Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Laporan Khusus

Surga di Pelupuk Mata

Keraguan akan keberadaan Jamaah Islamiyah mulai terkikis. Tapi benarkah mereka bukan korban rekayasa?

TRAUMA sulit diobati, apalagi trauma politik. Masa dua-tiga dasawarsa belum cukup menyembuhkan luka-lukanya. Itulah yang dialami umat Islam Indonesia. Gara-gara puluhan tahun ditindas Orde Baru dengan rekayasa intelijen dan operasi militer, segala isu yang terkait dengan kelompok Islam senantiasa dicurigai sebagai bagian dari upaya pemberangusan aspirasi umat Islam.

Rasa tak percaya pun meruyaki benak kaum muslimin ketika Jamaah Islamiyah (JI) disebut "kelompok teroris". Apalagi kelompok ini dituding terlibat serangkaian pengeboman di berbagai tempat di Indonesia: peledakan gereja di malam Natal 2000, bom di Kuta, dan yang terakhir bom di Hotel JW Marriott di Jakarta.

"Binatang apa itu Jamaah Islamiyah? Saya ingin bukti dulu!" kata Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, M. Syafi'i Ma'arif, kepada TEMPO akhir bulan lalu. Ia tak yakin JI sungguh ada. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Muzadi, pun ragu. "Ada atau tidak, hanya orang intel yang tahu," ujarnya. Jika dua pemimpin ormas Islam terbesar itu saja ragu, yang lain pun samma.

Selama ini, bagi kaum muslim di Indonesia, "jamaah Islamiyah" identik dengan "umat Islam". Apalagi nama tadi belum pernah muncul dalam perjuangan umat Islam di Indonesia. Karena itu, ketika ia muncul dalam konotasi miring, sebagian tokoh Islam bereaksi keras. Bermunculanlah dugaan bahwa terminologi baru JI sebagai organisasi Islam hanya rekayasa intelijen untuk mendiskreditkan umat—kecurigaan yang bisa dimaklumi. Sebab, dari pengalaman sejarah, rekayasa dan stigmatisasi sejenis lazim di masa Orde Baru. Dalangnya? Siapa lagi kalau bukan pemerintah Orba yang militeristis.

Misalnya berita tentang gerakan Islam semacam Jamaah Imran, Jamaah Warsidi, Komando Jihad, massa perusuh dalam Peristiwa Malari, peristiwa Cicendo dan Tanjung Priok. Setelah dirunut, kemunculan dan kegiatan mereka yang berakar pada gerakan NII (Negara Islam Indonesia) pasca-pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo bermula dari operasi intelijen di bawah kendali Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) saat itu, Ali Moertopo.

Agen-agen Bakin yang ditanam di beberapa faksi DI/TII memang sering "dipakai" untuk urusan kontra-intelijen. Mereka biasanya dimanfaatkan untuk mematangkan situasi, agar aparat bisa segera menggebuk mereka yang dibidik begitu muncul ke permukaan. Pengakuan Haji Ismail Pranoto alias Hispran, pemimpin Komando Jihad, di pengadilan pada 1980-an, paling spektakuler. Kata dia, aksi Komando Jihad atas persetujuan Ali Moertopo. Karena itu, ia meminta pengadilan menghadirkan sang jenderal. Sayang, sebelum itu terjadi, Ali tewas secara misterius.

Tapi itu dulu. Kini, keberadaan kelompok JI tampak lebih serius. Berbagai dokumen, laporan intelijen, hasil investigasi dan berita acara pemeriksaan para tangkapan kasus bom Bali dan lainnya mengungkap fakta keberadaan JI. Yang terpenting adalah dokumen Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah (PUPJI) dari Majelis Qiyadah Markaziyah al-Jamaah al-Islamiyah (Majelis Pimpinan Pusat JI). PUPJI berisi prinsip dasar gerakan penegakan agama (Ushulul manhaj al-harakiy li iqamatud-dien), prinsip perjuangan, pedoman operasi (al-manhaj al-amaly), aturan dasar organisasi (nidhom asasi), kaderisasi, dan pembinaan organisasi.

Menurut temuan The International Crisis Group (ICG), JI didirikan almarhum Abdullah Sungkar di Malaysia sekitar 1995. Ia dibantu Abu Bakar Ba'asyir, sesama buron rezim Soeharto gara-gara menolak asas tunggal. Meski bersendikan para bekas aktivis NII, JI menemukan bentuknya sendiri dengan mengadopsi pemikiran Islam dari Timur Tengah.

Semula, Sungkar tokoh NII. Ia rekan seperjuangan Ajengan Masduki, tokoh DI/TII pasca-Kartosuwiryo. Tapi, menurut bekas aktivis NII Umar Abduh, pertikaian terjadi. Masduki dinilai menyelewengkan ajaran NII karena bekerja sama dengan NII faksi Adah Jaelani-Abu Toto, binaan Ali Moertopo. Keluar dari NII, 1994, tahun berikutnya Sungkar mendirikan JI.

Perang Afganistan sangat mempengaruhi JI. NII memang juga menerapkan perjuangan bersenjata, tapi paham mereka cenderung Sufistik dan mengenal periodisasi gerakan (periode Mekah-Madinah). Ini mempengaruhi penerapan syariah. "Di sana, saya mendapat banyak perubahan cara berpikir," kata Imam Samudra. "Saya banyak mendapat kebenaran dari dia," katanya tentang Dr. Abdur-Rabbi-Rasul Sayyaf, salah satu tokoh yang mempengaruhi JI.

