Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Laporan Khusus

Rangkaian Pencabut Nyawa

Bom rakitan kelompok Jamaah Islamiyah terbukti memiliki daya ledak luar biasa. Kemampuan mereka melebihi tim Gegana dan Kopassus?

TIM antiteror polisi sempat tercengang-cengang awal-tahun lalu. Ketika itu, Ali Imron, salah satu terdakwa perakit bom Bali yang lalu divonis hukuman penjara seumur hidup, diminta aparat mengidentifikasi bom yang meletup di Wisma Bhayangkara, Markas Besar Kepolisian RI, Jakarta.

Sebentar saja Ali Imron mengamati sisa bom, adik Muchlas dan Amrozi ini (dua terpidana mati Bom Bali) langsung menyimpulkan bom itu bukan rakitan kelompoknya. "Lah, kalau ini sih buatan aparat. Modelnya sudah kuno," katanya seperti ditirukan seorang opsir polisi. Beberapa pekan kemudian, terbukti bom itu memang "hanya" rakitan seorang perwira pertama polisi yang frustrasi.

Dinilai paling kooperatif oleh para penyidik, Ali Imron pulalah yang membeberkan seluk-beluk bom yang meledakkan Kuta. Pada 11 Februari lalu, di depan wartawan, ia bahkan mengaku tersinggung karena ada banyak suara yang meragukan keahlian komplotan Tenggulun merangkai bom. "Kemampuan kami sebagai anak bangsa perlu dibanggakan," ujarnya.

Dari pengakuan Ali Imron, diketahui bom Bali terbuat dari 1.175 kilogram bahan peledak. Senjata maut itu dirakit sekitar dua minggu dan didesain dua ahli bom Jamaah Islamiyah, Dr. Azahari dan Dulmatin.

Ramuan Azahari diyakini sungguh hebat. Dari bahan-bahan kimia yang sederhana, murah, dan mudah dibeli di toko-toko kimia, ia mampu merakit bom dengan karakteristik yang sama dengan bahan peledak konvensional buatan pabrik. Menurut sumber TEMPO di Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian RI, Azahari mampu merakit bom nonkonvensional dari berbagai bahan yang bahkan belum pernah diketahui aparat sebelumnya. "Kemampuan anggota tim Gegana Brimob dan Kopassus saja kalah," kata Kepala Desk Anti-Teror, Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai.

Desain sirkuit pemicu ledakan yang dia ciptakan pun diakui kecanggihannya. "Dia mampu membuat sistem antigagal yang berangkai dan rumit," kata Zulkarnaen Yusuf, dosen Universitas Bhayangkara.

Bom yang meledak di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003 memiliki ciri yang hampir sama dengan bom Bali. Efek ledakannya memang tak sedahsyat bom di Sari Club. Tapi itu karena letupan bom Marriott sempat teredam oleh jebolnya lantai dasar gedung, sehingga mengurangi efek ledakan. Kalau saja bom laknat itu meledak tepat di muka lobi, Marriott diperkirakan bakal rata dengan tanah dan akan lebih bergenang darah ketimbang tragedi Kuta.

Menurut teori, bom high explosive buatan pabrik memiliki efek jauh lebih hebat. Tapi ternyata bom-bom rakitan di Bali dan di Marriott begitu luar biasa, melebihi kedahsyatan bom-bom konvensional.

"Kehebatan" bom Bali ini tak urung memicu spekulasi tentang adanya tangan lain yang ikut mengail di air keruh. Amrozi, misalnya, mengaku tak yakin bom yang menghancurleburkan Legian bersumber hanya dari bahan yang disiapkan kawanannya. Imam Samudra pun memperkirakan teror yang mereka rancang hanya akan menewaskan 5-10 orang.

Soal ini sempat menjadi perdebatan panjang di persidangan. Saksi ahli dari Laboratorium Forensik Polri Cabang Denpasar, Ir. Roedy Aris Tavip Puspito, mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan di lokasi ledakan, tempat kos terdakwa, serpihan mobil, dan tubuh korban, timnya menemukan residu HMX, tetril, nitrat, selain TNT dan RDX.

Keberadaan HMX, tetril, serta nitrat itu lalu dipertanyakan. Soalnya, bahan-bahan itu tak pernah muncul sebelumnya dalam penyidikan. Dalam berita acara pemeriksaan Ali Imron, hanya disebutkan bahwa selain potasium klorat, aluminium bubuk, dan belerang yang dibeli Amrozi, bahan bom Bali hanya terdiri atas TNT. Selebihnya tak ia sebut. Soal RDX baru dimunculkan Ali Imron belakangan.

