Potret Bisnis Wisata Pasca-Bom Bali |
Anjloknya arus wisatawan asing ke Bali pasca-tragedi bom 12 Oktober 2002telah mengakibatkan efek berantai pada perekonomian Pulau Dewata. Efekitu ibarat tetesan air di tempayan. Tetesan pertama akan membuat riak,tetesan berikutnya menjadikan riak itu lebih luas dan seterusnya, hingga riakmerata ke seluruh permukaan tempayan.
UNDP, USAID, dan Bank Dunia dalam publikasinya berjudulBali Beyond the Tragedy. Impact and Challengesfor Tourism-Led Development in Indonesia menampilkan dampak berantai itu,seperti tecermin dalam beberapa data berikut ini.
Kedatangan Wisatawan
Setelah ledakan bom, jumlah turis ke Bali merosot tajam. Penurunannyalebih besar dibanding saat kerusuhan Mei 1998 ataupun tragedi 11September 2001 di Amerika Serikat. Memasuki tahun 2003, aliran turis meningkat,bahkan sempat mendekati angka kedatangan turis tahun 2000. Namun,wabah SARS dan perang di Irak kembali menurunkan jumlah wisatawan yangdatang ke Pulau Dewata.
Tingkat Hunian Hotel
Seiring dengan berkurangnya wisatawan, tingkat hunian hotel punanjlok. Untuk hotel berbintang lima, tingkat hunian menyusut dari 75 persen ke20 persen atau lebih rendah dari itu. Sedangkan tingkat hunian hotelberbintang satu anjlok di bawah 10 persen. Terhitung sejak Desember 2002hingga Maret 2003, tingkat hunian mulai membaik. Tingkat hunian hotelberbintang lima mulai stabil pada angka 40 persen, sedangkan hotel bintang satusampai empat stabil pada level 10-30 persen.
PendapatanPedagang
Para pedagang, baik yang berjualan di kawasan pantai maupun di pasar-pasar, mengalami penurunan keuntungan lebih dari 60 persen pada kurun waktu enam bulan setelah terjadi ledakan bom.
|