|
Surga di Pelupuk Mata
Keraguan akan keberadaan Jamaah Islamiyah mulai terkikis. Tapi benarkah mereka bukan korban rekayasa?
|
|
Bara Dendam dalam Dentuman Zigoyar
Di penjara, Imam Samudra menulis memoar. Amerika menjadi musuh abadi. Inilah sebagian kutipan memoar terpidana yang dihukum mati.
|
|
Balada Sabri Setahun Kemudian
Tragedi Legian memukul sendi kehidupan di Tanah Dewata. Dari ledakan anak yang tak mampu bersekolah hingga kesenian tradisi yang diobral murah.
|
|
Cak, Cak, Cak..., Tunggu 'After' Pemilu
Kelompok-kelompok barong dan kecak mencoba bertahan pada masa sulit. Kepada TEMPO mereka bercerita tentang kontrasnya keadaan pra dan pasca-bom Bali.
|
|
Pudarnya Sebuah Harapan
|
|
Badai Belum Berlalu
|
|
Hanya Ada Satu Kata: Lawan!
|
|
Terluka, tapi Masih Bernyawa
|
|
Teror di Hadapan Kita
Aksi maut jaringan Jamaah Islamiyah masih mungkin berlanjut. Apa sasaran mereka setelah Bali dan Marriott?
|
|
Jaring-Jaring Jamaah Pengebom
|
|
Rentetan Dugaan Bom Jaringan Islamiyah (2000-2003)
|
|
Rangkaian Pencabut Nyawa
Bom rakitan kelompok Jamaah Islamiyah terbukti memiliki daya ledak luar biasa. Kemampuan mereka melebihi tim Gegana dan Kopassus?
|
|
Jenderal Laskar Istimata
Zulkarnaen, panglima militer Jamaah Islamiyah, masih tak tersentuh aparat. Alumni Afganistan angkatan pertama ini dikenal sebagai ahli taktik tempur.
|
|
'Si Genius' dari Comal
Dulmatin dianggap sebagai teroris lokal paling berbahaya setelah Dr. Azahari dari Malaysia. Masih ada kemungkinan beraksi.
|
|
Doktor Elmaut dari Johor
Keahlian Dr. Azahari meracik bom hampir tanpa tanding. Benarkah dia kini menggantikan Hambali?
|
|
Lima Paspor, Satu Al-Ghozi
Dia dituding sebagai petugas penghubung bawah tanah Jamaah Islamiyah di Filipina. Juga otak perencanaan peledakan bom di Singapura.
|
|
”Demi Allah, Tak Akan Selesai”
|
|
|
|
|
|
Satu Ton Bom di Kios Sandal
Polisi membongkar jaringan Mustofa di Semarang berikut hampir seton amunisi. Sel di Jawa Tengah mematok target hingga 2025.
|
|
MEKAR di tanah Jiran
Kaderisasi Jamaah Islamiyah tumbuh subur di Malaysia. Mereka punya dana serta sejumlah tokoh yang belum tersentuh.
|
|
Jaringan Terorisme di Indonesia
|
|
Dana ’halal’ untuk aksi terlarang
Untuk membiayai aksi-aksi pengeboman, para teroris menghabiskan dana miliaran rupiah. Uang itu dikelola sangat ketat sehingga keluarga terdekat pun tidak tahu-menahu.
|
|
Mereka yang Lolos dan Bertahan
Bertarung melawan rasa sakit, trauma, depresi, kesedihan, serta ketakutan yang berkepanjangan, para korban yang lolos dari bom Bali dan Marriott berupaya keras menapaki kembali kehidupan normal. Di Bali, Jakarta, dan Australia, sebagian besar dari mereka kini berada. Bagaimana kondisi mereka kini? Dan bagaimana proses kesembuhan jiwa raga itu terjadi?
|
|
Yang Melegakan dari Denpasar
Kecuali Ali Imron, semua pelaku utama peledakan bom Bali dihukum mati. Jaksa dan hakim pun menuai pujian.
|
|
|
|
Bali, Sebuah 'Perusahaan' Milik Dunia
|
|
Musim Semi, dengan Catatan
Meskipun mulai pulih, masa depan industri wisata Bali rentan gejolak. Beberapa resep yang bisa menyelamatkannya.
|
|
Potret Bisnis Wisata Pasca-Bom Bali
|
|
Pesta untuk Kalangan Terbatas
Hotel dan restoran mewah mulai menjala dolar, tapi akomodasi kelas menengah tetap lumpuh.
|
|
Patah tumbuh karena turis
Pelbagai usaha kecil yang bermekaran sebelum ledakan bom Bali kini berguguran. Yang bertahan adalah mereka yang tidak melulu menunggu pesanan turis asing.
|
|
Bertahan dengan Menjemput Bola
Sejumlah pengusaha Bali mampu bertahan di tengah krisis akibat bom Bali. Mereka menerapkan strategi menjemput bola dan pengetatan ikat pinggang.
|
|
Bali Setelah Tragedi
|
|
Menuju Bali dari Dua Jurusan
|
|
Seperti Kapsul Pecah di Mulut
|
|
Mereka datang dari jauh. Mereka bergaul, bergelut, lalu jatuh cinta dengan ikatan yang lebih tangguh dari tanah leluhur.
|
|
Longsornya Bisnis Tanah
Bisnis tanah dan properti di Bali mandek setelah tragedi bom 12 Oktober.
|
|
'Karuna' dan Bali yang Menggelepar
|
|
Dari Shrimp Sanur Beach Market ke Santa Fe
|
|
Sepotong Surga tanpa Pagar
Pengamanan Bali pasca-bom ternyata tak ketat. Polisi mengaku tak punya banyak dana.
|
|
Demi Keamanan Bikini
Setelah pengeboman, banjar jadi pilihan alat pengamanan Kuta. Di sana ada satgas pantai, pecalang, dan pemuda desa.
|
|
Sekolah pun Semakin Sepi
Dalam dua tahun terakhir, angka putus sekolah di Bali amat tinggi. Alasannya seragam: orang tua tak sanggup membiayainya.
|