Penjelasan Ali Imron juga seperti membalikkan pernyataan polisi tentang kehebatan dua master bom, Dulmatin dan Dr. Azahari. "Dr. Azhari justru boleh dibilang murid saya karena saya lebih dulu jadi mujahid di Afganistan," ujar Ali Imron.

Entahlah, siapa di antara kawanan itu yang paling jago merancang maut. Yang penting, sampai saat ini, kebanyakan dari mereka—Abdul Ghoni, Sawad, dan Umar, termasuk Dr. Azahari dan Dulmatin—masih berkeliaran di udara bebas.



Bom Rompi

Lokasi: Paddy's Cafe, Bali

Waktu: 12 Oktober 2003

Bahan:

  • Rompi dari kain parasut hitam, 6 saku (3 depan dan 3 belakang)
  • 6 pipa PVC diameter 1,5 dim, panjang 25 cm
  • 4 kg bubuk TNT dimasukkan ke dalam tiap pipa
  • Tiap pipa dihubungkan dengan detonating cord ke pemicu di saku kanan depan rompi berkekuatan 2 baterai 9 volt
  • Dibawa Dulmatin dari Solo
  • Rangkaian bom rompi dikerjakan Dr. Azahari

    Eksekutor: Feri alias Isa alias Iqbal II

    Bom Kotak

    Lokasi: Konsulat Jenderal AS di Renon, Bali

    Waktu: 12 Oktober 2002

    Wadah: Kotak kue

    Bahan:

  • Kotak diisi 5 kg TNT
  • Detonating cord berupa kabel berisi PETN
  • Detonator dilekatkan dengan sebuah handphone

    Sistem: Diledakkan dengan mengontak handphone

    Eksekutor: Idris

    Bom Mobil

    Lokasi: Depan Sari Club, Bali

    Waktu: 12 Oktober 2002

    Wadah:

  • Mobil Mitsubishi L-300
  • 12 filing cabinet merek Excell, berisi 4 kotak untuk wadah bahan peledak low explosive
  • 1 kotak untuk wadah TNT

    Bahan:
  • Total 1.150 kg
  • Bahan peledak low explosive: 900 kg potasium klorida, 40 kg bubuk aluminium, 100 kg belerang. Bahan dibeli di toko Tidar Kimia, Surabaya, dicampur menjadi bubuk hitam oleh Abdul Goni, Umar Patek, dan Sawad alias Sarjiyo, pada 25 September-2 Oktober 2002. Bubuk hitam diisikan ke masing-masing kotak.
  • 25 kg TNT (trinitrotoluene) sebagai booster. Dimasukkan ke dalam sebuah kotak filing cabinet. Diletakkan di sisi kanan rangkaian filing cabinet. Bahan dibawa Abdul Ghoni dari Ambon.


    Detonator: 48 buah, berisi RDX (research development explosive). Disiapkan Dr. Azahari dan Dulmatin. Berada di setiap kotak filing cabinet.

    Detonating cord (kabel untuk mentransmisikan gelombang ledakan):
  • Berisi PETN (pentaerythritol tetranitrate)
  • Panjang 150 meter

    Firing device (perangkat listrik pemicu ledakan):
  • Dikerjakan Dulmatin dan Dr. Azahari.
  • Sumber daya 10 baterai 9 volt
  • Dilengkapi 4 tombol pemicu ledakan:

    1. 1 tombol untuk mengaktifkan pemicu berbentuk remote (dilengkapi
      handphone)
    2. 1 tombol pemicu timer (dilengkapi jam)
    3. 1 tombol pemicu langsung (jika on langsung meledak)
    4. 1 tombol pembuka tutup kotak firing device (jika penutup kotak terbuka, bom meledak)



    Eksekutor: Arnasan alias Acong alias Iqbal I

    Bom Marriott

    Lokasi: Hotel JW Marriott, Jakarta

    Waktu: 5 Agustus 2003, pukul 12.40

    Wadah:

  • Toyota Kijang B-7462-ZN
  • 6 jeriken Acetic Glacial warna biru
  • 1 jeriken minyak tanah
  • 1 tabung Aqua galon

    Bahan:
  • Bahan peledak low explosive, terdiri atas campuran KClO3 (potasium klorat), belerang, dan alumunium seberat 150-200 kg
  • Bahan peledak high explosive 20 kg bubuk TNT
  • Minyak tanah 20-30 liter

    Detonating cord:
  • Kabel berisi PETN, panjang sekitar 10-15 meter

    Firing device:
  • Sumber daya: 5 beterai 9 volt merek Hi Watt buatan India
  • Detonator dilekatkan ke sebuah handy-talkie.

    Sistem: Meski ada pemicu berbentuk remote control (HT), diduga meledak karena sistem rem tangan

    Eksekutor: Asmar Latin Sani


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data