|
Singapura tengah merancang chip elektronik yang bisa mendeteksi dengan mudah jenis penyakit pernapasan seperti flu, demam berdarah, dan sindrom infeksi saluran pernapasan akut (SARS). Lembaga milik pemerintah, Genome Institute of Singapore, akan meluncurkan chip seukuran uang logam 50 sen itu awal Januari tahun depan.
Alat itu bekerja dengan mendeteksi ingus atau lendir hidung orang yang terinfeksi. Caranya, ingus dijatuhkan ke chip, kemudian alat deteksi chip akan menelusuri dan mendiagnosisnya. Genome Institute mengungkapkan, untuk menguji keandalan chip itu, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan alat kesehatan terkemuka asal Amerika Serikat.
"Pasien yang mengidap flu, demam berdarah, atau SARS menunjukkan gejala serupa pada tahap awalnya. Chip ini akan mengetes semua gejala itu, sekaligus mengidentifikasinya. Dokter akan mendapat gambaran yang jelas sejak awal," kata Ren Ee Chee, Deputi Direktur Genome Institute.
Virus SARS, yang mulanya ditemukan di bagian selatan Cina awal tahun ini, menelan korban 800 jiwa di seluruh dunia—33 orang di antaranya berasal dari Singapura. Ahli kesehatan dunia berkali-kali memperingatkan, virus itu bisa kembali lagi di belahan utara bumi pada bulan-bulan musim dingin.
Titah Mesin Penyedot Debu
Sebuah mesin yang bisa berbicara akan mengakhiri pertengkaran panjang yang bisa melelahkan antara pemilik suatu peralatan dan petugas di pusat pengaduan. Kemampuan itu berasal dari motor ultracepat yang dirancang khusus untuk mencerdaskan peralatan rumah tangga seperti mesin penyedot debu dan mesin cuci. Penemunya, James Dyson, memaparkan teknologi itu kepada jurnal New Scientist Report dan Discovery Channel, Inggris.
Dengan mesin itu, kata Dyson, jika ada masalah, pemilik tak perlu menjelaskan identitas diri, tempat membeli mesin, serta apa kerusakannya. Ia cukup memegang gagang telepon dan mendekatkannya ke mesin itu. Dari dalam mesin tersebut akan ada "pembicara" yang bekerja seperti modem komputer. Pembicara itulah yang menuturkan segala keluhan. Mirip proses diagnosis, petugas pusat pengaduan akan memberikan saran-saran perbaikan. "Dengan teknologi ini, kita cukup menekan tombol on dan meletakkan gagang telepon," papar Dyson.
Para teknisi di pabrik milik Dyson di Malmesbury, Wiltshire, Inggris, telah enam tahun merancang motor itu. Ini bagian dari proyek pembuatan mesin peralatan rumah tangga yang lebih kuat dan bekerja cepat. Diberi nama X020, motor rancangan Dyson bisa berputar dengan kecepatan maksimal sekitar 100 ribu putaran per menit (rpm) atau empat kali lebih cepat ketimbang motor mesin konvensional—juga lebih cepat ketimbang mesin mobil balap Formula 1. Dengan motor baru itu, mesin pengisap debu bisa menambah daya isap hingga 33 persennya.
Melihat dengan Telinga
Peter Meijer, ilmuwan senior dari Research Laboratories Belanda, baru-baru ini menciptakan "telepon genggam kamera" untuk membantu kaum tunanetra. Meijer menamai sistem itu The vOICe. Tiga huruf tengahnya kependekan dari "Oh, I see" ("Oh, saya melihat").
Sistem itu bekerja dengan menerjemahkan gambar yang ditangkap kamera menjadi getaran suara. Suara itu kemudian ditransmisikan kepada pengguna melalui headphone. Perlengkapannya terdiri atas kamera yang terpasang di kepala, headphone stereo, dan sebuah komputer personal notebook.
Meijer bekerja atas dasar keyakinan pada daya adaptasi otak. Para tunanetra, katanya, bisa belajar secara mental untuk merekonstruksi materi yang dilihat langsung oleh kamera. "Asumsi kita, otak itu tidak tertarik pada pembawa informasi, tapi hanya tertarik pada muatan informasinya," ujar Meijer. Lagi pula, menurut dia, sinyal pada saraf optik orang yang berpenglihatan normal pun hanyalah pola yang terbaca jaringan saraf. Apa yang orang lihat adalah apa yang otak tangkap tentang pola itu.
Michelle Thomas, yang buta sejak lahir, kini sedang mencoba memanfaatkan temuan itu. Ia belajar melihat tidak dengan mata, tapi dengan telinganya. Baru seminggu memakai The vOICe, Thomas bisa mengenali dinding dan pintu rumahnya. Ia pun bisa membedakan lampu menyala dengan yang padam. "Segala sesuatu memiliki keunikan suaranya masing-masing. Sekali Anda mempelajari prinsip-prinsipnya, Anda akan mengetahui apa yang Anda lihat," ujar Thomas, seperti dikutip BBC News.
Meski tak bisa melacak kecepatan mobil atau membaca tulisan kecil secara efisien, The vOICe membantu pemakainya menjejak bangunan, membaca grafik, bahkan melihat televisi. Membandingkan dengan kesulitan belajar bahasa asing, Meijer berpendapat, dengan terus berlatih, pengguna The vOICe bisa lebih fasih dalam melakukan penerjemahan mental. Pengguna bisa mengalami penglihatan alami tanpa harus bersusah payah. Demi selera pemakai, Blue Edge Bulgaria telah menyederhanakan bentuk The vOICe menjadi mirip telepon genggam Nokia 3650.
|