Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXII/13 - 19 Oktober 2003
   
Daftar berita Laporan Khusus
Surga di Pelupuk Mata
Keraguan akan keberadaan Jamaah Islamiyah mulai terkikis. Tapi benarkah mereka bukan korban rekayasa?  
Bara Dendam dalam Dentuman Zigoyar
Di penjara, Imam Samudra menulis memoar. Amerika menjadi musuh abadi. Inilah sebagian kutipan memoar terpidana yang dihukum mati.  
Balada Sabri Setahun Kemudian
Tragedi Legian memukul sendi kehidupan di Tanah Dewata. Dari ledakan anak yang tak mampu bersekolah hingga kesenian tradisi yang diobral murah.  
Cak, Cak, Cak..., Tunggu 'After' Pemilu
Kelompok-kelompok barong dan kecak mencoba bertahan pada masa sulit. Kepada TEMPO mereka bercerita tentang kontrasnya keadaan pra dan pasca-bom Bali.  
Pudarnya Sebuah Harapan
 
Badai Belum Berlalu
 
Hanya Ada Satu Kata: Lawan!
 
Terluka, tapi Masih Bernyawa
 
Teror di Hadapan Kita
Aksi maut jaringan Jamaah Islamiyah masih mungkin berlanjut. Apa sasaran mereka setelah Bali dan Marriott?  
Jaring-Jaring Jamaah Pengebom
 
Rentetan Dugaan Bom Jaringan Islamiyah (2000-2003)
 
Rangkaian Pencabut Nyawa
Bom rakitan kelompok Jamaah Islamiyah terbukti memiliki daya ledak luar biasa. Kemampuan mereka melebihi tim Gegana dan Kopassus? 
Jenderal Laskar Istimata
Zulkarnaen, panglima militer Jamaah Islamiyah, masih tak tersentuh aparat. Alumni Afganistan angkatan pertama ini dikenal sebagai ahli taktik tempur. 
'Si Genius' dari Comal
Dulmatin dianggap sebagai teroris lokal paling berbahaya setelah Dr. Azahari dari Malaysia. Masih ada kemungkinan beraksi.  
Doktor Elmaut dari Johor
Keahlian Dr. Azahari meracik bom hampir tanpa tanding. Benarkah dia kini menggantikan Hambali?  
Lima Paspor, Satu Al-Ghozi
Dia dituding sebagai petugas penghubung bawah tanah Jamaah Islamiyah di Filipina. Juga otak perencanaan peledakan bom di Singapura.  
”Demi Allah, Tak Akan Selesai”
 
 
 
Satu Ton Bom di Kios Sandal
Polisi membongkar jaringan Mustofa di Semarang berikut hampir seton amunisi. Sel di Jawa Tengah mematok target hingga 2025.  
MEKAR di tanah Jiran
Kaderisasi Jamaah Islamiyah tumbuh subur di Malaysia. Mereka punya dana serta sejumlah tokoh yang belum tersentuh.  
Jaringan Terorisme di Indonesia
 
Dana ’halal’ untuk aksi terlarang
Untuk membiayai aksi-aksi pengeboman, para teroris menghabiskan dana miliaran rupiah. Uang itu dikelola sangat ketat sehingga keluarga terdekat pun tidak tahu-menahu.  
Mereka yang Lolos dan Bertahan
Bertarung melawan rasa sakit, trauma, depresi, kesedihan, serta ketakutan yang berkepanjangan, para korban yang lolos dari bom Bali dan Marriott berupaya keras menapaki kembali kehidupan normal. Di Bali, Jakarta, dan Australia, sebagian besar dari mereka kini berada. Bagaimana kondisi mereka kini? Dan bagaimana proses kesembuhan jiwa raga itu terjadi?  
Yang Melegakan dari Denpasar
Kecuali Ali Imron, semua pelaku utama peledakan bom Bali dihukum mati. Jaksa dan hakim pun menuai pujian.  
 
Bali, Sebuah 'Perusahaan' Milik Dunia
 
Musim Semi, dengan Catatan
Meskipun mulai pulih, masa depan industri wisata Bali rentan gejolak. Beberapa resep yang bisa menyelamatkannya.  
Potret Bisnis Wisata Pasca-Bom Bali
 
Pesta untuk Kalangan Terbatas
Hotel dan restoran mewah mulai menjala dolar, tapi akomodasi kelas menengah tetap lumpuh.  
Patah tumbuh karena turis
Pelbagai usaha kecil yang bermekaran sebelum ledakan bom Bali kini berguguran. Yang bertahan adalah mereka yang tidak melulu menunggu pesanan turis asing.  
Bertahan dengan Menjemput Bola
Sejumlah pengusaha Bali mampu bertahan di tengah krisis akibat bom Bali. Mereka menerapkan strategi menjemput bola dan pengetatan ikat pinggang.  
Bali Setelah Tragedi
 
Menuju Bali dari Dua Jurusan
 
Seperti Kapsul Pecah di Mulut
 
Mereka datang dari jauh. Mereka bergaul, bergelut, lalu jatuh cinta dengan ikatan yang lebih tangguh dari tanah leluhur. 
Longsornya Bisnis Tanah
Bisnis tanah dan properti di Bali mandek setelah tragedi bom 12 Oktober.  
'Karuna' dan Bali yang Menggelepar
 
Dari Shrimp Sanur Beach Market ke Santa Fe
 
Sepotong Surga tanpa Pagar
Pengamanan Bali pasca-bom ternyata tak ketat. Polisi mengaku tak punya banyak dana.  
Demi Keamanan Bikini
Setelah pengeboman, banjar jadi pilihan alat pengamanan Kuta. Di sana ada satgas pantai, pecalang, dan pemuda desa.  
Sekolah pun Semakin Sepi
Dalam dua tahun terakhir, angka putus sekolah di Bali amat tinggi. Alasannya seragam: orang tua tak sanggup membiayainya.  

 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data