris yang pengecut itu tak akan berhasil di Bali.Kebudayaan Bali, keindahan orang-orangnya, jugawisdom agama dan filsafat, tak akan pernah hilang di Bali.

Anak Agung Rai,

50 tahun, seniman, pemilikARMA Museum and Gallery

Bom Bali memberikan guncangan besar pada ekonomi dan budaya Bali. Tapitidak menggoyahkan semangat kebersamaan dan toleransi masyarakat Bali.

Popo Danes,

40 tahun, arsitek

Bom Bali adalah pelajaran sangat mahal. Bahwa pariwisata terkait eratdengan banyak masalah, seperti keamanan, stabilitas nasional, keamanan dunia, jugawabah penyakit. Kita tidak boleh lengah.

Pande Suteja Neka,

64 tahun, pemilik Neka Museum

Bali porak-poranda. Tapi ini kesempatan bagus untuk kita kembalimenemukan spirit seni dan keindahan di Bali yang selama ini seperti hanya dikejar pasar.

Prof. Dr. dr. L.K. Suryani,

psikiater dan pakar meditasi

Bom Bali menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat Bali. Mereka terus diajak bermimpi tentang pariwisata yang akan pulih. Kenyataannya terjadi Perang Irak, wabah SARS, dan ketidakpastian politik. Semuanya membuat mimpi itu semakin pudar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data