Menurut Imam, mujahidin Arablah yang mengarahkan fitrah Islam mereka. Medan keras Afganistan mengubah pemahaman mereka menjadi Salafi. Uniknya, meski sama Salafi, JI berbeda dengan Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah pimpinan Ja'far Umar Thalib. Sama pernah berjihad di Afganistan, kedua grup ini bisa saling mencela.

Menurut Mustofa alias Pranata Yudha, anggota JI yang ke Afganistan atau Filipina Selatan untuk berlatih kemiliteran juga mempelajari soal agama. Ia alumni Afganistan angkatan II bersama Muchlas dan sekitar 30 lainnya. Anak seorang jenderal TNI AD—menurut temuan ICG—ini juga bertemu Sayyaf. Sebagai instruktur, di sana ia selalu berkoordinasi dengan lelaki berjanggut lebat itu dalam mengatur latihan militer mujahidin Indonesia.

Persidangan kasus bom Bali mengungkap cukup banyak perihal JI. Misalnya pengakuan Mohammad Nasir Abbas. Tampil selalu saksi perkara Muchlas, 23 Juli lalu, ia menguraikan tujuan JI. "Selain mencari keridhaan Allah SWT, (juga) untuk mendirikan negara Islam," ujarnya. Menurut kakak ipar Muchlas yang tertangkap di Poso ini, JI adalah organisasi rahasia, yang anggotanya tak saling tahu. Namun warga negara Malaysia itu memerinci struktur organisasi JI. Pemimpin tertingginya disebut Amir—yang saat ini dipegang Ba'asyir sebagai pengganti Sungkar. Tapi, karena Ba'asyir sedang ditahan, ia digantikan Abu Rusydan. Amir harus mengetahui segala tindakan anggota JI.

Tapi, kata seorang tersangka yang ditahan polisi, penggantian itu karena Ba'asyir kurang radikal. Apalagi ia mendirikan organisasi baru bernama Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Akhirnya ia dikudeta. Samudra adalah penentang paling keras Ba'asyir. "Tak mengherankan, saat ditanya, ia mengatakan pemikiran Ba'asyir sudah ketinggalan zaman," ujarnya.

Semula, polisi menduga MMI organisasi payung dan JI organisasi rahasianya (tandzim sirri), seperti disebut di PUPJI. Tapi seorang peserta kudeta itu membantahnya. Ketua Tanfidz MMI, Irfan S. Awwas, juga menyangkal kaitan MMI dengan JI. "Tak ada hubungan," ujarnya.

JI sering berapat, termasuk yang rutin enam bulanan dan dihadiri para ketua mantiqi. Di antaranya tiga kali rapat di Puncak, Bogor, dan Tawangmangu, Solo, yang dipimpin Abu Rusydan. Tapi, kata Nasir, dalam rapat sebelum dan sesudah bom Bali itu tidak dibahas soal bom Bali.

Nasir pun mengenal para pelaku bom Bali seperti Imam Samudra. Ini karena mereka sama belajar di sebuah akademi militer di Pakistan. Tapi, menurut dia, aksi bom Bali tak diatur dalam PUPJI. "Bom Bali tidak dilakukan JI secara organisatoris. Tapi oleh orang-orang yang juga anggota JI," ujarnya. Instruksi pimpinan JI tentang aksi bom Bali pun tak ada.

Kini keterlibatan para anggota JI dalam bom Bali tak lagi meragukan. Imam Samudra, Ali Imron, dan Amrozi telah mengakui. Tapi benarkah sifat-sifat kemanusiaan mereka telah lenyap? Mungkinkah radikalisasi dan rekayasa intelijen berulang lagi tanpa mereka sadari? Sebab, pasca-Perang Afganistan, tak ada berita tentang aksi mereka. Baru ketika konflik Ambon dan Poso memanas, semangat jihad mereka mendidih lagi.

Kecurigaan juga muncul dalam laporan ICG saat membahas keterkaitan Gerakan Aceh Merdeka dengan JI. Soalnya, Fauzi Hasbi Geudong, pembelot GAM yang sering mengontaki JI, adalah informan TNI. "Ia menganggap Hambali putranya sendiri," tulis ICG. Umar al-Faruq, warga Kuwait yang diciduk BIN lalu diserahkan ke AS tahun lalu, juga dikenalnya baik. "Dia pernah tidur di rumah saya tiga malam," ujarnya sebulan sebelum ia diculik dan dibunuh polisi di Ambon, Februari silam.

Imam, tangan kanan Fauzi, juga mengaku dua kali menemani Fauzi dan Hambali ke markas BIN di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Kali pertama, hanya Fauzi yang menghadap pejabat BIN, sementara Hambali menunggu di mobil bersamanya. "Yang kedua, Hambali ikut turun menghadap pejabat itu," ujarnya.

Namun seorang bekas pejabat BIN meragukan cerita Imam. Meski mengakui Fauzi sering "dipakai" aparat intelijen sejak 1980-an, ia mengatakan lelaki itu tak bisa dipegang buntutnya. "Ini mah kadal besar," ujarnya. Menurut agen utama intelijen ini, BIN sering dibuat pusing gara-gara Fauzi me-mark up proyek dan menipu bekas Kepala Bakin Arie J. Kumaat dan Kepala BIN A.M. Hendropriyono.

Namun, Imam Samudra sendiri seolah tak peduli akan semua dugaan itu. Ia tetap merasa langkahnya benar. Karena surga sudah di pelupuk matanya, ia siap menerima segala risiko dari tindak kekerasannya. Vonis mati atas dirinya pun sia-sia. "Ini cuma setitik debu bagi para mujahid yang sedang berjuang di luar," ujarnya. Sorot mata tajam.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data